berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Sikap Dua Umar Terkait Bencana

Image

Ada dua Umar yang menyejarah sebagai khalifah.
Pertama, Umar bin Khattab. Ketika terjadi gempa di Madinah pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Kedua, Umar bin Abd Aziz. Beliau tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barang siapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Mengaitkan bencana dengan kemaksiatan, adalah salah satu jalan yang telah dicontohkan. Tak hanya oleh mereka. Pun oleh Rasulullah. Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!”

Tampaknya, ini seperti tak berempati. Memang ini pahit. Bahwa saat tertimpa bencana, kenapa pula justru harus instropeksi tentang kemaksiatan diri? Apakah justru ini seperti tuduhan yang keji? Mbok ngrumangsani….
Tapi, semoga kita tidak berpikir demikian. Karena jika langit sebagai kitab yang terbentang, dan bumi sebagai kitab yang terhampar, telah Allah gerakkan untuk membuat kita mengerti, kita hanya manusia yang lemah, diantara langit dan bumi, yang tak berdaya.

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرَقِ، وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا»

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kehancuran. Aku berlindung kepada Engkau dari jatuh. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tenggelam, terbakar, dan pikun. Aku berlindung kepada Engkau dari meninggal di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri dari (dari medan perang [jihad]). serta aku berlindung kepada Engkau dari meninggal dalam keadaan tersengat (binatang berbisa).”
[Sunan Abi Dawud No. 1552. Shahîh]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 14, 2014 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: