berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Sosialisasi (Kondom) yang Keblinger

GambarLihat foto di atas. Itu adalah salah satu bentuk sosialisasi kondom di ujung timur wilayah negri ini. Sengaja saya ambil langsung saat melewatinya, karena ‘menarik’ sekali tulisan yang ada di papan gapura. ‘Sedikit’ tak mengapa, karena gapura unik itu adalah pintu gerbang menuju tempat lokalisasi. Artinya, yang dihimbau adalah para lelaki yang ‘sakit’, sakit secara perilaku supaya tak berlanjut sakit secara fisik.

Tapi, saat saya memasuki restoran padang (padang lho yaa…), dan sedang asyik melahap pesanan, tiba-tiba pandangan saya terantuk pada stiker di tembok, persis di depan saya. Stiker singkat yang bertulisan:”KITORANG TAK LUPA PAKAI KONDOM”. Huekkk, selera makan saya mendadak lenyap. Apa maunya sih, di resto pun, resto padang pula, stiker macam begini kudu ditempel? Saya rasa ini sosialisasi yg OD, overdosis.
Saya tahu bahwa di daerah itu, tingkat penularan aids begitu tinggi hingga 300%. bahkan bayi2 pun banyak yang terlahir aids. Tapi mbok ya dicari cara sosialisasi tentang AIDS yang lebih elegan, gak sekedar urusan kondom. Bahkan, secara mengejutkan, saya dengar ada teman dosen di daerah setempat, yang membagi gratis kondom pada mahasiswa, sambil membagikan buku ajar. Kondom tersebut diselipkan di halaman depan buku. Weleh-weleh, mau nyuruh mahasiswa free sex dengan ‘aman’?

Saya bukan anti kondom. Untuk kalangan tertentu, mungkin AIDS bisa diminimalisir dengan kondom. Misalnya pada pasangan halal yang suaminya atau istrinya punya penyakit AIDS. Meski itu juga gak menjamin bebas penularan. Tapi, jika kondom dikampanyekan untuk semua orang, itu sungguh kebablasan.

Hatta, untuk pasangan halal pun, saya masih mengernyitkan kening, saat ada seorang dokter perempuan bercerita, jika suaminya baru saja pulang dari luar negri atau luar kota, dia tak akan mau melayani (kebutuhan biologis) suaminya jika suaminya itu belum periksa ke dokter dan yakin tak ada masalah. Atau jalan terakhirnya, pakai kondom. Waduh! kesannya kok menuduh suami begitu ya? Saya menduga, jika dengan suami sendiri saja sudah berasumsi bahwa ‘di luaran’ pasti jajan, ini pasti tak muncul tiba-tiba. Istilahnya, pernah kepergok atau apalah, sementara mengajak suami tobat belum mungkin. Yang dikuatirkan, maka lalu akan ada anggapan, premis mayor (ini ungkapan dokter itu, saya hanya ngutip): “Laki-laki itu sama saja dimana-mana. Seperti anjing. Di rumah dikasih makan dari piring emas dia mau. Tapi di luar rumah, ada bau sisa makanan di tempat sampah, dia korek-korek juga” (aduh, Astaghfirullah, ngelus dada mendengarnya).

Sekarang, ada pekan kondom nasional, yang dilakukan dengan bis khusus menuju kampus-kampus. Kenapa harus ke kampus? Bukankah disana mahasiswa-mahasiswa kita sebagian besar justru belum menikah? Mengapa tidak ke tempat lain, ke pasien-pasien AIDS yang sudah menikah, yang ada di rumah sakit misalnya? Bagi saya, ini sosialisasi kondom yang keblinger, sama persis dengan yang dilakukan dosen untuk para mahasiswanya di atas. Bedanya, dosen itu melakukan kampanye atas inisiatif pribadi dan untuk kalangan dia sendiri, tetapi kalau pekan kondom sekarang ini? Ini untuk skala nasional, digulirkan oleh pejabat yang berwenang. Nasional mak, n-a-s-i-o-n-a-l!

Padahal, dalam buku ‘Global Effect HIV/aids, Dimensi Psikoreligi’, Dadang Hawari menyatakan, menurut berbagai riset ditemukan bahwa: kondom terbukti gagal untuk mencegah menularnya virus HIV. Secara ilmiah, untuk pencegahan kehamilan saja kondom tidak terbukti aman 100%. Kenapa? karena pori-pori kondom itu sebesar 1/60 mikron, jauh lebih besar dari pori-pori virus HIV yang 1/250 mikron. Padahal kondom dibuat dari latex, karet senyawa hidrokarbaon dengan polimerisasi yang berarti akan memiliki serat dan pori-pori. Secara umum, proses pembuatan kondom pun memiliki lubang cacat mikroskopis (pinholes) sebesar 1 mikron. Nah!

Lalu, dimana pendidikan karakter, yang saat ini sedang sangat digembar-gemborkan? Dimana peran agama untuk membentengi perilaku? Saya rasa, tak hanya Islam, semua agama pun tak mengakui seks bebas. Bahkan hukum adat di berbagai daerah pun banyak yang menentang keras pelaku seks bebas. Seks bebas, yang dalam terminologi Islam disebut zina. Jika kita mengaku sebagai umat beragama, saya yakin solusinya bukan kondom, tapi kembali pada aturan agama secara benar.
Allah, lindungi anak keturunan kami dari azab-Mu…..

Iklan

26 comments on “Sosialisasi (Kondom) yang Keblinger

  1. Tri Widy Astuti
    Desember 2, 2013

    wah…saya jadi ikutan bergidik baca postingan ini. Kondom kesannya jadi sesuatu yang “biasa” banget gitu. Kayaknya semua orang jadi boleh pake entah yang sudah menikah atau belum.

    salam kenal dari yogya

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2013

      salam kenal juga mak. itu anak angkat saya malah berhasil moto di mall gede dekat rumah, papan tulisan AIDS dr kondom2, dan yg ambil itu para remaja remaji. innalillahi 😦

  2. punyahannawilbur
    Desember 2, 2013

    Sudah jelas sabda Rasul, Allah akan menurunkan penyakit yang tidak diketahui sebelumnya kepada masyarakat yang menjadikan bebas berzina sebagai gaya hidupnya. 😥 Jadi inget anak2 saya. Semoga Allah melindungi anak2 kita. Mksh Mak untuk info ini.

  3. nisamama
    Desember 2, 2013

    setuju!! ikut sedih saya Mak. semoga Allah selalu melindungi anak2 kita dan keluarga.

  4. diannie
    Desember 2, 2013

    Sekiam M rupiah dibuang sia2 untuk kampanye kebablasan macam ini. Pdhal di sudut2 negeri ada banyak balita yang kurang gizi dan ortunya tak mampu. Apa ggak sebaiknya duit sebanyak itu dialihkan saja buat meningkatkan gizi anak bangsa? Prihatin, sungguh prihatin. 😦 Mau dibawa ke mana negeri ini? *ikutan curhat.

  5. Rina
    Desember 2, 2013

    Iya kampanye kondom itu gak menghapus permasalahan ke akarnya hanya solusi cepat ala orang malas ><'

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2013

      betul sekali. btw kayaknya saya rada2 apal dengan akunnya, myshelomita. apa pernah komen di blogspot saya ya dulu?

  6. diahdwiarti
    Desember 2, 2013

    puluhan thn lalu zmn nenek atau mbah buyut kita dan ms sblm itu, tdk ada ms remaja. bgitu baligh lgsg bs pegang tg jwb. coba sj dilihat di sejrh, ada panglima perang usia muda, pedagang tkt regional yg msh muda, org muda terdidik, dst. intinya di ms lalu org lbh bertggjwb. tak heran bnyk yg msh belia sdh menikah, lha wong mmg mereka sdh matang.
    zmn skrg remaja dpt permakluman. usia nikah diundur, usia dihambur2 akibatnya maksiat tumbuh subur.
    apa yg bs kt lakukan?
    kembali pd agama, lindungi diri n keluarga, beri kesemptn anak utk brtggjwb sjk dini.
    sulit?
    jelas. tp tdk brarti mustahil.

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2013

      betul. ini kondom solusi pragmatis tapi salah sasar. malah seperti anjuran seks bebas jadinya

  7. rita dewi
    Desember 2, 2013

    kondom dibagikan, brarti sex bebas diperbolehkan?? semoga anak cucu kita selalu dalam lindungan Allah SWT supaya jangan sampai tersesat jalan

  8. kartina ika sari
    Desember 2, 2013

    miris banget memang liat fakta penyakit AIDS di negeri ini..hmmm ini karena negeri ini tdk py sandaran yg kokoh dlm melihat AIDS yg telah menjadi fenomena yg bikin miris, tiap tahun angka penderita AIDS semakin bertambah. Hampir 70 ribu jiwa yg tercatat resmi, sementara faktanya bisa lebih. Ini seperti gunung es, ga keliatan di permukaan. Sy pernah aktif di sebuah lembaga sosial yg ngurus HIV/AIDS, waktu itu sy ngurus buletin HIV/AIDS selama 3 tahun utk segmen remaja. Memang sgt dilematis sih mak. Dan, pembagian kondom jadi salah satu solusi yg dah mentok..mnrt para aktivis HIV/AIDS. Waduhhh bingung deh mak…makanya sy kemudian keluar dr organisasi tersebut. Smoga aja kita dijauhin dr penyakit tersebut..

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2013

      iya tadi di fesbuk saya juga ‘diserang’ relawan aids mak, katanya jangan asal ngritik dong tapi cari solusi. ya saya bilang saya mau jadi relawan juga kok asal tugasnya ngasih edukasi, bukan bagi2 kondom

  9. Ceudah
    Desember 2, 2013

    Barusan mendengar paparan bu menkes di sebuah stasiun televisi swasta tentang penyebab tingginya HIV AIDS di negara ini. Dari semua penyebab, yang paling tinggi kasusnya diakibatkan oleh free sex alias seks bebas. Nah lho! Udah tahu fenomena tingginya free sex yang berujung pada peningkatan penderita HIV AIDS di negeri ini, kenapa pula dibagi-bagi kondom gratis? Aneh benar. Belum lagi akibat lain yang berujung pada kemerosotan moral. ckckck #tolakPekanKondomNasional

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2013

      itulah. mungkin ada ‘pesan titipan’ ya, seolah program ini dipaksakan benar jadinya

      • Ceudah
        Desember 2, 2013

        Dan kini kabarnya kemenkes menyatakan kalo mereka tdk melakukan pembagian kondom

  10. E. Novia
    Desember 2, 2013

    Astaghfirullah..
    sudah sampai sebobrok inikah pemerintah kita??

  11. fitriani firmansyah
    Desember 2, 2013

    gregetaaaaaaaaaan bacanya…..

  12. irowati
    Desember 2, 2013

    Sebenarnya pemerintah itu mensosialisasikan kondom sebagai alat kontrasepsi atau utk pencegahan Aids atau iklan kondom atau melakukan sex dg aman atau melakukan sex bebas atau gimana sih…Gak jelas bin gak terarah !!!!… ( prihatin berat !! )

  13. yanto
    Desember 2, 2013

    maaf, gambar tersebut tidak asli, hanya ilustrasi photoshop.
    tapi memang perlu untuk mengingatkan amar munkar nahi ma’ruf

    • muktiberbagi
      Desember 2, 2013

      mas yanto, gambar yg ini memang saya edit karena di bawahnya ada promo dari toserba tertentu. tidak elok. tapi saya punya bberapa gambar aslinya. dan jika anda pernah berkunjung kesana, anda akan tahu bahwa gapura ini benar2 ada. tidak mengada-ada. jika anda belum yakin dan ingin melihat foto aslinya, ada di laman facebook saya. atau silakan tanya dengan rekan2 anda yang tinggal disana, ada atau tidak gapura semacam ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 2, 2013 by in Curahan Hati and tagged .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: