berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Haruskah Menyekolahkan Anak di #Boarding?

Gambar

1. Kenapa kami memilih sekolah #Boarding? Karena pendidikan tak hanya berorientasi aspek akademis, tapi juga aspek kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, kerjasama, kejujuran, dll. Nilai-nilai itu akan lebih terasah di #boarding, yang memungkinkan anak bergaul 24 jam x 7 dalam sepekan.

2. Apakah kelekatan orangtua-anak menjadi renggang kalau anak sekolah#boarding? Sangat tergantung berbagai hal, antara lain kualitas komunikasi anak-orang tua, aturan di #boarding tersebut, dll. Karena tak sedikit juga, anak yg tidak boarding dan secara fisik dekat dengan orang tua, tapi secara psikis justru renggang, masing-masing sibuk dengan urusannya.

3. Bukankah lingkungan yang terbaik bagi anak adalah keluarga? Mengapa harus menyerahkan pendidikan ke pihak lain di #boarding yang menjauhkan pola hubungan orangtua-anak?
Betul bahwa keluarga adalah lingkungan terbaik, tetapi tak berarti ‘selalu’ terbaik. Ada saatnya anak perlu belajar dari orang lain, yang lebih mumpuni. Orangtua para imam besar pun demikian, rela melepaskan anaknya sejak kecil, menyerahkan kepada syaikh tertentu yang ahli. Berpindah dari satu syaikh ke syaikh lain, yang jaraknya bahkan bisa lintas negara.
Bagi para pecinta ilmu, kedekatan hubungan orangtua-anak tak dibangun semata karena fisik, tapi juga kerjasama yg baik antara orang tua dengan guru, bunda atau panda asramanya. Semua mereka juga orangtua.

4. Bukan berarti juga orangtua yang menyerahkan anak-anaknya ke #boarding itu artinya lari dari tanggung jawab mendidik. Apa berani kita menuduh orang tua para imam besar itu, termasuk imam Buchori, adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab, karena menyerahkan Buchori kecil kepada ulama lain untuk menuntut ilmu?
Tanggungjawab orang tua tak sebatas semandhing atau gak semandhing dengan anak. Karena ada kalanya yang semandhing pun justru kurang peduli pada anak.

5. Bagaimana cara memadukan keinginan orangtua dengan anak agar mau sekolah di #boarding? Keinginan orangtua memilihkan sekolah #boarding, lalu perlu dipadu dengan keinginan anak. Tapi tidak serta merta menyerahkan pilihan ke anak, karena pertimbangan anak biasanya masih sebatas suka tidak suka. Kita bisa mengajak anak survey ke beberapa sekolah, baik boarding maupun non-boarding yang termasuk ‘kandidat’.
Sebelumnya, tentu orangtua harus searching dulu list sekolah yang masuk keranjang kandidat. Lalu siapkan waktu untuk survey, jauh-jauh hari (kira-kira setahun sebelum masa tahun ajaran baru tiba).

6. Dari hasil survey ke beberapa #boarding yang masuk list kandidat, silakan dibuat pemetaan, SWOT, lalu dengar pendapat anak. Secara asertif juga boleh kita sampaikan keinginan kita bahwa kita prefer yg boarding, tapi tidak berarti pendapat kita lah yang harus diterima. Biasanya, jika anak mendapatkan gambaran yg utuh tentang beberapa #boarding yg sudah disurvey, dia akan mampu memilih salah satunya.
Tentu kita tak lupa, bahwa kesukaan, minat itu bisa dibentuk. Salah satunya adalah dengan immersion, dibenamkan, dikenalkan. Kalau bahasa Qurannya, ‘shibghoh’. Survey secara menyeluruh merupakan salah satu bentuk immersion MINIMAL yang bisa kita lakukan. Usaha lebihnya? bisa ikut program seat in, yang memang ada di beberapa boarding. Semata untuk menumbuhkan ‘suka’, menjajal kehidupan asrama.

7. Hal apa saja yang perlu dalam memilihkan sekolah #boarding? Kalau saya nih ya, pertimbangannya adalah:

  • Sistem pendidikannya, titik tekannya dimana. Ada yg menekankan ke hafalan, ada yang tidak. Juga termasuk pola sangsi yang diterapkan jika ada pelanggaran disiplin, cenderung ‘keras’ atau masih bisa ‘lembut’.
  • Juga sarana prasarana termasuk kebersihannya (karena anak akan tinggal disitu sehari-harinya).
  • Kualifikasi pendidikan para guru dan bunda/panda asrama, karena itu juga akan turut menentukan cara mereka dalam ‘mendekati’ anak kita.
  • Lalu pola komunikasi yg diterapkan untuk orangtua-bunda-anak-guru selama anak sekolah. Kapan saja bisa telpon ke anak, bagaimana caranya, dll. Juga apakah guru & bunda/panda cukup akomodatif dengan masukan-masukan dari orang tua.
  • Juga jarak boarding dengan rumah kita (karena nanti kita akan rutin menjenguknya, yang biayanya tentu tidak sedikit).
  • Daaaan, ini nih, kemampuan finansial kita. Mau gak mau biaya di #boarding biasanya memang lebih mahal daripada yang nonboarding (dengan kualitas setara).

8. Selain komunikasi yang baik anak-orangtua, satu hal lain yang tak bisa dinafikan saat memasukkan anak ke #boarding, adalah kekuatan DOA. Anak berdoa di #boarding nya, orangtua juga berdoa untuk anak yang jauh dari pandangan mata. Karena, 24 jam sehari pun kita membersamai anak, tak ada jaminan apa-apa bahwa anak kita akan baik-baik saja. Lebih baik diserahkan pada Allah, sebaik-baik Penjaga.

Doa juga akan membantu hati orangtua yang ‘semedhot’ berpisah dengan anak. Tak hanya anak yang ‘mbok-mboken’, sedih karena berpisah dengan orangtua. Ayah ibunya pun juga ‘anak-anaken‘, rasanya tak tega meninggalkan ananda disana. Tak ada orangtua yang melepaskan anaknya di #boarding dengan sukacita.Tak ada! Tapi demi sebuah cita yang sama didamba, baik oleh anak maupun orangtua, proses ini memang harus dilalui. Bismillah, dengan DOA, hati akan lebih lapang menerimanya.

9. Berapa usia yang tepat untuk memasukkan anak ke #boarding? Ini tergantung dari kesiapan anak dan orangtua juga. Yang jelas, jika kita mengikuti tahap usia menurut Ali bn Abi Thalib, pada usia 0-7 tahun saat masa bermain itu paling bagus anak tetap bersama orangtuanya. Nah untuk tahap berikutnya 7-14 tahun (masa mengajarkan adab) dan 14-21 tahun (sebagai ‘teman’, roofiquhum), anak relatif sudah bisa dikondisikan. Tapi semuanya berpulang pada kesiapan kedua pihak, anak dan orangtua.

Maka ada juga #boarding untuk anak usia SD, dan justru kadang anak yang meminta kesana, setelah dia mendapatkan gambaran yg cukup tentang boarding tersebut. Ada juga yang baru siap #boarding saat SMP, atau saat SMA. Saya sendiri melihat, paling tidak, anak pernah merasakan kehidupan #boarding dalam penggal hidupnya. Entah itu SD, SMP, atau SMA-nya. Itu perlu untuk menajamkan sisi-sisi positif kepribadiannya, yang tentu berbeda jika anak terus bersama orangtua.

10. Bagaimana supaya anak tetap menjadikan orangtua tempat curhat pertamanya, meski ananda ada #boarding nun disana? Pun saat dia harus menghadapi awal balighnya?

Saya jawab pakai pengalaman saja ya. Di boarding anak saya, ada jadwal bisa nelpon 2x dalam sepekan (ditentukan harinya). Nah saat telpon itu, curhat anak akan keluar seperti air hujan. Bisa nelpon sampai 1 jam, he.
Tapi itu normally. Jika ada urusan genting, kita bisa minta bantuan bunda asrama (bunda yang bertanggung jawab per kamar) untuk telpon langsung atau sekedar sms ke anak. Selain itu, pada hari ahad anak juga bisa dijenguk, anytime. Itu juga momen untuk curhat-scrhatan seharian. Nah, untuk melepas kangen bersama seluruh keluarga, sebulan sekali anak bisa diajak ‘pesiar’ oleh keluarganya (dari sabtu sore sampai ahad sore). Tapi beda boarding mungkin beda juga aturannya. Itulah perlunya survey.

11. Di #boarding, ada juga yg bisa kita sebut momen nasehat orangtua. Untuk momen-momen tertentu yg urgent (misal menjelang anak-anak ujian atau pekan quran), biasanya bunda asramanya akan mengirimkan sms supaya tiap orang tua mengirimkan sms ke bunda, lalu bunda tersebut yang akan menuliskan ulang di secarik kertas yang dibagikan pada tiap anak, sesuai pesan ortu masing2-masing. Kadang juga dibagikan dengan cara ditempel di lemari pakaian tiap anak. Dengan dituliskan, tak hanya lisan, diharapkan nasehat ini akan menjadi motivasi kuat bagi anak.

Ada juga boarding yg mengemas momen ini dengan cara mempertemukan anak langsung dengan orang tuanya masing-masing tapi secara terkoordinir, lalu orang tua diminta memberikan nasehat bagi anaknya, dalam waktu tertentu. Momen ini juga biasanya mengharu biru.

12. Jadi, baik mana untuk nyekolahin anak, #boarding atau gak boarding? Jawabannya tidak bisa saklek A atau B, masing-masing punya jejaring faktor yang menjadi landasan pertimbangan tiap orang tua. Sama halnya dengan pilihan: sekolah di lembaga apa homeschooling aja, mana yang baik? Tentu pertimbangannya beragam. Semua baik, asal dilandasi niat yang benar, cara yang benar dan pertimbangan yg matang serta kondisi yg mendukung.

Saya juga bukan penganut harus #boarding. Lha kalau anaknya gak pengin, piye? Mosok mau dipaksa. Kalau sudah gak sesuai minat, dipaksa-paksa, yang muncul justru anak defensif, larinya nanti bisa underachiever. Parahnya malah mogok sekolah. Bahaya.

Udah, tamat yaa 🙂

Gambar

 

Iklan

14 comments on “Haruskah Menyekolahkan Anak di #Boarding?

  1. Donna Imelda
    Desember 4, 2013

    Xixixi….anakku dua2nya pengen banget boarding, kendalanya dua juga, gak tega berpisah dan biaya boarding yg bagus itu mahal euy

    • muktiberbagi
      Desember 14, 2013

      mak donna, asyifa tempat anak saya boarding gak terlalu mahal lho, cuma 850 ribu sebulan sudah semua mua. coba aja survey kesana 🙂

  2. Susi
    Desember 5, 2013

    Assalamualaikum.wr.wb..
    Sangat setuju mba mining..anak sy jg di asy syifa kls 7. Awal2 disana dia ga mau telp n ditelp selama 2 minggu, sampe sy nggrentes banget. Jgn2 sebenarnya anaknya terpaksa. Tp begitu mau telp curhatnya panjang bgt. Dan Alhamdulillah skg dia sdh bisa menikmati kehidupan barunya disana. O iya mba sampe lupa ngenalin..sy adik kelas njenengan di smansa pwr lulus 93. Dl kita pernah ketemu waktu ada ifthor jamai KMAP di jurang mangu. Kl njenengan lupa ya salam kenal lg n salam ukhuwah deh..
    Wassalam..

    • muktiberbagi
      Desember 13, 2013

      waalaikumsalam. waha alhamdulillah, ketemu dengan adek kelas di dunia maya. berarti ini angkatannya dek amir ya? saya sudah agak2 lupa kalau nama satu persatu tapi kalau kenal wajah tentu masih. ayo kita kopdar aja bira kenal lagi 😀

  3. Enci Harmonisri
    Desember 5, 2013

    besar keinginan saya nantinya anak saya bisa boarding, tap jujur maks, rasanya kok ga bisa jauhan dari anak….

    • muktiberbagi
      Desember 13, 2013

      maaf mak enci baru dijawab. memang itu salah satu masalahnya. tapi kalau kita membayangkan cita-cita yg lebih besar, insya Allah jauh lebih mudah mak 🙂

  4. D.A. Pakih Sati
    Desember 29, 2013

    anak saya masih kecil. survey2 dulu. Tulisan yang mantap bu. saya pernah main ke asy-syifa ini. ^_^
    Jazakillah…

  5. ALE
    Februari 16, 2014

    Lihat anak tetangga ada yg boarding juga, MANDIRI bngt memang.
    Ntar anak2 saya mau ga ya kira2 😀
    Btw nice post, Tq.

  6. ummushabira
    Agustus 16, 2014

    Nice postingan ; ) pengen boardingin si bontot di sdit tahfiz, tp abinya terlalu cinta….katanya mendingan abi aja yg ikut ber2 mondok ma si bontot…..hehehe…elfa

    • muktiberbagi
      Agustus 20, 2014

      waduuh, kalau abinya ikutan mondok tar wali asramanyanya bingung bu 🙂
      maaf baru jawab yaa. terima kasih sudah mampir

  7. Renno Mardi
    Agustus 28, 2015

    Kesimpulannya tinggal nanya Bu Muktia… Anaknya di Boarding kan kemana?

    • muktiberbagi
      Agustus 28, 2015

      Haha. Lain ya kalau orang dagang. Langsung tanya harga jadi 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 4, 2013 by in parenting and tagged .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: