berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Nyaris Gagal Umroh

P1100871

Allah, berkahi umur kami, ijinkan kami untuk kembali lagi mengunjungi rumahMu, lain kali

Hari Minggu, 27 April. Seusai mengajar dari pagi hingga siangnya, dilanjutkan dengan mengisi kajian ibu-ibu muda di sekitar rumah, sore itu aku berniat menyicil tugas kuliah. Sebentar lagi aku, suami dan ibu mertua akan pergi umroh, yang dijadwalkan Senin malam jam 20.30 besok. Jadi, masih ada waktu untuk menyicil tugas. Besok juga rencana aku akan kuliah dulu, sayang kalau mbolos. Toh suami juga berencana ngantor dulu meski cuma setengah hari. Rencana kami akan ke bandara besok setelah sholat ashar.

Senja mulai membayang. Adnin anakku request, malam ini makan di luar saja, sebelum pada pergi jauh. Okelah. Ketak-ketik agak lama di depan kompi, tahu-tahu adzan maghrib berkumandang. Nah lo, padahal aku lupa belum mandi. Baru nyamber handuk, ada dering telpon di hape suami. Nomor tak dikenal. Sedang ayahnya sudah berangkat ke masjid. Aku termasuk yang kurang respek dengan orang yang menelpon di waktu adzan tiba, “Tuh, Nin. Masak magrib begini nelpon. Gak sopan itu. Biarin aja lah ntar ayah yang ngecek siapa yang nelpon. Ibu gak mau angkat, ” kata saya pada Adnin.

Etapi itu dering telpon pantang menyerah, diulang terus sampai 3 kali meskipun gak diangkat juga. Aku mulai berpikir, jangan-jangan ini ada berita penting. Akhirnya kuangkat, “Bu, ini pak R****, pak Zuba mana?” (ternyata telpon dari owner travel yang akan mengurus kami umroh).
“Di masjid pak, sholat maghrib”
“Belum jalan?”
“Jalan ke mana pak?”
“Ya ke bandara. Yang lainnya sudah pada ngumpul kok ibu dan pak zuba belum kelihatan?”
“Lho kan Senin malam pak terbangnya? Kata pak Zuba Senin jam 5 ditunggu di bandara. Ini saya malah baru mau mandi terus mau makan di luar sama anak-anak”, jawab saya, masih tenang.
“Innalillahi. Ahad sore Buuuu. Malam ini terbang. Bukan Senin. Saya sudah bbm pak zuba berkali-kali kok”
“Hah??? Begitu pak? Kok saya gak tahu. Aduh gimana ini,” Mendadak aku panik, mules rasanya, masih antara percaya dan tidak.
“Iya bu. Pak Zuba mana? Segera beri tahu ya. Aduh kok masih pada di rumah”, pak R menjawab dengan panik juga.

Kututup telpon, langsung memberitahu ibu mertua bahwa keberangkatan umroh ternyata malam ini juga, bukan besok malam. Beliau jadi ikut panik. Tapi untunglah, ibu sudah packing cukup rapi, tinggal beberapa item yang belum masuk. Koper suami pun sudah tampak ada isinya meski belum full. Lha aku? Mules beneran inih, karena koperku masih kosong melompong! Seperti biasa jika akan pergi, tadinya aku memilih packing di malam terakhir sebelum berangkat, biar sekali kerja sekalian beres. Artinya malam itu baru mau packing, untuk besok. Tapi, ternyataa, walah-walah, harus packing kilat bin mendadak.
Setelah sholat magrib (tanpa mandi), aku packing seperti dikejar hantu. Main masuk-masukin saja ke koper, gak pakai ditata lagi. Packing untuk trip ke luar negri hampir 2 minggu, dalam waktu 10 menit saja. Syananana. Untungnya sudah biasa pergi mendadak, jadi sudah cukup hapal item-item yang harus dibawa.

Karena ayahnya belum pulang juga dari masjid, aku makin khawatir. Jangan-jangan ngaji nih di masjid, pengajian malam Senin untuk bapak-bapak. Kuminta Adnin untuk menyusul ayahnya. Baru saja dia akan membuka pintu, ayahnya datang. Tak sabar, aku langsung memberondong tanya, “Mas, barusan pak R telpon, katanya terbangnya malam ini, bukan Senin. Bener Mas? Kata Pak R sudah bbm Mamas berkali-kali kok.”
“Masak sih?”, kata ayahnya, dengan gaya tenangnya seperti biasa.
“Ya gak tahu, coba cek aja di bb ayah,” sambil aku melanjutkan packing ala kadarnya. Packing paling semrawut yang pernah kulakukan. Isi koper kayak urapan 😀

Ayah meraih bb nya, “Masha Allah, iya ternyata Ahad sore disuruh ngumpulnya. Kenapa ayah mikirnya Senin sore terus ya?”
Ayah langsung menelpon balik pak R, dan baru yakin, “Bisa nyampai kesini jam 19.30 gak pak Zuba? Boardingnya jam 19.50” kudengar suara pak R.
“Diusahakan pak, kami segera berangkat,” jawab suamiku. Olalaaa, padahal saat itu sudah jam 18.30, dan perjalanan ke bandara itu biasanya paling cepat dua jam! Tapi ya gimana, usaha dulu lah.
“Ya sudah, cepat ayo kita segera berangkat. Sudah siap packingnya?” Ayah mulai packing juga, menambahkan yang kurang di kopernya. Namun dia dengan tenang juga masih sempat mandi super kilat, sambil menungguku packing mondar-mandir gak keruan. Aku antara panik dan geli, ini bagaimana perjalanan sepenting ini kok bisa nggak ngeh jadwal?
Adnin dan Hibban, 2 anakku yang ada di rumah, juga tampak terbengong-bengong. Gimana ini ceritanya mau makmal bersama di luar untuk farewell party,  kok malah pada panik dan mendadak harus pergi malam itu juga?

Lima menit kemudian, kami siap di mobil. Serba terburu-buru, dan yakin banyak item yang belum masuk koper. Tapi biarin lah, yang penting segera jalan ke bandara. Kalau dari hitung-hitungan waktu, rasanya hopeless untuk bisa mengejar pesawat yang terbangnya jam 20.30, sementara kami keluar rumah baru jam 19.00.  Sedang ini minggu malam, cukup banyak yang keluar di jalanan menggunakan mobilnya. Mobil disetir sendiri oleh ayah, sambil membawa Fathan, anak angkat yang tinggal dirumah, untuk nanti membawa mobil itu pulang.  Di dalam mobil, aku dan ibu hanya bisa banyak berdoa. Semoga belum terlambat ya Allah. Berikanlah keajaiban, karena kami benar-benar berniat untuk beribadah. Mudahkan ya Allah, mudahkan…

Selama di mobil, kami juga menyempatkan untuk banyak berpesan ke Fathan, menyangkut urusan rumah yang akan ditinggal, karena tadi juga tak sempat menitipkan pesan ke orang rumah. Ada beberapa baju yang baru dibeli dan belum sempat dibawa, ada hape yang ketinggalan, dan banyak juga benda-benda lain yang ketinggalan. Biarlah, yang penting tidak terlambat. Kami juga meninggalkan pesan kepada orang-orang yang teringat di kepala. Aku ijin ke teman kuliah karena tiba-tiba besok sudah gak bisa kuliah. Ayahnya juga ijin ke kantor karena cutinya baru terhitung Selasa. Ayah juga sempat izin pada bapak-bapak sekitar rumah yang rencananya akan dia isi mengaji malam itu ba’da isya. Semua diakhiri dengan pesan singkat, “Mohon doanya semoga kami tidak ketinggalan pesawat”.

Dalam kondisi begini, aku sangat bersyukur, ayah bukan tipe laki-laki yang cepat panik. Dia masih bisa menyetir sendiri dengan tenang, tapi fokus ngebut. Hingga di jalan tol pun jalanan bergelombang kami terjang saja. Tentu aku atau ibu juga tak mungkin ngedumel karena ayah lupa soal jadwal terbang ini. Tidak menyelesaikan masalah sama sekali toh? Lebih baik khusyuk berdoa saja.

Sepanjang perjalanan, beberapa kali pak R mengecek lewat telpon, kami sudah sampai mana. Karena suami nyetir, telpon saya ambil. Supaya suami juga lebih fokus nyetir. Aku menjawab dengan berusaha optimis, “Sudah mau keluar tol Pak” (huhu, padahal itu pintu tolnya juga masih jauhhh belum kelihatan).
“Bisa cepat sedikit bu, ini jam 19.50, sudah boarding”, kata suara di ujung sana. Aduh makin panik aja, karena kami baru masuk pintu keluar tol.
Agak lama baru kujawab,”Ya pak, sudah keluar tol, semoga terkejar”, lalu kulanjutkan komat-kamit lagi. “Ya Allah, mudahkan, mudahkan…, jangan Engkau kecewakan kami”.

Setelah itu, keluar dari tol malah agak tersendat karena banyak mobil masuk arah bandara. Suami sampai terpikir untuk minta dicarikan tiket pesawat lain ke Kuala Lumpur, karena pesawat dari KL ke Jeddah toh baru terbang jam 02.00. Namun pak R menyatakan masih menunggu, dan sudah di check in kan. Suami bahkan sempat berpikir untuk menelpon petugas patroli (karena ayah juga bekerja di customs bandara), untuk menahan terbang pesawat barang 10 menit. “Ah, tapi arogan bener. Gak usahlah. Bismillah semoga masoh rezeki”.

Tiba di bandara, begitu turun mobil kunci mobil langsung diserahkan ke Fathan, lalu kami bertiga langsung berlari menuju gate, sambil membawa 3 koper besar dan backpack. Berlariiii, bukan lagi berjalan cepat. Menyeret 3 koper besar dan 2 tas jinjing. Di meja check in ternyata sudah gak mau terima bagasi lagi, sudah sangat terlambat. Jadi koper harus kami bawa sampai di bawah pesawat, “Kuala Lumpur ya? Kenapa terlambat sekali? Sudah mau terbang pak. Cepat”, kata petugasnya. .
Ibu yang sudah sepuh pun terpaksa kuajak setengah berlari, karena waktu boarding juga sudah mau habis. Hampir semua penumpang sudah masuk pesawat, kecuali para penumpang dari teman-teman setravel yang masih menunggu kami dengan cemas, di batas pintu boarding. Saat melihat kami bertiga datang dengan terengah-engah, mereka tampak lega, “Alhamdulillah, nyampek juga”.

Kami bertiga, tentu jauh lebih lega. Subhanallah, bersyukur tiada tara, hal yang tampak tidak mungkin, menjadi mungkin dengan kuasa-Nya. Bayangkan, hanya 1 jam perjalanan super ngebut, yang biasanya harus ditempuh minimal 2 jam. Hanya sempat packing 10 menit, dalam kondisi panikun alaihim stadium 4! *tepok jidat*

Begitu tahu bahwa kami masih bisa naik pesawat, suami merangkulku dan ibu, sambil berujar, “Alhamdulillah, rezeki dari Allah. Semoga ini hikmahnya karena kita selalu berusaha memudahkan orang, sehingga pada saat kondisi terjepit begini juga Allah mudahkan”.

Ah, bahagia tak terkira rasanya. Apalagi ternyata seat pesawat menuju Jeddah banyak yang kosong untuk rombongan kami, sehingga ibu yang sempat terengah-engah berlari lalu bisa tidur nyenyak memanfaatkan 3 bangku kosong.

P1100648

3 bangku kosong, nyaman untuk tidur

Allah, terima kasih, kami masih diberi kesempatan berangkat menuju rumahMu. Sudah 8-10 tahun yang lalu kami tak kesana ya Allah, kami rindu (Aku berhaji tahun 2006, sedang suami dan ibu berhaji tahun 2004)

Esok harinya, kami sampai di Jeddah, lalu berlanjut perjalanan darat ke Madinah. Hal pertama yang kulakukan tentunya adalah: mandi 😀
Setelah itu, salah satu sahabatku bbm, “Bu, aku mau kirim sarung tangan pagi ini untuk ibu bawa umroh. Berangkatnya nanti sore kan?”
Tertawa geli aku membaca bbm nya, dan kubalas, “Nggak usah mbak, aku sudah di Madinah” 😀

P1100740

Menjelang pelaksanaan umrah, di hotel

Iklan

12 comments on “Nyaris Gagal Umroh

  1. Travel Umroh Jakarta
    Mei 8, 2014

    Perjalanan umroh yang luar biasa ….

  2. dwi wulandari
    Mei 8, 2014

    Subhanallah ibuk……cerita yg menegangkan tapi berakhir meenyenangkan. Ak selalu suka baca tulisan2 ibuk mukti……. sangat inspiratif dan penuh semangat. Sy suka cara ibukmendidik mujahid2 kecilnya,semangat ibuk menuntut ilmu,ketabahan ibukkehilangan dek fahrin (afwan ibuk kalo mengingatkan pd adek yg manis ini) pokokke semuanya dech. Pengen bisa spt ibuk tp apaya mungkin ya buk,,,,,,,,paling tidak ak pengen mendidik putra2ku mjd pecinta Al Qur’an agar bisa hafidz spt mb hurin dan dek adnin. Salam kenal dan sayang dari sy sekekuarga ya ibuk,doain sy smg bisa jd ibu hebat spt ibu muktia.aamiin with lope

    • muktiberbagi
      Mei 8, 2014

      alhamdulillah, wa syukrillah. salam sayang juga dari kami sekeuarga untuk keluarga bu dwi

  3. Riski Fitriasari
    Mei 9, 2014

    Saya selalu berdecak kagum dan selalu IRI (yg baik ya) ketika membaca cerita teman-teman yang umroh atau haji, muka mereka yg bersinar2 dan bercahaya ketika bercerita itu membuat saya ingiiiiiiiin sekali bisa menyusul jejak mereka. T_T

  4. ida nur Laila
    Mei 10, 2014

    Alhamdulillah mak…ikut deg-degan….semoga umrahnya mabrur.amiin

  5. ummiabhisalsabila
    Mei 11, 2014

    Memang sudah rezeki, meski ada ujian tapi ujian terlalui yang disertai mengingat pemberi Rezeki..Semoga kami segera terundang juga 🙂

  6. Ping-balik: Umroh, Atau Haji Dulu? | berbagi cinta & makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 8, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: