berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

tentang #AsupanRuhany bagi Anak

Gambar

Ringkasan dari beberapa status berseri untuk pekan lalu. Semoga bermanfaat

1. kepedulian ibu terhadap babynya untuk tidak memberikan sufor, itu bagus banget. lebih bagus lagi jika ibu & ayahnya juga peduli terhadap asupan yg ayah ibu telan, jeli memilih makanan, tak sembarang jajan. biar yang sehat gak cuma bayinya tapi juga ortunya.
lalu lebih bagus lagi, jika ayah ibu tak lupa mengalokasikan asupan ruhany, pada diri sendiri dulu, lalu pada baby.
sehat jasmani & ruhany, semoga

2. saya membiasakan asupan ruhany pada anak2, sejak di kandungan, dengan tilawah. kan ada ‘efek mozart’ utk perkembangan otak. tapi sebagai muslim, saya lebih percaya quran daripada mozart lah. insya Allah gak hanya perkembangan otak yang optimal, tapi juga ruhany.
setelah lahir, mudah sekali membujuk anak2 yang rewel itu. cukup disambi muroja’ah aja, dia akan tasmi’, mendengarkan kalimat-kalimat quran dari mulut ibu, & tangisnya reda.
3. salah satu asupan ruhany yang lain, adalah tetap tangguh saat hamil & melahirkan. saat hamil itu bawaannya kalau dituruti pengin tidur-tiduran, santai. tapi kalau memang niatnya mencetak generasi mujahid tangguh, ya latih dia sejak di kandungan. ibunya jg harus nyontohin dulu how tangguh itu.

gak ada alasan karena hamil terus menghilang, gak liqo-liqo, dst. kecuali jika harus bed rest ya. entar anaknya ketularan mbolosan kaya gitu lho.
4. pun saat menjelang, saat dan pasca melahirkan, jika tujuannya mencetak generasi mujahid tangguh, ibu juga perlu mencontohkan ‘how to be tangguh’ itu pada si jabang bayi.

menjelang melahirkan, bukan alasan untuk berhenti beraktivitas, selama tidak ada ancaman flek. ada teman saya yang melahirkan di saat kami sedang menyimak tatsqif. tiba-tiba mulas, dan buru-buru dibawa ke klinik. yang penting kan sudah prepared. biasa sajalah, jangan terlalu dibikin cemas dan hanya menunggu hari H melahirkan ‘thenguk2’ di rumah.

saat melahirkan, ibu yang tangguh tak akan banyak mengaduh, apalagi berteriak-teriak kesakitan, apalagi sampai maki-maki suami yang setia menjaga di sampingnya. lampiaskan kesakitan melahirkan dengn banyak berdoa, “hasbunallah wa nikmal wakiil”, irit bicara, atur nafas, dsb. insya Allah lebih irit tenaga, proses persalinan pun lancar, dan pahala tak terkurangi dengan cacimaki.

setelah melahirkan, memang ada masa adaptasi. tapi itu tak perlu terlalu lama. cukuplah asal luka melahirkan sudah kering, aktivitas dapat dijalankan lagi. tenggang waktu ijin, untuk ukuran normal ya habisnya masa nifas. tapi 2 minggu pun cukup bagi orang-orang tertentu (saya makai standar 2 minggu ini untuk diri saya sendiri). masalah membawa bayi kemana-mana, ya itulah resiko jadi ibu. jika aktivitas yang lain (misal silaturrahim keluarga) membawa bayi merah pun dibela-belain, mengapa tidak untuk berdakwah dan mengaji?

5. tentang  #asupanruhany lagi, untuk anak-anak kita yg masih bayi. salah satunya adalah tentang merutinkan sholat malam. mungkin banyak ibu-ibu yg sholat malamnya keteteran karena ndilalah pas dini hari, bayinya bangun, rewel, atau si ibu yang pules terlalu capek. ustazah yoyoh almrh pernah mengajarkan, punya bayi tak layak menjadi alasan untuk ‘mbolos’ dari sholat malam (kalau sholat wajib ya jelas!). bayi nangis ya wajar, memang itu cara dia berkomunikasi yang baru dia mampu. jadi kalau itu dijadikan alasan, gak make sense.

lalu beliau mengajarkan, sebelum wudhu, bayi dibersihkan dulu dari najis, dipakaikan pampers, ganti baju dsb, taruh dekat tempat kita sholat. jika dia menangis saat kita sholat, tinggal angkat, taruh lagi, dst. jika dia tidur saja, teruskan sholat.
tidurnya atau nangisnya bayi saat itu bukan percuma. ini adalah GOLDEN TIME baginya. alam bawah sadarnya terbentuk bahwa pada jam segini, “pasti ibu saya bangun untuk sholat malam”. insya Allah kebiasaan ini akan mampu dia terapkan juga pada dirinya sendiri, nanti.

pun anak yg lebih besar sedikit, lalu terbangun di dini hari, dia akan hafal kemana mencari ibunya jam segitu. pasti sedang sholat malam. mungkin dia akan pindah tidur dekat-dekat kita, dan kita perlu siapkan kasur tipis atau apalah dekat tempat kita sholat, atau sajadah agak tebal. mlungkernya anak yg tidur di sajadah dekat tempat kita sholat juga sama sekali bukan percuma. itu juga GOLDEN TIME, pendidikan nilai tentang kebiasaan baik yang dicontohkan orang tua, yang masuk ke dalam alam bawah sadarnya, yang nanti akan ditirunya, biidznil-Lah.

6. #asupanruhany lagi. ada lelaki kecil, belum 10 tahun, rutin ikut ayahnya ke masjid tiap subuh, meski kadang mata masih merah & badan terhuyung. ibunya kadang tak tega, berkata, “biarlah sholat di rumah saja”. tapi anaknya bijak berkata, “jangan begitu. lebih baik ibu doakan aku sehat selalu & bisa bangun tepat waktu”.

ibu, yg bicara lebih dengan rasa, kadang terbelenggu, oleh kasih sayang yang mengganggu.

7. masih #asupanruhany bagi anak. seorang ibu suatu hari diminta mengisi kajian keislaman di perkantoran jakarta. sedang anak balitanya diare. ibu itu gamang, telpon di seberang bertanya, “sudah diobati? ada yg jaga kalau ditinggal pergi?”. saat jawabannya “iya”, tegas perintah dari telpon di seberang sana, “kalau begitu berangkat saja”

bismillah. ibu sering terbelenggu di tataran rasa. hingga lupa, setelah ikhtiar basyariah, maka Allah yg akan menjaga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 16, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: