berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Supporting System dalam Keluarga: ~Balada Jika Pasangan Kuliah Lagi~

Gambar
Ini sekedar membayangkan. Seorang istri, banyak yang mendampingi suaminya untuk melanjutkan studi. Kadang sampai harus ikut boyongan pindah bersama anak2. Ada yang sekedar pindah ke lain daerah, ada yang ke lain negara. Ada juga yang harus mengorbankan karirnya sebagai perempuan pekerja, resign dari pekerjaan, demi mendampingi suami dan anak2 agar tetap utuh sebagai sebuah keluarga. Agar suami menemukan tempat kembali saat disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang memeningkan kepala. Agar anak-anak juga tetap merasakan kehadiran figur seorang lelaki dewasa bernama ayah yang siap melindunginya. kepada para istri yang telah mengorbankan banyak hal demi hal ini, saya acungkan jempol. Berbahagialah suami anda memiliki istri seperti anda.
Di balik kesuksesan kuliah seorang suami, ada istri hebat yang mendukung dan memotivasi ๐Ÿ™‚

Di satu sisi, sebagai istri memang kita juga justru ingin suami terus menimba ilmu. Selain penambahan wawasan, tak dapat dipungkiri bahwa itu juga bersinergi lurus dengan peluang peningkatan karir dan finansial, terutama di instansi pemerintahan. Ibaratnya, kalau perlu suami kita dorong-dorong gimana caranya supaya mau kuliah lagi atau menuntut ilmu lagi, di antara kesibukannya mencari nafkah menghidupi anak istri. Nah, jika sudah berjalan harus kuliah sambil kerja, maka ya memang konsekwensinya pendampingan dan permakluman yang dalam dari istri tercinta, dan anak-anak. Seorang yang sedang kuliah, memerlukan banyak waktu untuk menyendiri, mempelajari buku-buku diktat yang membukit, mengerjakan tugas dari dosen yang tak sedikit, juga mulai menyusun rencana riset untuk tesis/disertasinya. Mungkin jatah untuk ‘jalan-jalan’ tak akan sesering sebelumnya. Selain waktu yang sempit, juga harap maklum. Kantong orang kuliahan biasanya lebih tipis dari yang hanya bekerja.

Sekarang posisinya dibalik. Istri yang menempuh kuliah lagi, tentu harus seijin suami. Ini agak berbeda. Tak mudah, dan tak banyak suami yang dengan legawa mengijinkan istrinya kuliah lagi. Apalagi tahu konsekwensinya yang nanti akan mengiringi. Istri akan banyak disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, yang mungkin akan menyebabkan pekerjaan rumah tangga agak keteteran. Ada kalanya istri pulang selepas magrib, karena jadwal kuliah memang wewenang para dosen yang tidak bisa diutak-atik. Ada kalanya anak-anak berangkat tidur tanpa ibunya di sisi, dan ayah yang dengan legawa menemani. Ada saatnya pekerjaan mencuci atau beres-beres rumah baru separuh jalan, tetapi harus segera berangkat ke kampus agar tidak terlambat.
“Kok belum berangkat?”
“Iya takut telat. Tapi ini cucian gimana? Belum kelar”
“Tinggal saja. Ayah yang bereskan”
Alhamdulillah, suami yang pengertian ๐Ÿ™‚

“Duh anak-anak gimana nanti pulangnya? Ibu gak bisa jemput. Kuliah sampai malam”
“Beres. Nanti Ayah yang jemput”
Sekali lagi, alhamdulillah, suami pengertian.

Saat malam mulai agak larut, sementara anak-anak belum tidur. Si ibu dikejar dedlen tugas kuliah yang harus dikumpulkan esok hari. Ayah membujuk anak-anak, “Yuk tidur sama ayah. Kasihan ibu lagi banyak kerjaan kuliahan. Kita doakan ibu saja ya biar cepat kelar tugasnya”
Sekali lagi, itu alhamdulillah, luarrr biasa menyejukkan.

Bagi saya, yang seorang istri, seorang suami yang mengijinkan istrinya untuk banyak meningkatkan diri mencari bekalan ilmu, lalu paham konsekwensinya dan tetap mendukung sepanjang perjalanan menuju ujungnya, sungguh suami berhati mulia. Beruntung saya memiliki seorang suami sekaligus ayahnya anak-anak yang sangat sangat legawa, berhati putih seputih awan. Hanya membayangkan, andai saja sejak awal beliau tak mengijinkan saya kuliah S3 (sementara beliau sendiri juga belum S3), saya juga nggak bisa apa-apa. Patuh aja. Tetapi, alhamdulillah, beliau bukan tipe laki-laki yang memenangkan egonya.

Di sisi lain, ada saatnya saya juga merasa ‘bersalah’. Karena saya terbiasa jail, sejak banyak tugas kuliah saya ‘agak terlupakan’ untuk jail pada suami. Fokusnya teralihkan ke menumpuknya tugas kuliah, takut tidak terselesaikan ๐Ÿ˜€
Dan, mungkin, suami juga merasakan perubahan itu, merasa kehilangan sosok si ‘ratu jail’ ๐Ÿ˜€
“Kayaknya jadi serius banget deh, di depan laptop terus” *protes tapi lembut*
“Haduuh. Maaf ya mas. Abis ini tugasnya banyak banget. Belum kelar. Huhu. Padahal dikumpul besok”
“Ayah bisa bantu apa? Kalau bisa ayah bantu, ayah bantuin deh”
“Eh? bantu doa aja deh, Sama bantu minta keikhlasannya, Ajeng boleh menyendiri sebentar ya, biar bisa konsen ngerjain tugsanya” *terharu*
“Oke! sippp, semangattt! jangan menyerah”

Lalu mata saya mengiringi beliau masuk kamar diikuti dua anak kecil. Melepasnya dengan pandangan terharu, dan sejenak kemudian tenggelam dalam tumpukan buku dan laptop lagi. Semoga apa yang hilang sementara ini, akan ada gantinya yang lebih baik di lain hari.
Terima kasih mamas, untuk semua dukunganmu.
Di balik seriusnya seorang istri yang sedang kuliah lagi, ada suami hebat yang selalu memahami, mendukungย  dan memotivasi ๐Ÿ™‚

Iklan

4 comments on “Supporting System dalam Keluarga: ~Balada Jika Pasangan Kuliah Lagi~

  1. punyahannawilbur
    Desember 20, 2013

    Iya, terasa waktu saya dulu kuliah :’). Alhamdulillah ada suami yang luar biasa senantiasa mendampingi.

    • muktiberbagi
      Desember 21, 2013

      alhamdulilah. kebayang jika suami gak akomodatif yaa

  2. N J Jannah
    Januari 1, 2014

    iya sepakat mba… sy sndr ngerasa banget pas ini lagi kuliah, suami byk banget ngebantu dan mendukung ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 20, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: