berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Memori Haji, dan Putri Suci

Gambar

Memori Haji (1): cahaya di antara luka

Waktu-waktu seperti ini, 7 tahun yg lalu, tahun 2006. Aku sedang mencoba menuntaskan sholat arbain di madinah, yang dinginnya menusuk tulang. saking dinginnya, meski sudah pakai longjon, tubuhku bereaksi, biduran di sekujur badan. sangat menyiksa, nyaris tak bisa tidur. Ibadah pun tak khusyuk. lalu kuberanikan diri ke apotik terdekat. Waktu si penjual mengulurkan salep anti allergi, kubilang, “but I’m pregnant” (duh.., keceplosan).

Dia terlongong kaget, “Y R pregnant? No, no, i can’t give it” dan menarik salep yg hampir saja berpindah ke tanganku. Hadeuh, gak jadi dapet obat deh. curhatlah ke karomku, Ustad Umri (waktu itu aku ikut KBIH Tazkia dibawah bimbingan pak Syafii Antonio), ustadznya dengan bijak bilang, “tenang aja, insha Allah nanti sembuh bu”
“Kapan, ustadz?”
“Ya nanti, kalau kita sudah keluar dari madinah, menuju Makkah” jawabnya kalem.
Hemm, artinya aku harus menahan sabar. ya sudah. hingga alhamdulillah, mampu terus bertahan di makkah, berlari-lari kecil untuk melontar jumroh atau sa’i sepanjang shafa-marwa, sambil sesekali memegangi perut yang mengencang. Ustadz sempat berkata, “kalo nanti anaknya laki-laki, namakan dia Muhammad Haramain ya bu”
*dan aku berharap lahir anak lelaki, waktu itu.

5 bulan kemudian, lahirlah dia, bayi perempuan. tumbuh jadi anak yang pemberani, selalu berlari, mungkin karena sudah dilatih sejak di kandungan, sejak ikut berhaji. kuberi nama “Kalifa Firdausy Fahrin”, dipanggil Fahrin, anak yg selalu gembira, seperti namanya. anak yang kuat, ‘cantik perkasa’

Dan, hampir 3 tahun lalu, oktober 2010, Fahrin pulang kembali, pada Dia yang menitipkan sementara pada kami. memang tak lama, tapi sungguh berarti.
Setiap momen haji, mau tak mau, selalu mengingatkan tentangmu, nduk

Memori Haji (2) : belajar dari ketangguhanmu

Menunggu puncak ibadah haji, tahun 2006. Dengan maktab di depan ma’la dan seberang masjid Jin, membuatku memutuskan tidak setiap sholat 5 waktu ke haram. Yang paling sering justru di masjid Jin. karena masjid ini diisi mayoritas jamaah indonesia, bahkan hingga kultum ya pun ada interpreter indonesia setiap ba’da shalat.

Pernah, (karena sedang hamil), perutku tiba-tiba mual ndak keruan. Segera lari ke tempat wudhu, tapi malah gak menemukan tempat wudhu perempuan. Tak tertahankan, malah muntah di sepanjang anak tangga menuju tempat wudhu. Sempat ada seorang arab yang meminta kami segera ppergi (karena itu tempat wudhu laki2), tapi demi diberitahu ada ‘accident’ dia memaklumi. Masjid Jin, semoga jinnya gak pada marah, masjidnya kena muntah

Tak lama lalu puncak haji, berduyun ke arofah. Pembimbing menekankan tak usah bawa uang banyak2, asal buat jajan aja. Juga tak sah bawa bekel makanan karena di arofah hingga pulang lagi sudah ada yang urus makanan. Tiba sore hari, hingga isya belum ada tanda2 makanan datang. Tunggu punya tunggu, ternyata gak bakal datang. Mis management catering. We lha, janinku sudah kruget2 kelaparan. Adanya air zamzam di tenda, ya sudahlah itu yang jadi penahan lapar sekaligus dahaga. Hingga esoknya, tetep tak ada makanan. Bismillah sajalah, meski dingin jadi makin terasa menusuk tulang. Hingga harus ke muzdalifah, tidur di alam terbuka dan perut keroncongan. Beberapa jamaah yg sepuh, mulai pingsan, kelaparan sekaligus kedinginan. Mengelus perutku, “Semoga kau baik2 saja nak, di dalam. Meski hanya air 2 hari ini, semoga jadi vitamin penuh gizi.”

Untuk mengusir dingin, Ustad Umri pembimbingku mengajak kami selawatan, duduk rapat berdampingan sambil memiringkan badan ke kiri dan ke kanan. Tentu dipisah jamaah laki2 dan perempuan. Lumayan, agak terhangatkan.

Menuju Mina, terlihat banyak bahan makanan mentah di tenda dapur. Tapi tak ada seorang pun pekerja. Hmm, nampaknya belum ada tanda2 bisa makan. Toko sudah mulai ada satu-dua, tapi diserbu pembeli indonesia. Akan halnya aku, menuruti nasehat ustad, hanya bawa uang sedikiiit saja. Gak cukup kalau 3 hari di Mina beli makanan terus. Lagi-lagi ngelus perut: “Baik2 kau disana naak. Sudah 2 hari tak makan pun, jangan ambruk yaa.”
Alhamdulillah, hari ke 2 sore mulai ada titik terang. Ada sejumlah pekerja kulit hitam yang memasak di dapur dan mengantarkan makanan ke tenda2. Ini rejekimu, naak.

5 bulan kemudian, lahir bayi yang sempat ikut kelaparan itu. Lahir dengan tangisan keras, tumbuh jadi bayi yang kuat, meski perempuan. mungkin dia ‘resilien’, tangguh sejak awal karena sejak di janin pun sudah belajar tangguh. diajak berlari-lari 7x shafa-marwa atau melontar jumrah yang 3, juga diajak berlapar-lapar hampir 3 hari lamanya. Bayi yang selalu riang gembira, fahrin namanya.

3,5 tahun kemudian, oktober 2010, dia tetap gadis kecil yang tangguh, saat di ruang gawat darurat, harus berjuang mencari nafas yang mulai satu-satu. lisannya masih terus mengajakku bicara, meski bibirnya membiru. …. dan lalu engkau memilih untuk mengucapkan selamat tinggal padaku, kembali pada-Nya yang telah mengilhamkan padaku indahnya memilikimu. Ah, bukan memiliki, tapi hanya merasa memiliki. tak pernah memiliki, hanya dititipi.

Belajar dari ketangguhanmu, dek fahrin, semoga dengan ketangguhan yang sama, menjadi layak bagiku untuk bertemu denganmu, satu hari nanti. Memelukmu, menciummu, dan berlari berkejaran seperti dulu….

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 5, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: