berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

IBU BEKERJA bukan vs IBU RUMAH TANGGA

Ini merupakan tulisan yang sudah lama saya rencanakan, tapi tertunda terus karena berbagai kesibukan. Tulisan yang lahir karena saya miris dengan saling tuding-menuding. Ini paling baik, itu tidak! Padahal keduanya adalah pilihan.

Sebelum masuk ke hal yang lebih serius, mari sejenak bayangkan dunia ini tanpa ibu-ibu yang mau bekerja di sektor publik. Nggak ada dokter kandungan perempuan, yang ada laki-laki atau dokter yang masih gadis. Nggak ada ibu guru, yang ada pak guru atau bu guru yang masih muda-muda. Nggak ada pembantu rumah tangga perempuan (yang sekedar menyuci nyetrika lalu pulang), karena mereka rerata juga adalah ibu. Nggak ada pedagang perempuan, kecuali yang masih gadis-gadis seusia SPG-SPG itu. Nggak ada psikolog perempuan, konsulnya dengan bapak-bapak psikolog aja. Nggak ada bidan perempuan yang senior, melahirkan pun dengan bidan muda yang baru lulus, atau dokter SpOG yang laki-laki.

Ini memang ekstrim banget ya. Sampai ada yang gemes bilang ke saya, “Sekalian aja dibilang, andai tak ada laki-laki di dunia ini!“. Hoho. Tetapi, kadang, kita perlu berpikir ekstrim untuk melihat, bahwa harmoni kehidupan itu ada justru karena keragaman. Ada ibu yang bekerja, ada ibu yang tak bekerja. Tak ada siapa yang lebih baik dari siapa, kecuali siapa yang paling banyak amalnya. Masing-masing ada peluang dan ada ancamannya. Ibu bekerja relatif sedikit memiliki waktu dengan anak. Namun, ibu di rumah pun tak otomatis lebih baik, karena bisa jadi tidak bekerja di luar tetapi juga belum sepenuhnya perform dalam mengasuh anak, atau sibuk dengan hal lain, termasuk menjadi sosialita, atau bersosmed ria, meskipun di dalam rumah.
Jadi mari, saling bersinergi, bukan saling menghakimi πŸ™‚

Gambar

Memang kadang terlihat bahwa rumput tetangga lebih hijau. Ibu bekerja (Working Mom, WM) tetaplah ibu, yang juga ingin selalu dekat dengan anak-anaknya. Namun kondisi tiap orang tak sama. Ibu di rumah (Full Time Mother, FTM) pun, juga adalah pilihan, yang kadang tak semua orang memiliki peluang. Dalam keseharian, ibu di rumah kadang juga menginginkan waktu yang tenang, ‘me time’ lebih banyak, tak melulu disibukkan urusan anak-anak. Ibu bekerja kadang iri pada ibu di rumah , ibu di rumah kadang iri pada ibu bekerja. Ini normal saja. tanda bahwa saling cinta πŸ™‚

Pada tiap rumah tangga, banyak latar belakang yang melahirkan sebuah keputusan. Ada yang suaminya di-PHK, ada yang suaminya tiba-tiba invalid dan tak mampu bekerja. Ada juga ibu yang harus menyantuni dua orang tuanya yang makin renta, sedang penghasilan dari suami tak cukup untuk itu semua. Dan ada pula yang bekerja karena keberadaannya dibutuhkan oleh kaumnya, ibu-ibu dan anak-anak lain. Sepanjang semua bukan sekedar ‘asal bekerja’, berniat membantu sesama, bukankah itu mulia?

Sedang jenis pekerjaan yang lalu mampu dilakukan, tentu tak semua sesuai keinginan. Tak semua ibu bisa mendapatkan penghasilan dengan cara persis seperti apa yang diimpikan. Tapi demi membantu sesama, apa yang di depan mata, itulah cara Allah mengantarkan rizki padanya. Lha opo kantore/juragane mbahe, bisa milih kerjaan sakpenake dhewe? Lantas sepanjang itu halal, kenapa diperdebatkan?

Gambar

Ada kisah menarik yang ingin saya ceritakan. Tentang bu A, ART yang biasa bekerja di rumah saya setiap harinya lebih kurang 3 jam untuk mencuci, menyetrika & memasak; pekan lalu minta diri. Dia mendapatkan tawaran untuk bekerja full time di tetangga, tentu dengan gaji berlipat. Tawaran itu dia ambil, karena dia memikirkan keinginan anaknya yang sebentar lagi lulus SMA, ingin kuliah. Sementara dia berhitung dari penghasilannya dan penghasilan suaminya yang tukang bubur ayam, belum mencukupi untuk itu. Padahal saya tahu, fisik ibu ini sebenarnya agak lemah, sering sakit kalau kecapekan. Tapi dia nekad menerima tawaran itu, agar anaknya nanti bisa kuliah. Lalu, ART ini akan digantikan seorang ibu B, yang baru datang dari kampungnya di Jawa Tengah. Suaminya stroke, sedang anak-anak tetap butuh makan dan sekolah.

Jika bisa memilih, mungkin para ibu lebih senang untuk mengelola uang pemberian suami, dan mengelola sebuah usaha yg dapat dikelola dari rumah. Tetapi, kesempatan dan peluang tidak berlaku seragam pada tiap orang. Maka apa yang dilakukan ibu A dan B, juga banyak ibu bekerja lainnya, adalah justru wujud MENCINTAI anak-anaknya, wujud tanggung jawabnya pada keluarga.

Bekerja, adalah satu sarana mencintai anak-anak, dengan cara yang tak harus sama. Pahala tetap tercurah karenanya, sebagaimana ibu yang stay di rumah menemani anak-anaknya sepanjang waktu. Kecuali kalau ada ibu bekerja, karena hanya tak betah di rumah saja, hanya untuk pergaulan, atau gengsi semata. Nah yang seperti ini, biar Allah yang menghitung niatnya πŸ™‚

Gambar

Lalu, jika memang memilih sebagai ibu bekerja, bersiap-siaplah untuk menjadi ibu yang tidak biasa. Berkurang jadwal tidur kita, juga perlu ketahanan fisik di atas rata-rata, serta mental baja. Salah satu sendi yang utama, tentu adalah keridhaan suami belahan jiwa. Jika kerja tanpa seizinnya, jatuhnya tetap dosa. Dibutuhkan komunikasi dan sinergi dengan suami yang sangat intens, agar ibu bekerja dapat menjalankan amanahnya di rumah maupun di tempat kerja dengan baik.

Saat ibu pulang kerja, bukan berarti saatnya melepas penat seharian. Karena sejak di pagar rumah pun, anak-anak berebut minta perhatian. Pun nanti saat suami datang, tetap harus disambut dengan senyuman. Ibu bekerja harus mampu memilih ‘tombol mental‘ yang pas sesuai kondisi dia berada, sektor domestikkah, atau sektor publikkah.

Seorang ibu bekerja, perlu memastikan bahwa sektor domestik bisa dikendalikan dengan baik, sebelum kakinya melangkah ke sektor publik. Jika sektor domestik belum mampu ditangani dengan baik, maka mungkin kita perlu memikirkan ulang, tentang jenis pekerjaan yang lebih mungkin kita lakukan. Karena jika memaksakan diri, ada pihak-pihak yang akan terzalimi, dan kedua sisi (domestik-publik) tidak berjalan optimal. Sedang idealnya adalah kita bisa fokus, optimal saat di rumah, juga optimal saat di tempat kerja. Bukan sebaliknya, di rumah memikirkan pekerjaan, di tempat kerja memikirkan rumah. Sa’atan wa sa’atan, masing-masing ada saatnya, dan itu perlu manajemen yang baik. Memang tak mudah, namun harus diasah. Jika memang sulit, maka tak perlu memaksakan diri. Kita masih bisa mencari peluang untuk tetap beraktivitas dan bekerja, tanpa perlu banyak meninggalkan rumah.

Gambar

Sekarang, saya ingin bahas ibu bekerja berkaitan dengan keselarasan antara sektor domestik (keluarga), sektor publik (pekerjaan) dan sektor langit (bekal agama). Jadi, ada tiga sektor yang harus kita dudukkan, mana yang lebih utama: sektor domestik, sektor publik, sektor langit. Maka, jika ada benturan diantara ketiganya yang tak bisa lagi disiasati, semoga kita tak salah memilih skala prioritas. Dua yang utama adalah sektor langit dan sektor domestik, sedangkan yang satu, sektor publik, sejatinya hanya pilihan, opsional, yang tidak boleh mengorbankan dua sektor sebelumnya.

Seorang ibu bekerja, harus final dulu pemahamannya tentang ini. Apalagi kalau dia memiliki tuntutan/kewajiban untuk berkiprah sebagai salah satu unsur penggerak dakwah. No excuse. Inilah yang saya maksudkan di atas, bahwa ibu bekerja perlu memiliki mental baja, jadwal rehat yang lebih sedikit dari rerata ibu biasa. Jika akhirnya sektor langit dan sektor domestik keteteran karena urusan sektor publik, sesungguhnya, kita belum terlalu siap mental untuk terjun di sektor publik.

Maka sungguh saya tak habis pikir, kalau ada ibu yang bekerja full time di luar rumah, lalu sabtu ahad pun tidak mau disibukkan dengan sektor langit dengan alasan, “Capek ah, saatnya istrahat“, atau “Maaf ya, tapi akhir pekan adalah family time bagi saya“. Lebih saya tidak habis pikir lagi, jika ada suami yang membolehkan istrinya bekerja setiap hari, tetapi justru melarang istrinya jika sabtu/ahad pergi berdakwah atau mengaji.

Mari kita berpikir sejenak. Bukankah ibu bekerja mau repot-repot keluar rumah untuk mencari ‘bekal’ yang secara ekonomis akan membantu biaya dalam keluarga? Memastikan bahwa pendidikan anak-anak terjamin, asupan gizi juga tercukupi, dan itu semua butuh uang, lalu seorang ibu memutuskan untuk membantu suaminya dengan bekerja juga.
Lalu, bukankah sektor langit juga sejatinya juga upaya mengumpulkan bekal, yang justru lebih abadi impact-nya dari sekedar bekal ekonomi? Jadi mestinya, justru karena kita sayang pada keluarga lah, dan tetap ingin terus bersama mereka meski nanti ajal memisahkan antar anggota keluarga, maka kita harus mengutamakan sektor langit. Karena dengan hanya mencari bekal untuk sektor langit lah, yang mampu memberikan jaminan bahwa keluarga ini akan tetap utuh meski secara jasad telah terpisahkan.

Nah, lalu kalau saking sibuknya dengan sektor publik, lalu sektor langit hanya menunggu sisa waktu luang, atau menunggu mood datang, barangkali saatnya kita untuk berhenti sejenak. Memikirkan ulang tentang hakikat kehidupan diri yang sejati: Apa yang sesungguhnya kita cari? Benarkah suasana seperti itu yang kita ingini?

‘Perhentian sejenak’ seperti ini memang perlu sering dilakukan, supaya naluri kita tak mati rasa, dan kita seolah-olah menjadi robot pekerja, yang tahu-tahu sudah tua dimakan usia. Sia-sia umur kita berbilang tahun, tanpa bekal yang berarti untuk keluarga. Padahal, niat awal kita bekerja, juga adalah demi cinta pada keluarga.

Gambar

Pada ibu bekerja, juga ada saatnya untuk ‘berubah pikiran’, mengkaji ulang, sesuai keadaan. Seorang teman kuliah saya, di suatu sekolah kedinasan yang tomboy pwol, setelah lulus bekerja dan berkeluarga bertahun-tahun, memilliki anak. Ternyata, salah satu anaknya terindikasi autis. Dia memutuskan untuk cuti di luar tanggungan negara selama 2 tahun untuk mendampingi anaknya itu yang tentu sangat membutuhkannya. Saat cuti 2 tahun habis dan anaknya masih sangat memerlukannya, maka dia memutuskan resign dari PNS. Sayangkah dengan karirnya di PNS? Padahal instansinya dikenal dengan remunerasinya yang ‘membikin cemburu banyak PNS’ lain? Tidak! Sektor domestik jauh lebih utama untuk didahulukan.

Ada juga cerita lain. Istri mantan bos suami, tampak begitu exciting saat saya membawa baby ke kantor suami. Dia banyak memberikan nasehat ini itu, tentang kesehatan bayi, dengan banyak istilah medis. Awalnya saya bingung, bukankah ibu ini FTM? Usut punya usut, ternyata beliau dulu adalah bidan. Tetapi karena suaminya seringkali dipindahtugaskan dan termasuk agak ‘rewel’ urusan makan (pagi-siang-malam menu makanan harus beda), maka dia memutuskan untuk resign dari bidan dan mendampingi suami kemanapun ditugaskan, termasuk pindah tugas ke beberapa negara.

Ini gambaran, bahwa pilihan seseorang bisa berubah menyesuaikan kondisi yang terjadi. Setinggi apapun capaian di sektor publik, kadang ada kondisi di mana ibu bekerja perlu melakukan evaluasi. Bisa karena dikaruniai ABK seperti teman saya itu, bisa juga faktor suami, atau faktor orang tua yang semakin renta. Bisa juga ada jenis pekerjaan yang lebih fleksibel. Evaluasi terus-menerus perlu diperlukan, agar langkah ibu bekerja tidak kebablasan. Karir bukanlah Tuhan yang harus diutamakan, saat sektor domestik atau sektor langit lebih membutuhkan.

Justru, jika kita memberatkan pekerjaan, barangkali perlu kita telisik lagi apa yang ada di hati: Benarkah aku bekerja karena mencintai keluargaku? Atau karena aku memiliki ambisi pribadi dalam pekerjaanku?

Gambar

Sebagai seorang muslimah, sebagai penutup tulisan ini saya juga ingin sedikit menulis tentang bagaimana kajian tentang ibu bekerja dalam fiqh. Sebelumnya saya harus mengaku dulu bahwa saya sama sekali bukan ahlinya. Tapi paling tidak kita bisa belajar dari beberapa kisah pendahulu. Salah satunya adalah kisah dari sahabat pemberani, putri dari sahabat terpercaya, Abu Bakar As-Shiddiq. Dialah Asma binti Abu Bakar. Dia bercerita, saat dia sudah menikah dengan salah satu mujahid gagah pujaan hatinya, “Ketika aku menikah dengan Zubair, ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.”

Artinya apa? Bahwa Asma kurang pandai memasak, seperti saya Β #eh salah fokus πŸ˜€
Maksudnya, bahwa Asma juga bekerja, bahkan hingga mencarikan rumput untuk ternaknya. Juga mengurusi kebun kurma, yang letaknya jauh dari rumahnya. Dan semua itu terjadi di zaman Rasul masih hidup, seperti yang dikisahkan oleh Asma, saat ia harus berjalan jauh berkilo-kilo dari kebun kurma menuju rumahnya, sambil membawa beban berat hasil panenan kurma, lalu bertemu rombongan Rasulullah di perjalanan. Rasul sempat menawarkan untuk menaiki salah satu onta di rombongannya, namun Asma menolaknya dan memilih tetap berjalan kaki, karena dia teringat dengan suaminya yang pencemburu. Sampai di rumah, ia berkisah pada suaminya “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.”
Zubair pun menanggapi cerita istrinya, β€œDemi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku dari pada kau naik unta bersama beliau.”
Maka bagi saya, Asma adalah perempuan pemberani yang perkasa. Bayangkan, berjalan kaki sekitar 3,4 km dengan menyunggi berkilo-kilo kurma di kepala! Dan dia bekerja dengan keikhlasan yang luar biasa, tidak main ‘nebeng kendaraan’ teman suaminya, meski ditawari.

Kita juga bisa belajar dari kisah perempuan agung istri Rasulullah yang pertama, Hadijah RA. Bukankah beliau seorang pengusaha perempuan yang sukses go international hingga akhir hayatnya? Yang lalu memberikan banyak harta, bahkan hampir seluruhnya, untuk dakwah suaminya?Β Kita juga bisa belajar dari Ummu Fadhoh, seorang perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Fatimah binti Muhammad, istri Ali.

Artinya, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga semacam ini di luar rumahnya, wajar saja. Asal memang kita memenuhi aturannya secara syar’i. Apa saja itu? Terlalu panjang jika harus dikupas di sini, dan sudah banyak pula yang membahasnya. Silahkan gugling sendiri ya πŸ™‚

Selain itu, ada juga kaidah tentang hasil dari pekerjaan seorang istri, ”Khusus masalah penghasilan istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316) . Artinya apa dong? Ya artinya bahwa jika ada kajian tentang pengelolaan penghasilan istri, berarti bekerjanya pun bukan suatu larangan (dengan syarat tertentu). Analoginya begini. Maling itu tindakan yang jelas dilarang, haram. Maka tidak ada pembahasan khusus tentang duit hasil permalingan, yang memang sudah jelas-jelas haram, karena pekerjaanya pun memang haram.

Mungkin tulisan ini masih jauh dari sempurna, karena memang banyak sekali aspek-aspek yang harus kita bahas lagi. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi baik di komentar atau postingan dengan topik yang sama. Spirit tulisan ini sekali lagi adalah agar kita mencoba saling memahami. Akan menjadi ibu yang bekerja di luar rumah (WM) atau menjadi ibu yang full dirumah (FTM), semuanya dikembalikan pada pilihan masing-masing, dan semuanya memiliki tanggung jawab yang tidak ringan.

Gambar

Sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita menilik saling korespondensi yang begitu apik antara seorang ibu bekerja dan ibu rumah tangga, di sini.Β Sungguh, semangat yang perlu kita tiru untuk saling bersinergi, bukan menghakimi πŸ™‚

Iklan

108 comments on “IBU BEKERJA bukan vs IBU RUMAH TANGGA

  1. aku suka tulisan ini….bijak sekali.

    • muktiberbagi
      Maret 13, 2014

      terima kasih mak donna, sudah mau mampir di mari πŸ˜€

      • heri
        September 9, 2014

        wah dapet link dari faebook, ijin baca ya

      • muktiberbagi
        September 9, 2014

        Monggo silakan

    • Mutiara
      September 22, 2014

      Aku adalah sebagai ayah dan juga ibu buat anak2ku. Aku harus mampu membesarkan anak tampa suami.Alhamdulillah kini anak2ku saleh dan salehah krn dari kecil ku didik beragama. Kini mrk telah besar dan bisa pula jadi contoh buat teman sama besarnya.

      • muktiberbagi
        September 22, 2014

        Itulah pilihan yg sy maksud bunda. Siap memilih lalu siap mempertanggungjawabkan pilihannya πŸ™‚

  2. Tita Bunda Aisykha
    Maret 13, 2014

    Aku dua2nya mba,,ibu bekerja dn ibu rumah tangga,,selalu berusaha menyeimbangkan,,dg bantuan suami tentunya πŸ™‚

    • muktiberbagi
      Maret 13, 2014

      memang seperti itu maksudnya tulisan ini. ibu bekerja ya tetap ibu rumah tangga, mosok jadi bapak2 πŸ™‚

    • Mutiara
      September 22, 2014

      Demi menjaga anak2 aku memilih utk tinggal di rmh

  3. eni suharti
    Maret 14, 2014

    ibu bekerja itu ya emang ibu rumah tangga, karena saat dia pulang ke rumah, dia juga mengerjakan semua yang dikerjakan ibu rumah tangga. Walau saya tetap berikhtiar agar suatu saat bisa menjadi full time mother. Bener kata Bunda, yang penting selalu evaluasi…

  4. maimunah febriyanti
    Maret 14, 2014

    Suka dengan tulisannya mbak…akupun WM yg skrg jadi FTM dan selalu salut dgn WM yang urusan domestiknya terselesaikan dgn baik yang kadang tanpa asisten pula…

    • muktiberbagi
      Maret 14, 2014

      alhamdulillah. sengaja ditulis karena ya masih banyak pro kontra di lapangan πŸ™‚

  5. kania
    Maret 14, 2014

    Terimakasih mba atas pembahasan nya, saya seringkali mengalami perdebatan dgn suami tentang pekerjaan pun bisnis saya, saya selalu membantah karna alasan yang diutarakannya kurang masuk akal, lebih condong ke cemburu saja, karna saya mampu bekerja dan berpenghasilan. Tapi sejauh ini saya selalu berusaha memprioritaskan rumah.

    • muktiberbagi
      Maret 14, 2014

      sama-sama. ya kalau bisa jangan berdebat mbak. duduk berdua dengan kepala dingin sambil ngeteh sore-sore, atau menjelang tidur, semoga lebih menghangatkan hati. namun jika suami sudah tidak ada tenggang, ya sebaiknya kita ikuti saja selama bukan perkara yg dilarang. lebih aman πŸ™‚

  6. mama-nya Kinan
    Maret 14, 2014

    Jazakillah bunda atas sharingnya..ini bikin adem …saya juga masih memutuskan bekerja alhamdulillah suami ridho dan bukan berarti saya tidak sayang anak tetap berusaha memberikan contoh dan tauladan yang baik serta mendampinginya dengan quality time yang harus saya lakukan
    saya sedikit miris dan bersedih saat membaca sharing kawan tentang bahwa anak berharga lalu kenapa diasuh atau dititip ke orang lain…ya Allah

    • muktiberbagi
      Maret 16, 2014

      sama2 bu. semoga membuat kita semua lebih bijak dalam menyikapi berbagai fenomena yaa. saya juga sedang belajar

  7. Alana
    Maret 15, 2014

    Ibu, terimakasih tulisan ini membuat hati saya adem,saya sering cari pembenaran bahwa jadi ibu di rumah pilihan yang benar untuk saya, mengurus anak dan semua aktivitas RT tanpa asisten. Namun terkadang hati saya sakit mendapati kenyataan bahwa suami tidak bangga melihat ini. Dia lbh suka kalo saya jadi wanita karir dan tidak di rumah saja karena lebih kelihatan keren. Maaf jd curcol

    • muktiberbagi
      Maret 16, 2014

      ehehe. itu yg dibilang ‘sawang sinawang’ ya bu. mungkin memang perlu ada usaha apa gitu yg berpenghasilan supaya bisa membuktikan ke suami bahwa kita mampu πŸ™‚

  8. Hidayah Sulistiyowati
    Maret 22, 2014

    Insya Allah dengan saling berempati bisa menjaga tali silaturahim. Seperti yang pernah aku tulis juga di salah satu komentar, semua itu pilihan, jangan saling merasa paling sholehah.. Yang tahu hanya Allah Swt.

    • muktiberbagi
      Maret 23, 2014

      betul, saling mendukung dan memahami. karena ini bukan soal halal haram πŸ™‚
      yang soal haram aja ada adab cara menasehatinya kok

  9. dihas
    Maret 23, 2014

    Ibu, bagaimanapun sosoknya adalah paling vital dalam perkembangan anak-anaknya…..

    • muktiberbagi
      Maret 23, 2014

      betul. tapi bukan berarti ibu yang bekerja tak peduli dengan perkembangan anaknya. dan tak ada jaminan sedikitpun ibu yang dirumah saja lebih memperhatikan perkembangan anak2nya πŸ™‚

  10. daseer
    Maret 23, 2014

    kaizen ne…laik dis dan pencerahan u istri y kadang galau

  11. Elmuttaqien's family
    Maret 23, 2014

    Bagus sekali tulisannya. Saya jg miris dgn perdebatan pjg wm vs ftm. Ijin share&reblog ya mak πŸ™‚

    • muktiberbagi
      Maret 23, 2014

      monggo maak

      • Amy
        Maret 23, 2014

        Tulisan yang bijak Mbak. Ijin berbagi ya.
        Bener2 bisa merefleksikan ibu bekerja maupun ibu di rumah.
        Saya sepakat tentang 3 sektor yang mbak tulis.
        Kalau lelah dalam mengatur waktu, saya selalu kembali ke sektor domestik dan langit. Bahkan hampir ga pernah terpikir sektor publiknya πŸ™‚

      • muktiberbagi
        Maret 23, 2014

        monggo bu ami
        semoga kita semua selalu diberikan kemudahan dalam menetapi prioritas dari 3 sektor itu

  12. Ryeozaki
    April 3, 2014

    Bukan cuma ibu2 yg berdebat,,,suami pun kdg ada ja yg ngeluh..
    Punya istri kerja penginny istri yg drmh aja
    punya istri yg di rumah aja pengennya istri yg kerja…

    Semua pilihan pasti ada plus minusny,tgl bagaimana qt menyyikapi pilihan kita dengan bijak,,
    sebagai istri,,saya pribadi tetap mengutamakan kebutuhan anak dan suami,tanpa menghilangkan aktualisasi diri saya…

    Mari sama2 berpikir dan bertindak bijak atas pilihan kita

    tulisan yg menginspirasi….

  13. indah
    April 8, 2014

    ijin reblog ya mbak di indahrokhmawati.blogspot,com,jazakillah πŸ™‚

  14. indah
    April 8, 2014

    Reblogged this on siwiarraya.

  15. Vicky Lisa Hasdiputra
    Mei 1, 2014

    Assalamualaikum, super sekali tulisannya mbak.salam kenal, sya jg irt dan ibu bekerja.suami tdk pernah mminta sya untuk bekerja namun beliau jg tdk melarang dan tentunya sudah ada bbrp kesepakatan diawal.sya jg memilih pekerjaan yg berhubungan dgn perlindungan keluarga, shg dgn bekerja sekaligus sya bljar untuk lbh baik.niat sya bekerja untuk mengamalkan ilmu dan membantu saudara2 yg membutuhkan wlpun terkadang ada ego yg berperan.smga qta senantiasa menjadi wanita super untuk suami, anak, keluarga dan saudara2 amin

    • muktiberbagi
      Mei 8, 2014

      waalaikumsalam. makasih sudah mampir. maaf baru dijawab yaa

  16. medina (@mydina21)
    Mei 1, 2014

    Bikin semangat mb dan tepat dpt tulisan ini di saat galau mau mutusin jd ftm or wm. Lg tahap evaluasi n dg pertimbangan matang:)

  17. sangkekasih
    Mei 2, 2014

    mba, izin reblog ya?

  18. sangkekasih
    Mei 25, 2014

    Reblogged this on suratkecilsangkekasih.

  19. junda
    Juni 25, 2014

    Ijin share boleh ya…

  20. mei
    Juli 16, 2014

    Ijin share bunda

  21. windi
    Juli 22, 2014

    Jazakillah ats sharingnya bun.. Smkn mmantapkan hati sy. Sy dulunya WM yg mmutuskan utk mnjd FTM krn permintaan suami. suami pnya trauma masa kecil, dgn ibunya yg WM shg dia bertekad anak2nya nanti tdk mngalami hal spt dirinya. Pengen bgt curhat k bunda boleh y.. πŸ™‚

    • muktiberbagi
      Agustus 20, 2014

      waiyyaki. maaf banget baru jawab. monggo kalau mau curhat, bisa kirim ke inbox fesbuk saya muktia farid atau muktia bunda hurin πŸ™‚

  22. m a m i n a
    September 8, 2014

    Betul ibu πŸ™‚ memang bukan masalah kerja atau tidak, tapi kewajiban utamanya (sektor domestik dan langit) terpenuhi atau tdk.
    Bnyk FTM yg sektor utamanya keleleran sehingga butuh bnyk asisten.

    Dan suami yg totally involved dlm mengurus/mendidik/mengasuh anak sangat penting. Seperti yg saya lihat di sini.

  23. dian
    September 10, 2014

    terima kasih atas artikelnya mba,sebenarnya saya kesal dengan orang yang selalu bilang “kl anaknya diurus sm pembantu nanti pikirannya kayak pembantu” apa pembantu serendah itu? bukankah pembantu itu juga seorang ibu,seorang manusia yang bekerja keras mencari nafkah untuk anak2nya smp harus meninggalkan anak2nya di rumah apalagi kl penghasilan suami tidak mencukupi.kan tidak semua pembantu itu nakal.sm halnya seperti ibu rumah tangga atau wanita karir ada yang nakal ada yang tidak tergantung si individunya masing-masing,saya dibesarkan oleh seorang ibu yang wanita karir,dan saya dititipkan ke pembantu apabila mama bekerja,sebelum & sepulang kerja mama saya selalu sebisa mungkin mengurus rumah tangganya kok krn kl hanya mengandalkan penghasilan sari papa saya saja kurang mencukupi & naudzubillah min dzalik kl terjadi apa-apa dengan papa saya yang sering sakit-sakitan mama saya insyaallah sudah terbiasa mandiri alias cari uang sendiri.apalagi kl mama mw membantu orang tua atau keluarganya terasa lebih enak memakai uang hasil keringat sendiri..

    • muktiberbagi
      September 10, 2014

      Ya bgitulah. Kadang kita perlu menggunakan kacamata orang lain utk melihat segala sesuatunya

  24. dikabeast
    September 10, 2014

    Nambah sudut pandang Bu, kebetulan kemarin sedang sering membahas hal ini dengan teman-teman yang kebanyakan masih single, ada juga yang sudah jadi ibu muda dan calon ibu. Intinya, suatu pilihan itu harus ada pertimbangan sebarapa worth it nya seorang muslimah dalam kondisi tersebut dan tidak boleh menzalimi salah satu sektor saja, makanya harus selaras.
    Dan tidak perlu saling nyinyir antara ibu rt dan ibu karir, harus saling memahami satu sama lain, karena tidak sedikit juga ibu karir yang sepertinya merendahkan ibu yang hanya di rumah saja hehe.
    Nice share Bu, terimakasih, saya izin reblog ya πŸ˜‰

  25. dikabeast
    September 10, 2014

    Reblogged this on | dikabeast | and commented:
    “Keselarasan antara sektor domestik (keluarga), sektor publik (pekerjaan) dan sektor langit (bekal agama).”

  26. Bimmy Hestu Pietoyo
    September 12, 2014

    Luar biasa sekali tulisanya…amat bijak…izin share sist…

  27. jaza aufa
    September 14, 2014

    Salam kenal mba, bagus tulisannya, saya setuju kalo ibu kerja ato ngga itu pilihan…cuma kadang masih aja ada teman yang kerja dan bilang “enak yah ngga kerja bla bla bla” padahal keluarga teman saya ini orang berada, suaminya sehat n punya karir bagus, secara materi berkecukupan….disini cuma mau menekankan, kerja ato ngga kerja itu kan pilihan, kalo ibu kerja n iri sama ibu yang dirumah yah resign aja ngga usah ngiri2 toh secara materi dia berkecukupan…kalo kayak gitu kan jadi dipertanyakan dia kerja untuk apa…kan resign lebih mudah daripada nyari kerja…jadi saya berharap stop deh iri2an ato merasa diri kurang beruntung dibanding yang lain…jalani aja hidup, yang penting bersyukur…lain ceritanya kalo ibu bekerja karena dia tulang punggung keluarga atau masih kekurangan secara materi…apalagi kalo kerja alasannya untuk membantu sesama atau mengamalkan ilmu, kalo ternyata masih iri sama ibu di rumah yah harus dikaji lagi tuh alasan berkarir nya….#maafmalahcurcol hohoho

  28. deka amalia
    September 15, 2014

    Tulisan yang membuat hati tentram….

    • muktiberbagi
      September 15, 2014

      makasih mak deka, sudah mampir kemari. tetangga yg dekat tapi jauh hihii

  29. indablu
    September 16, 2014

    terima kasih banyak untuk tulisan yg indah ini ya mbak, sangat mengispirasi ditengah kegalauan hati sebagai ibu bekerja. semoga mbak dan keluarga selalu sehat wal afiat πŸ™‚

    • muktiberbagi
      September 17, 2014

      amiiin. mari kita saling bersinergi. terima kasih juga ya sudah mampir

  30. Arvia
    September 18, 2014

    Syukron mba… Nice artikel… Ijin re-blog ya…
    Baarakallahu fiik…

  31. Kunang-Kunang
    September 18, 2014

    kak, luar biasa, samapi angis jadi keinget ibu di rumah..
    makasih kak, atas tulisannya.. inspiratif banget :’)

  32. merry
    September 18, 2014

    berawal dari ketulusan niat ingin membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadikanku aktif diurusan publik, namun saat dirumah atau libur, domestik dan langit adalah prioritas bagiku, butuh kekuatan fisik ekstra, kelapangan hati ekstra, dan kecerdasan ekstra memanage publik, domestik dan langit secara berimbang, izin publish yah πŸ™‚

  33. zrrz
    September 18, 2014

    Wanita Super itu Ya “Ibu” πŸ™‚

  34. Yessi
    September 19, 2014

    Setuju dgn tulisannya, mbak. Perempuan tetap harus mengutamakan tugas utamanya, tapi dgn tetap berusaha memiliki kompetensi jika suatu saat harus menggantikan/ membantu suami mencari nafkah. Jadi perempuan produktif dan bermanfaat bagi sesama tentu lebih baik, dgn tidak melupakan tugas utamanya.

  35. hana
    September 19, 2014

    Tulisannya oke,…

  36. Friska
    September 23, 2014

    Maaf, bun, apakah anda bekerja? Suami saya tidak ridho kalau saya bekerja, karenanya saya jadi ibu rmh tangga saja. Saya jg agak protektif thd anak, tdk rela ank saya dipegang oleh org lain. Terkadang artikel yang “melebihbaikkan ibu rmh tangga” membuat saya lebih semangat dalam keseharian.

    • muktiberbagi
      September 23, 2014

      Sekarang saya bekerja bun friska. Sy jg pernah mjadi irt di rumah saja. Mungkin suatu saat jg akan begitu lagi. Kenapa bun?

      • Friska
        September 23, 2014

        Mungkin krn dulunya saya ingin bekerja, jd saya butuh artikel penyemangat untuk jadi ibu rumah tangga, bun. Tetapi skrg sptnya saya sdh merasakan dr pengalaman dan sdh bs memutuskan. Thanks ya, bun, ats sharingnya πŸ™‚

      • muktiberbagi
        September 24, 2014

        Sama2. Semua pilihan baik kok asal dilaksanakan dgn tanggung jawab πŸ™‚

  37. isma nurhalyda
    September 25, 2014

    bagus tulisannya mbak, bijak… memang betul ibu bekerja dan IRT adalah pilihan, yang masing2 akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak, salam kenal…

    • Maya Widyaningsih
      September 26, 2014

      Bunda tulisan sanagt membuat tentram, saya juga prnah mengalami ibu rt yg pyur dirumah, prnah ibu rt yg sambil dagangan jualan pop ice dirumah, n skr krja diluar. selama suami ridho, itu sah2 aja karena semua keputusan itu ada sebab akibat

      • muktiberbagi
        September 26, 2014

        Terima kasih ya sdh mampir

      • muktiberbagi
        September 30, 2014

        Betul. Terima kasih ya sdh mampir

    • muktiberbagi
      September 26, 2014

      Alhamdulilllah. Iya semuanya pilihan

      • Abu Farros
        September 30, 2014

        Ukhti,… tulisan ini bagus,…

        akan tetapi kalau boleh memberi masukan, sesungguhnya belum mengena ke permasalahan utamanya. dan pula banyak pula perkataan buruk (menyakitkan hati) yang dilontarkan oleh orang – orang yang tidak berilmu kepada wanita yang bekerja sehingga semakin memperkeruh situasi.

        Islam tidak melarang wanita bekerja, melainkan dengan 3 persyaratan.

        1. Hendaklah pekerjaan itu tidak melalaikan tugas utama seorang istri yaitu melayani kebutuhan suami & mendidik anak-anaknya.

        Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim)

        2. Hendaklah pekerjaan itu sesuai dengan kodrat wanita.

        Pekerjaan yang sesuai dengan wanita. seperti apoteker, bidan, perawat bahkan berdagang pun boleh asalkan tidak menimbulkan kemudharatan bagi wanita. Contoh pekerjaan yang tidak sesuai dengan wanita adalah sopir taksi/bus yang syarat akan memancing perbuatan orang jahat perampokan/perkosaan dll. atau contoh lain seperti atlet angkat besi yang akan membahayakan rahim.

        3. Pekerjaan itu tidak bercampur dengan lawan jenis (Ikhtilat) yang bukan mahromnya.

        Untuk penjelasan dalil pelarangannya silahkan di lihat di :

        http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/akhlak-adab/ikhtilat-antara-lawan-jenis-2/

        Jadi jelaslah bahwa islam tidak melarang wanita bekerja dengan 3 syarat diatas. Apapun kondisinya. adapun yang lebih baik bagi mereka, sesungguhnya Allah telah berfirman :

        β€œDan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

        Jadi Islam memuliakan dan menjaga wanita. bukan menghinakannya. Karena tetap tinggal di rumahnya lebih menjaga diri dan kehormatan serta anak-anaknya.

        Adapun pembantu juga seorang ibu dan seorang wanita juga. jika ia salah dalam mendidik agama dan akhlaq anak anak kita, maka sesungguhnya seorang Istrilah yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.

        Semoga bermanfaat.

      • muktiberbagi
        September 30, 2014

        Iya pak. Jazakallah sdh melengkapi tulusan ino πŸ™‚

  38. Ping-balik: IBU BEKERJA bukan vs IBU RUMAH TANGGA | Cute Little Women - Renungan diri

  39. Hani
    November 20, 2014

    Terima kasih pencerahannya…sangat bermanfaat dan menyejukkan…..semoga keberkahan untuk mba selalu…. πŸ™‚

    • muktiberbagi
      November 20, 2014

      terima kasih kembali, terima kasih sudah mampir ya

  40. rio
    November 22, 2014

    good read… Saya seorang suami… dari awal sebelum nikah saya memang berniat mencari pasangan yg mau jadi ibu rumah tangga, sulit sekali di jaman sekarang ini, Alhamdulillah istri saya sekarang ikhlas mau menjadi FTM, dari awal pra-nikah pun dia sudah sepakat untuk jadi FTM, alasan utama adalah ingin concern mendidik anak2 kami & tak mau diasuh pembantu

    Pondasi pernikahan justru sebenarnya terletak pada komitmen pra-nikah, ini sangat penting sekali, seperti semisal, saya berjanji pada istri saya, bahwa saya tidak akan berpoligami sepanjang hidup saya, begitu pula istri saya berkomitmen ingin selalu jadi ibu rumah tangga sepanjang hidupnya. Jadi ketika komitmen itu dicatat, harus dipegang teguh selalu sebagai dasar pondasi pernikahan, walau banyak konskuensi yg ditanggung…

    Sebagai contoh, penghasilan saya sebenarnya standar2 saja, sementara istri saya hanya FTM saja. Tapi kadang saya mengingatkan istri saya untuk melihat rumput tetangga yg lebih hijau, kita hidup saja sesuai penghasilan yg kita terima & syukuri semua itu

    Tips untuk rumah tangga yg baik adalah justru kita harus menyederhanakan tujuan hidup kita, semakin sederhana tujuan hidup kita, InsyaAllah semakin bahagia kehidupan rumah tangga kita.

    Saya kadang ga habis pikir banyak teman2 saya yg rumah tangganya menganut sistem LDR, mungkin kalo dihitung2 ada sekitar 60 % lebih teman2 saya yg menganut LDR, saya tidak bisa membayangkan, kalo saya seperti mereka, paling kerasa mungkin sewaktu bangun pagi & mau tidur, padahal kalo subuh2 bangun lihat istri & anak rasanya bahagia sekali, hidup terasa sempurna, apalagi istri saya rajin membuatkan bekal buat saya (ngirit makan siang), belum lagi kalo pulang kerja disambut senyuman oleh anak & istri, rasanya seperti lelah mencari nafkah itu hilang seketika.

    Saya sarankan untuk pasangan2 yg LDR harus dipertimbangkan kembali dan matang2. Bagi saya LDR itu kelebihannya cuma uangnya lebih banyak doang, selebihnya banyak mudharatnya, pertama, berapa banyak waktu bertahun2 lamanya kebersamaan keluarga yg hilang, bagi saya kebersamaan keluarga itu tak ternilai harganya, telpon, sms, sosmed takkan bisa menggantikan kehadiran. Kedua, kasus yg banyak muncul adalah bibit2 perselingkuhan yg mungkin bisa ada. Ketiga, permasalahan kedua pasangan biasanya lebih lambat selesai jika pasangan jarak jauh. Keempat, BIAYA…. sampe maaf ada celetukan dari teman kepada teman yg LDRnya harus pake pesawat untuk bertemu, dimana beberapa teman ngatain, “mau “gituan” aja sama istri harus berjuta2 habisnya, udah gitu sebulan sekali lagi..”, saya sedih melihat teman saya yg dikatain begitu, tapi kalo emang rumah tangga mereka udah sepakat begitu, ya fine2 aja sih. Tapi kembali lagi sebaiknya LDR dalam rumah tangga haruslah dihindari…

    • muktiberbagi
      November 24, 2014

      terima kasih yaa sudah mampir. saya juga kasihan dengan teman2 yang LDR, tetapi kadang persoalannya juga tak semudah resign begitu saja. Semoga mereka semua menemukan solusi yang terbaik dan paling selamat πŸ™‚

  41. mirnac
    Maret 6, 2015

    MasyaAllah Mba, tulisannya luar biasa penuh ilmu “daging”.
    Kabetulan saya pernah mengalami keduanya. Insya Allah lebih bisa merasakan menjadi kedua belah pihak dan tidak mau menghakimi atau membela pihak manapun, karena masing2 hidup punya pilihan dan alasan dibalik keputusannya kan =) … seperti mba bilang, asalkan bertanggung jawab. setuju banget.
    ijinkan saya, berbagi tulisan penuh manfaat ini kepada rekan2 saya para ibu bekerja, baik di luar maupun di rumah ya mba, agar semakin bertambah manfaatnya . jazzakallahu..

    • muktiberbagi
      Maret 7, 2015

      Monggo mba mirna silakan. Terima kasih sudah mampir kesini πŸ™‚

  42. Rika
    April 5, 2015

    Nice share.. Thanks!
    Yuk bareng kami kerja dekat keluarga & sukses! Hanya di kerjadirumahaja.com! Kami bantu Anda untuk maju plus sukses bersama- sama mulai dari nol. Cukup dengan marketing online di internet sambil mempromosikan produk-produk ternama serta mengembangkan network kami.

    Ayo gabung bersama kami di http://www.kerjadirumahaja.com – facebook.com/kerjadirumahajaindo – twitter @kerjadirumahaja – WA:081296869778

  43. rani
    April 28, 2015

    Alhamdulillah saya dpt pencerahan stelah membaca tulisan ini.sy WM yg sedang galau..antara memilihjadi FTM…Suami dan saya LDR mb…sy seorang PNS..suami PNS pusat yg mutasinya tinggi ….anak sy 4 ,yg 2 msh batita..stelah sy kaji..gaji sy hanya menutupi u ongkos suami PP…anak2 ktemu ayahnya 1atau 2 bln skali….plg lama cm 3hr..sy khawatir dgj perkembangan anak2 sy..bila tua nanti saya tdk mau menyesal bgitu banyak hr2 sy yg hilang karena kami tdk maksimal dlm urusan langit dan domesti….saya akan jadi istri yg bahagia dan ibu Ftm yg sukses….itu pilihan say skrg

    ..

    • muktiberbagi
      Mei 25, 2015

      Monggo mba rani. Mantapkan dgn istikharah ya mba sbelum benar2 memutuskan

  44. Lia Farliyah Hasbullah
    Oktober 29, 2015

    saya working mom mba, dan selalu kesel dibilang tdk sayang keluarga..padahal siapa ibu di dunia ini yg tdk sayang anaknya..semoga tulisan mba bisa membuka mata yg lain ya mba, supaya menghargai keputusan masing2 pihak dan tdk saling menghujat..

  45. Tyaz Honest Queene
    Desember 31, 2015

    bagus sekali tulisannya…terimaksih banyakkk

  46. ummu9hazi
    Agustus 25, 2016

    Reblogged this on mutiarakhodijah and commented:
    Hari-hari ini.. rasanya agak beda ya.. mudah lelah, mood swinging, ke kantor juga rasanya hampir kehilangan semangat, dan kadang masih suka envy sama Nyainya yang ngasuh di rumah. hihi.. ditambah lagi, pertanyaan ngehits seputar: Kenapa kerja?

    Ah.. bismillah.. jalankan saja peranmu πŸ™‚

  47. Ping-balik: LDR & Daycare: Antara Idealita & Realita | berbagi cinta & makna

  48. Djati Tri Lestari
    Oktober 21, 2016

    good article bu…. izin share yaaa…^_^

    • muktiberbagi
      Oktober 21, 2016

      Monggo mba djatii. Katanya mau ke daycare?

      • Djati Tri Lestari
        Oktober 21, 2016

        hahaa iya ni bu… rencananya nanti ba’da urusan rumah rebes.. habis renov dan mau pindahan ke rumah ibu dulu… xixixi sounding mau main ke daycare nya dari awal2, jadi kalau sy tetiba nongol ning ngarep lawang, bu mukti ga kaget πŸ˜€

      • muktiberbagi
        Oktober 21, 2016

        Oke. Ditunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 13, 2014 by in parenting, pendidikan anak and tagged , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: