berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Tentang Lelaki Jantan

Salah satu tugas saya sebagai dosen di Universitas Terbuka (UT) adalah memantau pelaksanaan ujian mahasiswa setiap semester yang dilaksanakan serempak di seluruh wilayah tanah air, juga di luar negeri. Kali ini, saya ditugaskan cukup dekat saja, memantau pelaksanaan ujian di Jakarta Timur. Ujian untuk para guru SD dan PAUD itu biasanya dilaksanakan selama tiga hari, yaitu hari Sabtu, Minggu, dan Senin.

Nah, waktu memantau ujian mahasiswa UT yang lalu, hari ketiga. saya menyempatkan sholat ashar di musholla sekolah. Di musholla itu, saya lihat ada seorang bapak sibuk menenangkan anak balitanya yg rewel dan menangis, memanggil-manggil ibunya. Bapak itu tampak dengan sabar membujuk-bujuk si anak, menggendongnya dan mengajaknya ngobrol, mengalihkan perhatian.
“Putranya, pak?”
“Iya bu”
“Ibunya kemana pak?”
“Lagi ujian, bu”
“Kenapa anaknya gak ditinggal aja pak di rumah?”
“Yang pertama dan kedua sudah ditinggal bu, dititipin neneknya”
“Lho, kok malah yang kecil dibawa?”
“Iya bu, kemarin hari pertama dan kedua ditinggal, tapi sekarang agak sakit, jadi kami bawa aja. Takut nyari ibunya” *duh, terenyuh mendengarnya*
“Bapak rumahnya di mana?”
“Kalideres, bu”

Ujian itu dilaksanakan di Rawamangun. Jadi cukup jauh jaraknya dan butuh perjuangan jika jam 07.30 sudah harus ada di tempat. Mungkin harus berangkat langsung usai sholat subuh agar tidak terlambat.
“Naik apa pak, ke sini?” (bayangan saya naik bus way atau taxi lah, wong bawa anak dalam jarak sejauh itu).
“Naik motor, bu”
What? Naik motor??? Jarak sejauh itu, dan membawa anak yang sakit? Duh, subhanallah. Kini antara terharu, trenyuh, juga salut, terutama pada bapak itu.

Hujan gerimis, membuat saya kuatir karena sebentar lagi jam 16, tanda ujian hari ketiga selesai.”Pak, ini hujan lho. Nanti anaknya gimana? Dibuntel-buntel yang rapet ya Pak, kasihan lagi sakit”.
Tak lama, keluarlah si ibu dari ruang ujian, segera mengambil anak dari gendongan bapaknya. Tampak anaknya bahagia dan merasa jauh lebih tenteram, dalam dekapan ibunya. Dan, tentu saja langsung menyusu, obat dari segala obat, rasanya.

Dari bapak ini, saya mendapatkan hikmah luar biasa. Bahwa salah satu tanda MENCINTAI yang utama adalah saling MENDUKUNG dalam kemajuan dan pencapaian cita-cita pasangan. Cinta, tak selayaknya menciptakan belenggu, tetapi justru melapangkan jalan.

Apalagi seorang lelaki, mau mengantar dan mengasuh anak kecil seharian, di tempat yang asing baginya (bukan di rumahnya), itu dukungan yang sungguh luar biasa. Oleh karena hari ketiga ujian adalah hari Senin, sangat bisa jadi, Bapak itu ‘ijin kerja’ dan rela mengasuh anak seharian di tempat ujian (agar anak masih bisa tetap bertemu ibunya secara berkala), demi agar sang istri dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan tenang. Bagi mahasiswa PENDAS yang umumnya adalah para ibu, dukungan semacam ini sungguh sangat terasa berarti. Karena kampus UT tidak pernah mengenal ada ujian susulan. Dibutuhkan kerja sama yang sinergis dan saling mendukung dari keluarga, terutama dari pasangan, agar mahasiswa dapat segera lulus dan mencapai cita-cita yang diidamkan.

Bapak itu memberikan satu kesimpulan pada saya: ~LELAKI JANTAN, bukanlah lelaki yang berbadan tegap dan berdada bidang, tetapi lelaki yang mampu MEMULIAKAN PASANGAN~

Gambar.

Iklan

6 comments on “Tentang Lelaki Jantan

  1. rodamemn
    Januari 16, 2014

    setuju mak…. 🙂

  2. irowati
    Januari 16, 2014

    betul banget…spti Rosulullah pdhl seorang lelaki paling agung di seantero bumi ini, beliau msh menjahit sdri bajunya yg robek, membantu istrinya menggiling gandum didapur dsb….ini disebut super jantan…

  3. tikamustofa
    Januari 22, 2014

    ~LELAKI JANTAN, bukanlah lelaki yang berbadan tegap dan berdada bidang, tetapi lelaki yang mampu MEMULIAKAN PASANGAN~ >> suka sekali dengan kalimatnya, mbak. 😀

    • muktiberbagi
      Februari 6, 2014

      ehehe. tapi ada juga tuh yg protes, yg merasa pnya badan tegap dan berdada bidang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 16, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: