berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Diam, Seringkali Lebih Menenteramkan

diam

Kemarin, tetangga depan rumah meninggal. Bapak-bapak paruh baya, mendadak, terkena serangan jantung. Saat jenazah dibawa ke masjid untuk disholatkan, ada beberapa pelayat yang baru datang, merubungi istri dari yang meninggal, sebut saja mbak A. Pertanyaan bertubi-tubi  dari para pelayat tentang mengapa suami mbak A meninggal, dilontarkan. Mbak A cuma bisa menjawab dengan menggeleng, mengangguk, atau bicara pelan sambil sesenggukan.

Seketika, saya teringat hal yang kurang lebih sama, tiga tahun lalu. Tak mudah bagi orang yang sedang berduka, apalagi ditinggalkan orang yang tercinta dengan cara mendadak seperti itu, lalu harus menjawab pertanyaan pelayat satu-persatu. Tak mudah, tapi kadang tak dipahami pelayat yang penasaran ingin tahu.

Mengingat itu, saya segera bertanya di luar konteks ke mbak A, dengan maksud mengalihkan perhatian dan ‘menyadarkan’ yang merubunginya, “Mbak, mau ikut sholat jenazah? Sudah punya wudhu belum? Kalau belum, yuk aku antar.”
Segera setelah saya bicara begitu, beberapa pelayat menyingkir dan memberikan jalan pada mbak A menuju shaf perempuan.

Jadi ingat tulisan saya tentang ini setahun lebih yang lalu, disini 
Bahwa saat kita melayat, diam, sambil mendoakan, seringkali lebih selamat.

Iklan

3 comments on “Diam, Seringkali Lebih Menenteramkan

  1. Arifah Abdul Majid
    Februari 21, 2014

    hai mak ^^ betul mak, bicara pun harus tau tempat, situasi dan kondisi yaa..

  2. Ping-balik: Berita Duka: Empati, Bukan Menghakimi | berbagi cinta & makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 20, 2014 by in agama and tagged , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: