berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Bukan Haji Gratis, tapi Lebih dari Gratis

Tulisan ini berkaitan dengan status saya di media sosial beberapa waktu yang lalu:

—- haji, ibadah yg butuh banyak kesiapan: fisik, mental, finansial, & ilmu. tentang kesiapan finansial, itu sangat relatif.

bagi saya & suami, prinsipnya sesegera mungkin. rumah masih ngontrak pun ga masalah. mumpung anak2 masih kecil, belum banyak biaya untuk sekolah. jangan nunggu tua, saat napas sudah terengah2.
obsesi kami dulu, sebelum usia 40 tahun harus sudah bisa berhaji. alhamdulillah, Allah ijabahi —

Maka ceritanya begini. Sejak menikah, sudah cukup lama kami membuka tabungan haji. Saking penginnya bisa berhaji, meski kudu nyicil tiap bulannya, entah sampai kapan. Membuka tabungan haji di salah satu bank syariah yang kalau tak salah setoran awalnya waktu itu 500 ribu rupiah. Angka yang cukup besar juga buat kami waktu itu. Tapi bismillah, kalau nggak segera buka tabungan terus mau haji kapan?

Namun Allah Maha mengetahui keinginan kuat dari hamba-Nya. Saat tiba-tiba ada rezeki nomplok dari kompensasi pelanggaran HAKI, kami punya uang untuk ONH, tapi cuma cukup untuk perjalanan 2 orang. Sempat bingung siapa yang harus berangkat dulu, kami berdua, atau orang tua (ibu kandung dan ibu mertua). Kami lalu konsultasi pada ustadz tentang kaitan dalil ‘tidak ada itsar dalam ibadah wajib’, beliau jawab: “Tetap dalil tersebut dipakai. Tapi karena haji berkaitan dengan ibadah fisik, alangkah mulianya jika uang yang ada untuk kedua orang tua dulu. Adapun anak diasumsikan dapat segera mencari biaya perjalanan lagi, karena tenaganya masih kuat.”

Lalu, ibu dan ibu mertua (bapak-bapaknya sudah haji-red) kami daftarkan. Eh, ternyata tahu-tahu ada rezeki lebih lagi, untuk 1 orang. Buru-buru mendaftarkan nama suami. Alhamdulillah bisa masuk. Eh, tahu-tahu lagi, ada rezeki lagi untuk 1 orang lagi, buru-buru mendaftarkan nama saya. Tapi memang saya belum rezeki berangkat di tahun yang sama (data berubah drastis dalam hitungan menit tiap hari), saya masuk waiting list 2 tahun kemudian. Saya kranthil, ketinggalan. Tak mengapa, yang penting suami bisa menemani ibunya dan ibu saya. Tahun 2004 itu, suami berumur 32 tahun.

Tampilan kami mungkin memang belum pantas untuk pergi haji. Rumah di gang sempit, gubug, gak ada isinya apa-apa. Motor juga motor dinas. Anak-anak masih balita, 2 orang. Mobil sekedar seken tahun jadul pun belum mampu beli, apalagi seken yang umur muda. Ini menimbulkan banyak pertanyaan dari para tetangga, “Hajinya dapat biaya dari kantor ya? Atau ada hadiah dari mana, gitu?”
Haemm, hadiah dari Allah, tentunya 🙂

Dua tahun kemudian, akhir tahun 2006, saat saya berumur 34 tahun, saya menyusul berhaji, sendiri. Sebelumnya, saat bulan Ramadhan, saya dikejutkan dengan kenyataan: tahu-tahu hamil! Padahal, pelaksanaan haji tinggal beberapa bulan lagi. Sempat galau, jangan-jangan saya batal berangkat. Tapi saya langsung ingat nasehat YM, jika ada masalah, sedeqah saja minimal 10%, semoga ada jalan. Saya coba lakukan itu, onh plus biaya kesertaan KBIH sekitar 30-an juta lah (tahun 2006). Bismillah, saya infaq hanya 3 juta saja. Dan Alhamdulillah, meski hamil, tetap bisa berangkat.

Pulang dari haji, saya disodori amplop oleh suami, “Nih belum mamas buka. Jadi gak tahu berapa isinya. Uang honor apa, lupa juga, proyeknya udah lama tapi baru dibayar sekarang.”
Pas saya buka, Subhanalllah, ternyata uang 30 juta, jumlahnya persis biaya yang saya keluarkan untuk berhaji. Ajaib, ini ajaib!

Satu lagi, tepat beberapa bulan sebelum saya berangkat, di awal tahun 2006 itu, suami alhamdulillah, lagi-lagi mendapat rezeki, sehingga kami bisa membeli mobil seken tahun 1992-an. Lumayanlah untuk tidak kehujanan dan kepanasan jika pergi jauh. Harga mobil itu 34 juta, saya ingat betul harganya karena waktu itu berdekatan dengan milad suami ke 34. Jadi, rasa-rasanya seluruh biaya ONH suami pun tergantikan, malah bisa beli mobil segala, yang itu benar-benar di luar rencana, karena saya juga pergi haji di akhir tahun itu, sehingga semua simpanan awalnya difokuskan untuk bekal perjalanan haji.

Maka, jika dirunut, betapa banyak keajaiban terjadi. Siapa sangka perusahaan itu menjiplak karya suami? Siapa sangka kami akan mendapatkan kompensasi begitu besar dari adanya pelanggaran HAKI? Siapa sangka Allah justru memberikan rezeki berlimpah sepulang suami haji, hingga mampu beli mobil yang harganya lebih besar dari ONH? Siapa sangka saya langsung mendapat ganti biaya dalam jumlah yang persis sama, begitu menginjakkan kaki ke tanah air? Siapa sangka kami mampu memberangkatkan 4 orang sekaligus, padahal tadinya untuk biaya berangkat 2 orang pun nggak kepikiran? Jadi, ini bukan haji gratis, tapi lebih hebat dari gratis, Alhamdulillah.

Semuanya kembali pada niat, pada mimpi. Juga pemahaman kita tentang FIQH PRIORITAS. Jika sudah ada niat kuat, dan tentunya disertai dengan usaha optimal, maka biarlah lalu Allah yang mengatur cara selanjutnya, yang sama sekali tak akan terbayangkan oleh kita.
Yakin saja, usaha, doa… faidza azamta fatawakkal alal-Lah. Dan, tunggu hasilnya 🙂

Iklan

12 comments on “Bukan Haji Gratis, tapi Lebih dari Gratis

  1. Ping-balik: Ingin Kaya? Segera Berhaji :) | berbagi cinta & makna

  2. Keluarga Rizal,Muti,Rafan
    Februari 9, 2014

    subhanallah..hebat mak.jd memotivasi saya jg utk nabung diniatin untuk haji..insya Allah..ngomong2 blh tau ga mak, nabungnya di bank biasa/di endepin di reksa dana/gmn?:-) hiii

    • muktiberbagi
      Februari 12, 2014

      di bank biasa mak, tabungan haji biasa. lah kalau di reksadana,tar tergoda untuk yg lain2 kagak jadi2 deh hajinya

    • muktiberbagi
      Februari 12, 2014

      bank biasa mak

    • Haji
      September 19, 2014

      Pengalaman Haji yang luar biasa ….

  3. ahmad
    Mei 9, 2014

    setelah baca ini sebagian duit yg saya tabung buat renc pembangunan klinik͵ saya transfer ke rek haji kedua ortu biar sgra bisa brngkt…insyaALLAH akan ada gantinya buat bangun klinik͵ ALLAH maha kaya…mksh inspirasinya

    • muktiberbagi
      Mei 9, 2014

      alhamdulillah, orang tua segera haji, dan insya Allah mendapatkan ganti yang berlipat. haqqul yakin

  4. Ping-balik: Umroh, Atau Haji Dulu? | berbagi cinta & makna

  5. ariaeco
    September 4, 2014

    Saya baru baca sekarang, ternyata nasehat orang tentang “Umroh aja dulu, sekarang nunggu haji lamaa banget. Nggak tau kan umur kita sampai seberapa, yang penting kita sudah ke Rumah ALLAH” dan dari itu saya dan suami, yang niatnya mau daftarin haji, akhirnya mendaftarkan umroh untuk ibu saya. Sekarang untuk membuka tabungan haji, belum ada dananya. Tapi dengan semangat yang ditebarkan umi, semoga ALLAH memberikan jalan kepada kami untuk ke Baitullah dan berhaji. Terimakasih umi 🙂

    • muktiberbagi
      September 4, 2014

      amiiin.ikut mendoakan semoga dimudahkan hajinya yaa

  6. Fitri
    Oktober 29, 2014

    Ini seperti kejadian saya, th 2008 sy membuka rek haji,atas nama saya & suami, suamipun pakai nama saya, pakai QQ, dengan setoran masing2 1 juta, lalu selesai buka rek, sy berdoa, Ya Allah, rekening haji sdh saya buka, aku ingin berhaji, aku memohon pada Mu, untuk membantuku memudahkan keinginnan ini, Alhamdulillah setahun kemudian, kami sdh bisa melunasi pendaftaran haji, & berangkat berhaji th 2012, Subhanallah tiada Чğ mustahil bagi Nya…amin

    • muktiberbagi
      Oktober 29, 2014

      Alhamdulillah. Barakallah yaa. Dimulai dgn usaha dan doa, selanjutnya biar Allah yg mengaturnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 25, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: