berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Belajar dari Tukang Kerak Telor Belia

P1100412

“Kayaknya kok ajeng ngefans banget sama tukang kerak telor itu? Dari tadi ngobrol, lama bener” begitu komentar suami saya, saat saya tergopoh-gopoh menyusulnya di area lain di kawasan Bonbin Ragunan yang luas.
“Ehehe, iya ngefans banget emang. Nanti deh, penjelasannya panjang,” jawab saya sambil tertawa-tawa.

Dan, inilah penjelasan yang saya maksudkan. Sedikit tulisan tentang si tukang kerak telor itu, yang sempat membuat suami saya penasaran.

——————-

Kerak Telor. Makanan khas Betawi itu salah satu makanan favorit saya. Sayangnya, makanan itu jarang saya jumpai di banyak tempat di Jakarta. Paling hanya di tempat-tempat hiburan atau even pameran. Nah, saat beberapa waktu lalu mengantar Hibban ke Bonbin Ragunan, saya ketemu dengan tukang kerak telor. Rasanya langsung perut mendadak lapar ๐Ÿ˜€

Segera saya dekati tukang kerak telor itu. Tampangnya masih muda, dan ini termasuk kejadian langka. Biasanya, tukang kerak telor yang saya temui sudah tua, bapak-bapak lah. Atau minimal ya pemuda duapuluhan. Tapi yang ini, kok tampangnya muda banget ya? Penasaran, sambil dia memasak pesanan saya, saya ajak dia mengobrol.
“Rumahmu di mana dek? Kok jualannya di sini?”
“Di belakang situ bu, dekat danau” (maksudnya pintu belakang Bonbin Ragunan)
“Siapa yang ngajarin bikin kerak telor? Bapaknya ya?”
“Bukan Bu. Diajarin tetangga saya, kok”
“Lho? Adek asalnya Betawi asli?”
“Bukan Bu. Saya Jawa. Ibu Madiun Bapak Cilacap”ย  (Lah, salah tebak melulu dah saya)
“Kok bisa jualan kerak telor, awalnya gimana?”
“Ya buat nambah uang jajan aja Bu. Malu kalau minta sama Ibu terus”
Kali ini saya tertegun. Mulia sekali niatnya untuk berjualan. Tak ingin merepotkan orang tua. Hmm, tak semua anak muda memiliki pemahaman yang mulia seperti ini.

“Ngomong-ngomong, itu tetangganya yang ngajarin, jualan kerak telor juga?”
“Iya bu. Di sini juga kok”
“Lah? Terus dia gak merasa disaingi gitu, kamu juga jualan di sini? Gak marah dianya?”
“Nggak lah bu. Ini kan punya dia. Saya cuma anak buahnya”
(Salah persepsi lagi nih saya. Dalam hati, hebat sekali ini anak. Mau ‘ngenger’ ke tetangga dengan usaha apa saja asal halal).
“Oo, Jadi yang jualan untuk bapak itu banyak di sini? Gak cuma kamu?”
“Iya bu. Ada 6 orang di Ragunan ini”
“Teman-temanmu yang 5 gimana? Muda-muda juga seumuranmu?”
“Enggak bu. Tua-tua. Jutek-jutek lagi. He” jawabnya sambil tersenyum.
Weh, tahan mental juga ini anak. Hebat! Demi tetap punya penghasilan, menjadi anggota paling junior dari sebuah perkongsian sederhana, dengan resiko kadang dibully oleh anggota-anggota lain yang jauh lebih senior. Oalah.

Karena tampangnya masih muda, saya nanya apakah dia masih sekolah.
“Udahan bu, sekolahnya” (Batin saya, duh, sayang sekali ya. Anak seulet ini harus putus sekolah karena ketiadaan biaya).
“Oh begitu. Sayang dong ya, jadi putus sekolahnya” timpal saya iba.
“Nggak kok bu. Saya masih sekolah” (Lah? Saya salah tangkep lagi)
“Oh ya? Kelas berapa?”
“Kelas 3ย  SMP bu”
Saya terbengong. Subhanallah, jadi dia masih sekolah di SMP to? Tadinya saya pikir dia anak SMA kelas 2 atau 3 begitu, karena tampangnya cukup dewasa. Ternyata kelas 3 SMP, artinya itu seumuran Hurin, anak sulung saya.

“Terus, jualannya gak tiap hari , dong?”
“Memang nggak bu. Kalau hari minggu apa libur sekolah begini aja”
“Emm, sekolahnya dimana dek?”
“SMP 175 bu” (What? Ternyata dia anak SMP negeri? Artinya, dia bukan anak yang so-so aja otaknya. Bahkan boleh dibilang encer lah, rasa-rasanya).

Anak muda yang lalu kuketahui bernama Pian ini, makin membuatku terpesona saja.
“Ohyaya saya tahu SMP 175. Jualan kerak telornya sejak kapan, Pian?”
“Sudah 2 tahun ini Bu”
Hmm, 2 tahun? itu artinya sejak dia kelas 1 SMP! Subhanallah, sekali lagi saya makin terkagum-kagum. Anak umur segitu sudah memikirkan bagaimana mencari uang tambahan, dengan profesi yang rasanya bagi ABG lain dianggap ‘gak level banget deh’, jadi tukang kerak telor. Itu kan profesi aki-aki, ya minimal bapak-bapak. Tapi ini? Anak lulusan SD. Anak metropolitan lagi, yang biasanya lekat dengan budaya hura-hura. Horeee!

“Pian, nanti kalau lulus SMP jangan berhenti sekolah ya. Harus lanjut SMA, terus kalau bisa kuliah,” pesan saya sambil merasa terharu campur iba.
“Iya bu, saya juga pengin nerusin ke SMA kok. Tapi saya mau pilih SMK”
“SMK? Mau ambil teknik mesin, begitu?”
“Bukan bu, Saya pengin masuk tata boga.” Jawabnya dengan sangat mantap.
Gleg! Kali ini saya benar-benar melongo. Anak kelas 3 SMP ini sudah punya arah cita-cita yang sangat jelas ternyata. Mendalami ilmu kuliner dan hidup darinya, dan itu diawali dari mempelajari dan mengalami langsung jadi tukang kerak telor. Ah, Pian,.. Pian. Tetiba terbayang anakku Hurin di rumah, yang masih sebaya dengannya. Memang ketiadaan fasilitas dan sarana sering membuat orang menjadi jauh lebih kreatif. Hurin dibesarkan dalam keluarga yang Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhannya, sehingga mungkin tidak kepikiran untuk jualan ini itu atau usaha apa guna menutupinya. Tetapi selama dia berada di boarding dengan uang saku yang terbatas sesuai aturan boardingnya, saya juga melihat kreativitas semacam itu muncul. Pernah dia dan teman sekamarnya membuka usaha ‘salon muslimah’, dan dia bertugas jadi massager alias tukang pijat. Teman-temannya yang lain ada yang bertugas bagian facial, ada yang cuci rambut, dll. Siapa customernya? Tentunya teman-temannya yang berbeda kamar, dengan tarif murah meriah ala pelajar.

Eh, kok jadi ngelantur. Kembali ke Pian. Tiba-tiba saya ingin memotivasinya.
“Wah! Bagus banget itu Pian, kalau masuk tata boga. Ntar bisa dilanjut kuliah di perhotelan bagian tata boga juga, atau di IKIP jurusan tata boga. Adek ibu juga lulusan tata boga IKIP Semarang. Orderan bikin kue ini itu kalau ditelateni bisa melebihi gaji bulanan PNS lho! Apalagi kalau nanti Pian bisa jadi chef terkenal. Wuih! Kan sekarang banyak tuh chef laki-laki yang masih muda,” kata saya panjang lebar, sambil tiba-tiba semangat sendiri membayangkan Pian dewasa suatu saat nanti.
“Iya bu. Makasih. Doakan ya bu?”
“Okeh. semoga berhasil mencapai cita-citamu ya”

Pertemuan sekilas itu memang membuat saya sangat terkesan dengan sosoknya. Supaya saya tak kehilangan jejak, di akhir pertemuan saya meminta nomor hapenya dengan alasan, “Siapa tahu nanti ibu pengin makan kerak telor lagi, kan bisa pesen ke Pian.”
Padahal mah dalam hati merasa, bahwa saya tak boleh kehilangan jejak anak ini. Saya merasaย  bahwa nomor hape itu pasti ada gunanya suatu saat. Anak setangguh dan seulet dia, tak boleh dibiarkan layu meranggas dan mati potensi karena daya dukung finansial yang tak memadai.
“Boleh bu. Mau Pin BB saya juga bu? Ada kok”
Ealah, malah nawarin pin BB juga. Tawarannya saya terima dengan senang hati, meskipun sampai hari ini dia tak saya invite di BB saya. Takut lucu aja, gak nyambung gitulah, dunia emak-emak versus dunia ABG seumuran Pian ๐Ÿ˜€

Dari Pian, tukang kerak telor belia itu, saya belajar. Bahwa mimpi harus dibangun sejak dini, dan dirintis sedikit demi sedikit, Tak perlu melihat bagaimana orang pada umumnya, tak perlu gengsi dan malu, karena yang tahu bagaimana cara meraih mimpi itu adalah kita sendiri. Pian, ABG kelas 3 SMP itu, mampu bepikir out of the box.ย  Sedikit dari kita yang mampu berpikir seperti itu.

Iklan

13 comments on “Belajar dari Tukang Kerak Telor Belia

  1. yantist
    Januari 10, 2014

    Sempat difoto juga ya, Mak ๐Ÿ˜€
    Saya juga suka kerak telor. Salut buat Pian, semoga menjadi orang sukses. Aamiin ๐Ÿ™‚

    • muktiberbagi
      Januari 10, 2014

      haha, malah ada 6 atau 7 foto tuh dia di kamera saya. makanya sampai suami saya komen. hihi. amiiiin

  2. Arifah Abdul Majid
    Januari 10, 2014

    hebat ya si pian itu mak ^^ masih kecil tapi pikirannya udah maju ke depan, tipe laki-laki pekerja keras.. salutt *acung jempol*

    • muktiberbagi
      Januari 10, 2014

      iya hebat banget. ABG jakarte gitu lho, kok mau jualan kerak telor

  3. irowati
    Januari 10, 2014

    pemuda yg langka mak…jaman skrg sangat jarang spt itu…salut deh u Pian….semoga sukses menggapai cita2nya…amiiiin

  4. @mirasahid
    Januari 10, 2014

    Subhanallah, aku yang mbaca aja, sampai terkagum-kagum, wajar dirimu banyak kagetnya, mak. Xixixixi. Semoga Pian kelak mampu menjadi apa yang diharapkannya. Aamiin. TFS ya, mak. Inspiratif

    • muktiberbagi
      Januari 10, 2014

      iya mak mira. jadi saya banyak bengongnya n salah nebak melulu. anak jakarta gitu lho.. pengecualian banget!

  5. ida nur Laila
    Januari 10, 2014

    aku malah nangis terharuu nih…Pian keren…tulisan juga keren.Saya kalau mulai nanya-nanya sama orang, diolok anak-anakku” mesti…umi mau jadiin tulisan…!” saya bilang, “Cerita inspiratif seperti ini memang harus dibagi kepada banyak orang, apalagi anak-anak remaja seperti kalian…”
    makasih bu atas kisahnya. Mestinya bu muktia kumpulan tulisan ringannya sudah jadi chicken soup.

    • muktiberbagi
      Januari 11, 2014

      itu juga ART sy yg ikutan beli udah senyum2 aja mbak. ngerti dia kalau bakal jadi tulisan ntarnya deh ๐Ÿ˜€
      iya memang kapan2 pengin jadi smacam chicken soup tapi belum sempat ngumpulinntya

  6. sunarno2010
    Januari 13, 2014

    membangun mimpi yang sejak kecil sudah dimulai menitinya, sangat memotivasi untuk semakin giat menggapai mimpi, salut untuk pian yang sudah memiliki pijakan dalam menuju terwujudnya mimpi

  7. Ping-balik: Kejujuran Pengawal Keberkahan | berbagi cinta & makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 10, 2014 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: