berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

BIDADARI

mencoba menyimak tulisan si sulung. sebenarnya ini tugas mapel bahasa indonesia-nya.
&————-&

BIDADARI
Oleh Hannaila Hurin Iyn, klas 9 fatimah

Kejadian ini berlangsung kurang lebih 3 tahun yang lalu.
Malam itu keluargaku menginap di rumah salah satu saudara. Kami kebagian satu kamar, namun tidak cukup untuk kami yang berjumlah 5 orang. Akhirnya aku, ayahku, dan Fahrin terpaksa tidur di ruang tamu.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun aku belum bisa tidur juga. “Ah!” tiba-tiba adikku, Fahrin terbangun. Wajahnya penuh keringat dan tampak kaget. Kemudian ayahku segera menidurkannya.

Keesokan paginya, kami berencana jalan-jalan ke Taman Pintar. Di Taman Pintar semua anggota keluargaku sangat menikmati, namun Fahrin terlihat lesu. Setelah bermain ke Taman Pintar kami pamit pulang dengan Om Heri. Kemudian Om Heri mengantarkan keluargaku ke Bandara Adi Sucipto.

–Landing—Setelah mengambil barang-barang kami ke lobby, menunggu ayah mengambil mobil. Jam menunjukkan sekitar pukul 1 siang. Namun Fahrin masih memakai jaket, tentunya kami yang melihat ikut merasa gerah. “Dek, ini jaketnya dicopot aja, panas.” “Gak mau Ibu, dingin.” Aku juga bingung dengan jawabannya. Padahal siang bolong begini, masa sih, dingin? Tak lama kemudian ayahku datang membawa mobil. “Yuk, yuk, naik.”

Sesampai kami di rumah, kami segera sholat, makan kemudian tidur karena lelah. Mbak Minah, khadimat kami memanggilku, “Rin, kok Fahrin beda, ya, sama biasanya?” aku melirik ke arah Fahrin, “Ah, beda apanya Mbak? Perasaan biasa aja,” “Beda, beneran deh. Kayak lebih bercahaya gitu,” aku melirik lagi, “Perasaan sama aja deh, Mbak.” Kemudian aku berjalan ke kamar, tidur.

Aku segera bangun dari tidurku. Saat aku bangun, ternyata keluargaku sudah bangun juga, kecuali Fahrin. Aku menyalakan tv. Rasanya aku mendengar Fahrin memanggilku. Segera aku menuju kamar Fahrin. “Apa?”. Oh, rupanya ia baru saja muntah. “Kak, kaki aku sakit gak bisa digerakin.” “Hah? Gak bisa digerakin? Bentar Kakak panggil ibu dulu, Ibuuuu…” “Apa, Rin?” “Ini Fahrinnya bangun,” “Oh ya, sebentar.” Ibuku menuju kamar Fahrin. “Eh, udah bangun. Loh, muntah, ya?” Tak sempat menjawab, Fahrin langsung muntah lagi. “Kak, cepat tolong ambilin baskom,” “Iya.”.

Tak berapa lama kemudian, ibu dan ayahku bersiap-siap seperti hendak ingin pergi. “Bu mau kemana?” “Rumah sakit, ini kayaknya Fahrin udah parah sampai badannya biru gitu,” “Mau ikut!” “Jangan nanti lama lagi siap-siapnya,” aku hanya mengangguk saja.

Aku dan Adnin, adikku cemas menunggu ayah, ibu, dan Fahrin pulang dari rumah sakit. Kriing.. Kriing.. Suara telepon rumah berdering, aku segera mengangkatnya. “Halo?” “Halo, Rin, ini Ayah, tolong panggilin Bude!” “Fahrin gimana, Yah?” “Panggil Bude dulu!” aku berteriak memanggil bude. “Halo, Pak?” bude mengangkat telepon, “Innalillahi..” “Kenapa Bude?” tanya aku dan Adnin pensaran. Bude segera memindahkan telepon kepadaku, “Ayah, Fahrin gimana?!” “Dek Fahrin meninggal, Rin.” Rasanya tak kuat aku mendengar kabar duka itu. Segera kututup telepon dari ayah. Seisi rumah menangis, tidak menyangka Fahrin yang baru berumur 3,5 tahun sangat cepat dipanggil Allah SWT. Rupanya Allah SWT lebih sayang.

Suasana rumahku masih sendu, sementara ayah dan ibu belum pulang dari rumah sakit. Para tetangga dan sanak saudaraku mulai berdatangan ke rumah, membawa buku yasin. Kemudian ayah dan ibuku pulang, tidak dengan mobil ambulan, tapi mobil yang tadi dibawa untuk mengantar Fahrin ke rumah sakit juga. Jenazah Fahrin dipangku ayah dan ibuku, sementara supir dari rumah sakit turut membantu.

Malam itu menjadi malam yang sangat kuingat. Malam duka, tangisan semua orang yang datang ke rumahku menambah duka suasana. Aku paling tidak tahan melihat ibuku menangis. Ternyata, penyebab meninggal adikku adalah saat dia muntah, dia masih dalam keadaan tidur, sehingga muntahnya tertelan dan masuk ke rongga paru-paru.

Sebagian tetanggaku berbincang, “Harusnya gak usah dikasih makan dulu. Biar kalo muntahnya masuk ke paru-paru gak terlalu beracun, cuman air.” Yaa, siapa yang tahu ajal? Aku juga sudah melihat berbagai pertanda, kelesuan Fahrin di Jogja, lalu Mbak Minah bilang, wajahnya bercahaya, kemudian dia bilang kalau kakinya sakit nggak bisa digerakkan.

Paginya, sebagian teman sekolahku melayat ke rumah. Nia, temanku yang dekat dengan Fahrin menangis di hadapanku, “Hu hu hu, kok bisa, sih Rin?” adu Nia.

Penguburan dilaksanakan siangnya karena menunggu kedatangan kakekku dari kampung. Setelah kakekku datang, penguburan langsung dilaksanakan.
————————————————————————————–
1 tahun kemudian

Ciit cuiit ciit.. Merdunya kicauan burung menambah kedamaian taman itu. Kini aku sedang bermain ayunan di depan danau yang sangat indah, sendirian. Aku tidak tahu di mana tempat itu. Yang jelas, aku memakai gaun putih juga mahkota. Aku tidak mengerti sama sekali. Tiba-tiba ada yang memanggilku dari balik semak-semak. “Siapa?” “Kak Hurin, sini, Kak!” “Kamu siapa?” Aku mendekati semak-semak itu. Keluarlah seorang gadis cantik, bergaun putih sepertiku, juga memakai mahkota. Seperti… Bidadari. Ya, Bidadari. “Kamu siapa?” tanyaku. Aku sangat bingung dengan semua ini. “Aku Fahrin,” “Hah? Kamu Fahrin?” “Iya, Aku Fahrin.” “Beneran?” “iya,” aku spontan memeluk gadis yang katanya Fahrin itu. Ya, dia sudah besar, sangat cantik. “Dadah Kak, aku pergi dulu, ya,” “Eh.. I.. Iya..” jawabku gugup. Aku masih kaget, bingung.

Deg… Aku terbangun dari tidurku. Ternyata itu semua mimpi. Mimpi pertanda apakah itu? Apa itu… Surga?

TAMAT
——————-
*dan sudut mata ini menyungai tanpa mampu dibendung.
beginilah rasanya. rindu seorang kakak pada adiknya, pun rindu seorang ibu pada putrinya.

mendadak juga ingat tulisan kak hurin, 3 tahun lalu. dia tulis belum genap sebulan setelah dek fahrin tiada. judulnya, tentang rindu. puisi yang juga mengharu biru hatiku.

Gambar

Iklan

12 comments on “BIDADARI

  1. ida nur Laila
    Januari 9, 2014

    duuh saya ikut menangis…cinta kakak yang indah…

  2. azzahravoice
    Januari 9, 2014

    kereeeen sekali bu Kak Hurin, masya Allah :’)

  3. irowati
    Januari 9, 2014

    Sabar ya kak..insyaallah kelak bertemu adek di Jannah-Nya Allah…

  4. Tita Bunda Aisykha
    Januari 9, 2014

    aku meleleh mba,,semoga Fahrin ditrima di sisiNya ya mba,,bwt kak Hurin, sabar ya sayang,,insyaAllah nnti sama2 dek Fahrin lg di surga yaa,,

    • muktiberbagi
      Januari 9, 2014

      amiiiiin, iya semoga kami semua diberikan kesabaran 🙂

  5. aisyazzahraAtthia
    Januari 10, 2014

    Fahrin, Kak Hurin,
    pelukk >,<

  6. nuning
    Maret 13, 2014

    Speechless… Insya Allah akan berjumpa dek fahrin di syurga… Aamiin YRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 8, 2014 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: