berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Senyum dan Memberi, Bahasa Universal yang Abadi

Jika kita pergi haji atau umroh, maka kebanyakan pengunjung yang akan kita temui menggunakan bahasa arab. Mungkin karena transportasi bagi mereka juga lebih mudah, banyak yang lewat perjalanan darat. Hanya beberapa dari mereka yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, selain bahasa arab. Biasanya, dari tampilan sudah agak bisa ditebak. Kalau yang masih muda, bisa lah diajak berbicara dengan bahasa Inggris campur arab. Kalau yang tua, ya arab full.

Berhubung kemampuan bahasa arab saya sangat terbatas, terpatah-patah, arabnya arab pati nggenah (ampun dah), biasanya saya akan mulai menyapa dengan bahasa arab. standar saja: min aina anti?, masmuki?, … lama2 saya nanya: hal tatakallam bil lughotil injilisiyah? atau langsung tembak saja: do you speak english? Kalau dia menggeleng, ya terpaksa saya lebih banyak menjadi pendengar dari pada berbicara. Asal jangan cepat-cepat ngomongnya, cukup bisa ย saya mengerti. Tapi kalau saya yang harus aktif berbicara, mati kutu dah, miskin kosa kata nih. Atau kadang saya nekat, tetap saya jawab dalam bahasa inggris, meskipun dia bertanya dalam bahasa arab ๐Ÿ˜€

Tentu, perbincangan akan menjadi asyik kalau dia juga lancar berbahasa inggris, sehingga komunikasi mixed dengan bahasa arab campur inggris. Huhuhu ini murni kealpaan saya yang nggak lancar-lancar juga bahasa arabnya. Pelafalan bahasa inggris orang arab pun agak aneh di telinga, sampai bolak-balik saya harus nanya lagi, “keif?”

Nah, yang paling puyeng kalau ketemu orang Turki yang rata-rata gak bisa bahasa arab atau inggris. Murni bahasa turki doang. Dengernya kaya bahasa panoramix bikin ramuan untuk obelix, ehehe. Atau ketemu orang India, yang kebanyakan juga hanya bisa bahasa India saja. Meski mereka bersemangat sekali untuk mengajak bicara. Tapi ya… au ah, meregehese, meneketehe ๐Ÿ˜€

Dalam kondisi seperti itu, ternyata yang paling mujarab lalu adalah bahasa tarzan, bahasa isyarat. Jadi, ada kalanya bahasa verbal itu sama sekali nggak efektif. Sama-sama nggak mudhengnya. Mending pakai bahasa anggota tubuh saja lah.
Nah, salah satu bahasa isyarat yang bisa dilakukan dan ternyata sangat efektif, adalah menyapa dengan senyuman, lalu ‘memberi’.

Mau ngasih apa emang, lha wong duit sangu juga terbatas? Memberi kan tidak harus dalam bentuk uang. Banyak hal yang bisa dilakukan setelah senyuman sebagai awal sapaan. Mengambilkan segelas air zamzam (tinggal modal ngambil ke gentong zam-zam di pinggir-pinggir masjid), menuntun jemaah yang sepuh untuk mencari shaf sholat yang berebutan, membantu mereka para ibu sepuh (terutama arab dan turki) yang badannya melar sekali sehingga harus sholat di kursi dengan mencarikan kursi, atau membantu mereka untuk sekedar berdiri dari duduknya, atau berbagi sajadah dengan menggelarnya ke samping. Banyak hal yang bisa dilakukan, yang lalu akan mampu jadi pengikat hati.

Contohnya ibu sepuh india ini. Sewaktu dia celingukan cari kursi, saya coba mencari kursi ke pojok-pojok. Sewaktu saya datang bawa kursi, tampak wajahnya sumringah. Dia ngomong dalam bahasa india dengan cepat, yang saya sama sekali nggak tahu artinya. Namun, diakhiri dengan kedua tangan tertangkup di dada. Nah, itu saya tahu. Artinya dia senang, sayang, atau semacam itu. Saya balas saja dengan menunjukkan kedua tangan saya kepadanya, dilanjutkan menangkupkan kedua tangan di dada. Itu artinya: uhibbuki fillah. Saya juga sayang padamu, nek… karena Allah.

Image
Lalu si nenek (yang baju merah), mengajak saya dan ibu mertua mengaji sambil menunggu datangnya waktu isya. Berhubung waktu itu malam Jumat, elha si nenek agak memaksa supaya kami membaca surat yasin, waqiah dan arrahman saja, “Jumah. yasiin, waqiah, rahman”, sambil menunjukkan Quran di tangannya yang sudah terbuka pas di surat yasin. Saya dan ibu manggut-manggut senyum saja, karena punya target tilawah sendiri.

Jadi, memang bahasa yang paling universal antar manusia, bukanlah bahasa verbal, tapi senyuman, dan pemberian. Mereka yang awalnya tak peduli atau bahkan cenderung untuk merebut shaf pun, akan tersentuh dengan bahasa hati semacam ini. Tak peduli dia berasal dari suku atau bangsa apa, berpendidikan atau tidak, tak ada yang mampu mengalahkan bahasa hati yang datang dari ketulusan.
Sungguh ini sesuai dengan hadist nabi, bahwa ‘tabassuma fii wajhi akhiika sodaqoh’, senyum kpada saudara itu adalah sedeqah. Juga hadist nabi yang lain, ‘tahaddu tahabbu‘, saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai.

Iklan

2 comments on “Senyum dan Memberi, Bahasa Universal yang Abadi

  1. Hidayah Sulistyowati
    Mei 17, 2014

    Berbagi memang menyenangkan hati. Yang mudah dan bisa dilakukan pun, akan membawa kebahagiaan bagi yang memberi dan menerimanya.
    Seperti berbagi kisah ini mbak, sangat inspriratif ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 9, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: