berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Surga untuk Sabarmu, Bu

Gambar

“Salah satu adab dalam mengelola keuangan di rumah tangga itu adalah selalu berkomunikasi pada suami soal pengeluaran dan pendapatan. Minta izin, apalagi jika memang itu nafkah yang diberikan. Semoga dengan komunikasi yang sehat, akan menjadi berkah rumah tangga kita, ” ulasanku pagi itu, di hadapan beberapa puluh ibu yang menyimak sesi parenting tentang manajemen keuangan rumah tangga Islami.

Seusai acara, seorang ibu mendekati dan berbisik, “Bu, saya mau tanya tapi gak mau kalau di depan banyak orang”
“Kenapa bu?”
“Saya gak pernah izin ke suami soal pengeluaran di rumah tangga saya”
“Lho kenapa?”
“Suami saya… pemarah bu, gampang bertindak kasar. Selama ini saya juga yang mencari penghasilan untuk keluarga”

“Oh begitu. Selalu marah-marah begitu bu? Atau mungkin ada waktunya beliau bisa diajak bicara baik-baik?”
“Tidak bu. Selalu marah-marah. Jadi lebih baik tidak saya bicarakan, supaya kami tidak bertengkar. Suami saya… sakit jiwa bu”
Astaghfirullah! Meski suara ibu itu pelan, tapi saya seperti disambar gledeg rasanya.

“Sakit jiwa? Ibu yakin betul?”
“Yakin bu. Sampai sekarang juga masih harus rutin ke psikiatri dan minum obat kok, bu”
Allahu, ya Salaam… Ibu ini luar biasa!
“Dia marah-marah saja, atau kadang mengamuk bu?”
“Lebih seringnya ya begitu bu, mengamuk. Makanya saya memilih banyak diam. Takut jadi ramai”
“Maaf bu, sejak kapan beliau sakit?”
“Sudah lama, sejak sebelum kami menikah bu”
“Hah? Tapi ibu tahu bahwa suami sakit sejak kapan?”
“Iya saya juga baru tahu setelah menikah bu. Itu teman saya yang nyariin. Saya tidak diberitahu sebelumnya. Tahu-tahu setelah menikah, kok saya lihat orang tuanya selalu mengingatkan dia untuk minum obat”
Masha Allah, tergetar hati saya mendengarkan penuturannya.

Dia menyambung ceritanya, “Tapi saya menganggap ini sudah jadi taqdir saya Bu, Tidak apa-apa. Yang penting anak-anak dapat tumbuh sehat dan bisa sekolah lalu kuliah dengan baik”
Ibu, betapa mulia hatimu. Tak terbayangkan jika saya sendiri yang mengalami hal ini, apakah akan bisa bersikap sabar sepertimu?
“Berapa putranya bu?”
“Anak saya 2 bu, perempuan semua. Yang satu sudah SMA, yang kecil masih SD. Alhamdulillah, mereka selalu ranking di sekolahnya. Yang gede nanti pengin kuliah di UNJ, mau jadi psikolog seperti ibu. Doakan saya ya bu, bisa menguliahkan mereka sampai tamat”
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, menahan haru. Dengan kondisi yang demikian, dia masih memiliki impian yang tinggi untuk masa depan anak-anaknya. Bertahan dalam rumah tangga yang sebenarnya menuntut dia menjadi ‘single fighter’, tetapi dia kerjakan semuanya dengan ikhlas.

“Lalu, bagaimana ibu nyukupin kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anak bu?”
“Apa saja bu, asal halal. Saya terima jahitan. Dulu belajar kursus sebentar karena saya harus punya penghasilan, Saya juga jualan, apa saja lah yang bisa dijual. Serabutan bu, tapi Alhamdulillah ada saja jalannya”
Ibu yang hebat!
“Oh, kalau begitu kapan-kapan, boleh saya menjahitkan baju ke ibu ya? Bisa model apa saja? Blazer juga bisa?”
“Bisa bu, insya Allah. Saya juga lagi merintis mau bikin koperasi sama teman-teman bu, isinya nyediain barang-barang rumah tangga yang kami produksi sendiri. Ini saya bawa contohnya bu, sabun cuci piring produksi kelompok kami”

Dia menyodorkan sebuah tas plastik berisi beberapa botol kemasan sabun cuci piring cair. Segera saya membelinya satu. Saya jadi semakin merasa tidak berarti di depan ibu ini. Di tengah ujian yang menderanya, dia masih tegak berdiri, terus maju tanpa menyalahkan siapa-siapa.
“Bagus itu bu rencanannya. Semoga koperasinya segera berdiri ya, untuk dapat memakmurkan anggota-anggotanya bu”
Kalimat klise yang akhirnya keluar dari lisan ini, karena tidak tahu mesti bicara apa lagi.
“Amiiin bu. Tapi kembali ke soal yang tadi bu. Kasus saya itu bagaimana, kalau gak pernah ijin ke suami soal pengelolaan harta di rumah tangga kami? Saya takut Allah murka, dan jadi nggak berkah”

Kali ini, saya tidak dapat menahan lagi. Bulir-bulir bening mendadak turun mengaliri pipi. Kugenggam erat tangannya, sambil susah payah berkata, “Ibu, yang saya sampaikan tadi adalah kaidah umum. Tentu jika ada hal khusus yang terjadi, bisa ditinjau lagi. Sama seperti jaman sahabat yang saya ceritakan tadi, saat tertangkap seorang pencuri. Saat tahu bahwa pencuri tersebut mencuri karena sudah berhari-hari tidak makan, maka oleh khalifah yang dipanggil dan dianggap bersalah adalah tetangga-tetangganya, bukan maling tadi. Kasus ibu juga kasus khusus, yang memang tidak memungkinkan bagi ibu untuk berkomunikasi sewajarnya dengan suami. Insya Allah nggak papa bu”

Terlihat pancaran kelegaan di matanya.
Duh ibu, bahkan saya sendiri heran, betapa takutnya dirimu tentang ketidakberkahan, sementara di luar sana banyak ibu-ibu lain yang menganggap gampang.
“Jadi, gakpapa ya bu? Alhamdulillah”
“Gakpapa bu, apa yang ibu alami sekarang, jika ibu terus bersabar, insya Allah menjadi ladang pahala yang besar bu”
“Amiiin amiin, terima kasih bu, sekalian saya mau pamit pulang. Mau menjemput anak ke sekolah.”

Kuantarkan dia ke gerbang pintu gedung itu. Lalu kulihat dia mengeluarkan kendaraannya di jejeran parkiran. Sepeda motor? Ah, bukan. Tapi sepeda tanggung butut yang belakangnya ada boncengan. Sebuah anomali dari kemewahan yang banyak dihambur-hamburkan di sekitarnya, di pusat ibukota.
Melihatnya mengayuh sepeda itu menjauh, bulir bening kembali mengaliri pipiku. Subhanallah, dengan sabarmu, insya Allah surga bagimu, ibu. Surga bagimu 🙂

Iklan

13 comments on “Surga untuk Sabarmu, Bu

  1. Junaida Yahya
    Maret 31, 2014

    Subhanallah..menangis membacanya bu..ketabahan dan kesabaran yg luar biasa..Smg Allah selalu memberi kemudahan bagi ibu itu..jd ingin ikut beli..

  2. Johar
    Juli 23, 2014

    Kok namaku disebut2 kenapa yooo mba

    • muktiberbagi
      Agustus 20, 2014

      wakakak, itu kan nama jalan yg sudah ada sejak sebelum kamu lahir 😛

  3. suria riza
    September 4, 2014

    Nangis bacanya…..:”)

    Makasi untuk sharingnya :”)
    Aku jadi malu sama diri sendiri yg masihsuka ngambek sama suami ttg pengelura :”(

    • muktiberbagi
      September 4, 2014

      kalau ketemu si ibu bakal lebih haru lagi mak suria. semoga ada hikmahnya yaa

  4. aritharifa
    September 15, 2014

    Jd pembelajaran banget buat sy..

  5. Tyaz Honest Queene
    Oktober 6, 2015

    subhanalloh…ibu yg keren….ukh…bolehkan saya bertanya….bagaimana jika pengeluaran saya tidak pernah saya sampaikan pada suami…tp itu uang hasil kerja saya sendiri…mohon jawabannya ya ukh

    • muktiberbagi
      Oktober 29, 2015

      Boleh bu uang hasil kerja kita disimpan utk kita sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 31, 2014 by in inspirasi, parenting and tagged .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: