berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

KAS Keluarga, Perlu lho!

saweran

“Ngapain ribet amat tiap bulan kudu transfer? Mana harus ada yang jadi admin. Kan kalau memang kakak atau adik kita butuh, kita bisa langsung kasih ke orangnya, ” komentar seorang teman ketika saya mengajaknya ke ATM terdekat untuk transfer uang ke rekening kas keluarga.

Kas keluarga? Apa pula maksudnya?
Awalnya, dulu kami (saya berenam satu saudara kandung) biasa ‘saweran‘ saja jika ingin ada acara bersama, misalnya ada  semacam pengajian keluarga, atau ada yang menikah, dan lain-lain. Tetapi, saat RAK (Rapat Anggota Keluarga) 10 tahun yang lalu,  yang selalu diadakan setahun sekali tepat pas liburan idul fitri (rapat semacam ini sudah dibudayakan oleh bapak saya sejak saya masih SMP), diputuskan untuk membuat rekening bersama saja, dengan admin salah satu di antara kami, yaitu kakak saya yang tinggal di kampung.

Ribet? Betul, kesan awal memang begitu. Apalagi kakak saya harus secara rutin melaporkan (by email) arus masuk dan keluar kas, sekaligus menagih yang belum bayar. Tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata manfaatnya sangat terasa.
“Duh, gimana ini, saya harus operasi kayaknya,” curhat salah seorang dari kami. Langsung yang lain bertanya hampir senada, “Uang kas ada berapa? Keluarkan segini aja, Sisanya saweran”
“Aku mau beli rumah sederhana, tapi uangnya kurang. Boleh gak pinjam kas saja, dari pada pinjam bank?” Kasus begini juga pernah. Tentu sangat membantu karena pinjaman zero interest, gak pakai mark up seperti di bank.

Kenapa perlu kas keluarga? Sebenarnya pertimbangannya sederhana saja. Pertama, karena kita tak pernah tahu kejadian yang akan datang seperti apa. Jika berkaitan dengan perhelatan semacam pernikahan, meneruskan kuliah, atau nyunatin anak, mungkin jauh-jauh hari bisa direncanakan. Tapi jika berkaitan dengan musibah seperti sakit, meninggal, PHK, dan sebagainya, tentu di luar rencana dan juga tak diharapkan. Nah, dengan kas keluarga semacam ini, yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan insya Allah bisa terbantu, meski tentu gak full coverage. Tapi cukup membantu lah, dari pada harus mengumpulkan dana secara mendadak. Nah, nanti kekurangannya bisa dicari dari saweran mendadak itu hingga tercukupi, atau dari cara yang lain.

Kedua, kas keluarga menjadi penting, karena seperti pepatah, ‘sedikit lama-lama menjadi bukit’. Jika untuk urusan yang sifatnya musibah dan harus mengumpulkan dana cukup banyak, sering kali kita tak siap. Pas lagi tongpes, nggak ada uang di tangan. Akhirnya ya bisa membantu, tapi tak sebesar yang diharapkan. Nah, dengan adanya kas keluarga ini, karena sudah rutin dikumpulkan sedikit demi sedikit tiap bulan, besarannya cukup signifikan jika berbilang bulan apalagi berbilang tahun. Apalagi dikalikan jumlah orang yang juga rutin mengirimkan uang.

Ketiga, ini tentang taqdir Allah. Bersaudara kandung pun, nasib saat dewasa dan sama-sama sudah berumah tangga, tak selalu sama. Meski tentu kita berharap semuanya makmur sejahtera. Tapi, taqdir kadang berkehendak lain. Ada yan diberi kelimpahan rizki, ada yang sedang-sedang saja, ada yang pas-pasan apa adanya, dan ada juga yang kekurangan perlu dibantu. Sebagai saudara kandung, tentu kita ingin bantuan yang diberikan sifatnya ‘temonjo‘, tepat sasaran. Misalnya, saat ada saudara kandung yang ndilalah terkena PHK, maka bantuan yang sifatnya lebih mendesak (selain dapur ngebul) adalah menjamin bahwa pendidikan anak-anaknya tidak terlantar, setidaknya sampai tamat kuliah. Nah, pembiayaan untuk pendidikan anak-anaknya ini dapat ditanggung renteng oleh om, bulik, pakde, budhenya, melalui kas keluarga. Jadi, peruntukannya lebih jelas dan tepat sasaran.

Nah, lalu teknisnya kepriben? Secara mudahnya, ini semacam iuran bulanan saja, yang ditransfer ke rekening bersama atau rekening salah satu saudara yang bertindak sebagai admin. Besarannya bagaimana? Karena ini sifatnya sukarela, memang biasanya ada besaran yang disepakati, tetapi tidak mengikat. Kenapa? Kembali pada alasan yang point ketiga tadi. Nasibnya kan nggak sama. Maka tentu besarannya pun menyesuaikan kemampuan. Adil itu tak harus sama, tapi proporsional kan? Misalnya, di keluarga saya sendiri menerapkan angka Rp 250.000 sebulan. Pembayarannya ada yang rajin tiap bulan, ada yang modelnya rapelan. Ada juga yang menawar, “Saya sanggupnya cuma 100 aja per bulan”. Ya nggak papa. Tapi, yang jauh lebih penting, bahwa disana ada wujud kepedulian sesama saudara, akan terlihat nyata. Bahkan, bisa jadi ada saudara kita yang tak dibebani iuran, tetapi mendapatkan hak secara rutin untuk dibantu, karena kondisinya memang demikian. Jadi ini seperti terminologi muzakki-mustahik dalam zakat. Yang mampu membantu yang kurang mampu. Juga secara tak langsung, sebagai tanda bakti pada Bapak Ibu, dengan memberikan keyakinan pada mereka bahwa anak-anaknya selalu guyub rukun saling bantu, pun dengan alokasi dana bulanan untuk operasional rumah Bapak ibu yang dikeluarkan dari kas itu.

Tentu, uang seperti ini jangan diharap seperti tabungan, atau seperti arisan, “Kapan nih bukaannya?”
Ini murni uang yang diikhlaskan, dan lalu dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama. Konsep kas keluarga ini, setelah saya menikah, juga lalu diadopsi di keluarga suami. Alhamdulillah, cukup membantu lah. Terutama kalau ada acara-acara besar misanya saat hajatan atau lebaran.
Semoga sharing yang sedikit ini, bisa membantu 🙂

Iklan

4 comments on “KAS Keluarga, Perlu lho!

  1. naya
    Februari 17, 2014

    bagus juga mbak. Selain mempererat silaturahmi, bs juga menolong saudara yang membutuhkan. tapi tergantung keluarganya juga sih ya mbak… kan g semua orang/saudara punya itikad baik dalam nyetor uang kas. bisa jadi malah dimanfaatin buat ambil duit sodaranya yang lain….

  2. muktiberbagi
    Februari 17, 2014

    ya modal awalnya memang harus sama=sama berniat baik dulu mbak 🙂

  3. Erlina
    Februari 25, 2014

    Nice info mak..tapi tidak bisa diterapkan ke saya..lha wong saya ga ada sodara kandung…

    • muktiberbagi
      Maret 13, 2014

      tidak harus saudara kandung mungkin, skup keluarga yang lebih besar juga kami ada kas keluarga kok 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 17, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: