berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Duitmu Duitku, Duitku ya Duitku

Image

“Udah punya penghasilan sendiri, kok minta suami tiap mau beli ini itu? gak mandiri ih!” komentar teman pada nina.
Lho, kok gitu ya? Memang Nina tahu, sebenernya dia mampu beli sendiri. Tetapi ini soal ‘penghargaan’. Bukankah lelaki, apalagi suami, memiliki kebutuhan diterima sebagai qawwam, sebagai sosok hero, pengayom buat keluarga? Termasuk bagi Nino, suaminya. Kalau tiap kebutuhan masing-masing beli sendiri dengan dalih sudah punya penghasilan sendiri, terus opo gunane nikah?

Lalu, duit Nina buat apa? Dalam pemikiran sederhana seorang Nina, ada kalanya kebutuhan yang tak perlu bilang, yang sifatnya rutin, akan langsung dia handel sendiri. Misalnya belanja kebutuhan dapur sehari-hari. Tapi untuk kebutuhan lain yang ‘definit’ seperti SPP anak-anak, gaji ART, dan bill listrik-telepon, Nina lebih memilih itu semua sebaiknya dia minta dari Nino. Bukan masalah tak mau berbagi tanggung jawab, tapi itulah cara Nina membuat Nino merasa dihargai, menempatkan suami sebagai qawwam. Apalagi, kalau yang sifatnya khusus Nina yang menginginkan suatu benda, secara pribadi. Misalnya baju, sepeda, buku, atau sekedar es krim…paling enak ya minta ke Nino. Toh mintanya juga jarang-jarang. Suami yang normal, tentu senang banget kalau istrinya (kadang) manja dan kelihatan butuh banget padanya.
I’m a hero for her’ kalimat itu akan tertancap kuat dalam benaknya.

Kalau gitu, enak dong ya, duit Nina utuh? Enggak juga. Selain kebutuhan harian, kadang-kadang, dia sengaja mentransfer dalam besaran yang cukup signifikan ke rekening suaminya, jika Nino tampak mulai gelisah dengan uang yang tersisa. Maunya sih diam saja setelah transfer, tapi tentu ada notifikasi dari hape Nino. Paling-paling, nanti akan ditanya, “Tadi transfer ke rekeningku ya?” Lalu dijawab dengan nyengir kuda oleh Nina, sambil mohon-mohon dengan manja jangan dibalikin lagi itu duit padanya. Toh nanti juga uang itu bakalan kepakai untuk urusan rumah, termasuk untuk permintaan spesial dari Nina.

Kesannya ribet. Muter-muter birokrasinya. Padahal ujung-ujungnya duit ya sama-sama dipakai toh? Tapi, dengan sentuhan sedikit muter-muter itu, tak mengapa kalau tujuannya mempertahankan sakinah dalam rumah tangga. Justru jadi indah. Karena rumah tangga bukan kantor atau perusahaan, yang selalu mencari cara yang paling efisien dalam pengelolaan keuangan ^_^

——
from my heart: muktia farid @muktiamini

Iklan

15 comments on “Duitmu Duitku, Duitku ya Duitku

  1. nyatnyut
    Februari 9, 2014

    Betul juga ya… Karena rumah tangga bukan kantor atau perusahaan, yang selalu mencari cara yang paling efisien dalam pengelolaan keuangan ^_^

  2. indahjuli
    Februari 9, 2014

    Setuju, walau punya penghasilan sendiri tetap harus menghargai suami, karena adalah imam kita para perempuan 🙂
    Nice posting.

  3. Miss Fenny
    Februari 9, 2014

    Karena rumah tangga bukan kantor atau perusahaan, yang selalu mencari cara yang paling efisien dalam pengelolaan keuangan — suka bgt dgn quote ini 😉

  4. Miss Fenny
    Februari 9, 2014

    Karena rumah tangga bukan kantor atau perusahaan, yang selalu mencari cara yang paling efisien dalam pengelolaan keuangan — like this 😉

  5. Hanna
    Februari 9, 2014

    Saya gak terlalu mikirin itu uang punya siapa. Pas dapet uang, langsung masukin rekening ‘bersama’. Gak ada uang aku- uang kamu. Malah saya kaget pas ada tetangga yang ngomong gini, “Pengen kerja. Pengen punya uang sendiri.” Loh, uang yang suami ikhtiarkan kan milik Anda juga??? Tapi itu ngomongnya dalam hati. Heheh…
    Intinya, gak kepikiran ada ‘perang harta’ heheh
    Mksh share tulisannya 😀

    • muktiberbagi
      Februari 12, 2014

      sama2 mbak hanna. nino gak mau tercampur duitnya karena ya merasa nafkah itu kewajiban suami. begitu mbak 🙂

  6. ida nur Laila
    Februari 9, 2014

    membungkus pengalaman pribadi menjadi cerita menarik, ini kepiawaian bu Muktia, makasih bu sharingnya…

    • muktiberbagi
      Februari 12, 2014

      sami2 mbak ida. itu pengalaman nina dan nino kook,hihiy

  7. aahhha, aku sangat setuju duitmu duitku, duitku ya duitku.. karena yg wajib menafkahi istri itu tetap suami sekalipun istri bekerja ya mak..
    salam kenal mak Muktia ^^

    • muktiberbagi
      Februari 12, 2014

      salam kenal juga mak arifah.maaf lama balesnya

  8. Keluarga Rizal,Muti,Rafan
    Februari 9, 2014

    sama kaya aku mba ceritanya..tp baru ngeh jg klo laki2 sng ya dimintain..yes minta lg ah hehehehe
    eh bedanya klo aku transfernya ga pake diem2 c..:-)

    • muktiberbagi
      Februari 12, 2014

      haha minta lagi? boleh dah tapi jangan sering2 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 6, 2014 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: