berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

bermesra dengan ibu mertua

Image

Mudik lebaran, Seperti biasanya, siap-siap dengan kemacetan yang mengular memanjang. Tahun ini, aku meminta suami untuk menambah cuti sepekan lagi, alasanku, “Biar bisa nemenin ibu (mertua-red) lebih lama di kampung”.
Alhamdulillah suami menyetujui, dan Alhamdulillah permohonan cuti kami di-acc kantor masing-masing.

Jadilah kami mudik selama 2 minggu di kampung halaman, datang paling awal, pulang paling akhir. FILO, First in Last Out, gak ada tuh prinsip inventory stock begitu di dunia akunting πŸ˜€

Lalu, saat memantau arus balik dari adik dan kakak yang berangkat lebih dulu, Mereka terkena macet yang subhanallah, hingga 24- 28 jam yang biasanya bisa ditempuh hanya 10 jam. Aku dan ibu sedang di dapur sambil ngobrol santai, ibu tiba-tiba nggreneng
“Kok kasihan ya, anak-anak dan cucu-cucuku, pasti capek di jalan pada macet gara-gara mudik lebaran”
“Maksudnya gimana, Bu?” tanyaku gak mudheng.
“Apa lebaran tahun depan, Ibu aja yang ke Jakarta, Ning? Biar anak-anak gak usah mudik. Tapi lebaran hari ke-2 atau ke-3 ibu balik kampung, kasihan sama orang-orang sini yang mau silaturrahim ke rumah”
Aku tersenyum, “Wah! Ibu… Kok sampai kepikiran sebegitunya”
“Lha kan kasian, pada capek”
“Ide bagus sih bu. Tapi… gakpapa jugalah kita mudik tiap tahun. Macet malah jadi cerita kok bu. Ada seru-serunya, gitu. Lebaran gak macet gak seru, He” jawabku berusaha bercanda. Padahal dalam hati, justru terharu. Kok ibu sampai mikir begitu ya? Memang, dari kelima anaknya,Β  yang 4 orang ada di Jakarta, dan 1 anak di Yogya. Semuanya sudah berkeluarga. Tapi terasa aneh aja, kalau orang tua yang mestinya kita hormati dan kasihi, malah harus keroyo-royo pulang balik ke ibukota demi anak cucu. Nggaklah, nggak rela.

Lain hari. sambil menjemur baju, aku melihat deretan tanaman bunga ibu yang tumbuh manis berwarna-warni. Cantik, tanda bahwa pemiliknya merawat dengan baik. “Wah, kalau rumah deket dan tanamannya masih kecil, aku mau nih tanaman bunganya” ucapku spontan.

Rupanya ibu mendengar, dan langsung dijawab, “Ooo, kamu pengin? Ya nanti deket-deket lebaran tahun depan, ibu cangkokkan lagi. Jadi bisaΒ  kamu bawa masuk mobil, belum terlalu besar”
Duh aduh, jawaban spontan ibu mertua yang lagi-lagi membuatku terharu. Semakin terharu karena aku, sejak 7 tahun lalu sudah tak memiliki ibu kandung. Sehingga praktis jika ada ‘curhatan’ aku lebih memilih untuk curhat kepada ibu mertua atau kakak perempuanku satu-satunya. Selama 2 minngu mudik ini pun, aku sama sekali tak menginap di rumah peninggalan orang tuaku (yang kini dihuni kakak), tetapi full di rumah ibu mertuaku. Pertimbangannya cuma satu: beliaulah kini, orang tua kami satu-satunya. Sedang ke rumah kakak, ya cukup silaturrahim saja beberapa kali di siang harinya, tapi tak sampai menginap.

Maka, jika ada kata yang mampu menggambarkan betapa beruntungnya aku memiliki ibu mertua seperti beliau, dialah sungai, yang airnya penuh dengan kasih sayang, mengalir tanpa henti menuju lautan ❀

Ibu oh ibu, kurasakan kasih sayangmu, sama seperti ibu kandungku. Matur suwun sanget, Bu…
Rabbihgfirly waliwa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayani soghiiron

Iklan

12 comments on “bermesra dengan ibu mertua

  1. Mega Juwita
    September 15, 2014

    subahannallah..

  2. Rini Pujiastuti
    September 18, 2014

    Masya Allah……
    ngiri aku…..

  3. Naniek Simanjuntak
    Oktober 28, 2014

    Mertuaku sayang sungguh kusayang seperti ibu kandungku..pengalaman kita nyaris serupa mbak.. πŸ™‚

  4. Qq
    Oktober 30, 2014

    Subhanallah. Ngiri banget sama ceritanya mbak πŸ™‚

    Salam kenal. Just blogwalking

    • muktiberbagi
      Oktober 30, 2014

      salam kenal juga yaa. makasih sudah berkunjung πŸ™‚

  5. Kluban.net
    Desember 30, 2014

    hmmmmmm bagusssss
    yang seirng terjadi itu konflik mertua dengan menantu…………..

    • muktiberbagi
      Desember 30, 2014

      He. Apalagi mertua sama menantu perempuan ya. Semoga tidak

  6. sitimeysarah
    April 2, 2015

    Mbak…. Menangis aku baca ceritanya,, indahnya punya mertua yang bisa berbagi, sekarang malah aku sudah bercerai karena aku tidak sabar dengan mertua, ak merasa sudah lelah menggapai hati mertua, selalu menangis diam2x dan berdo’a agar mertuaku bisa berlembut hati padaku,, aku mampu tahan mertua tidak baik padaku tapi aku tidak tahan mendengarkan mertua merendahkan keluargaku mbak, ketika aku meminta suamiku untuk pindah rumah,,mertuaku mengetahui dan tersinggung akhirnya suamiku menceraikanku,, aku juga sayang sama mertuaku mbak,,mudah2xan kelak ia mendapat menantu yang lebih baik dariku…. Amin ya rabbal alamin….

    • muktiberbagi
      April 8, 2015

      subhanallah.. saya ikut gimana gitu bacanya. semoga selalu tabah mbak, dan insya Allah akan ada jalan keluar terbaik buat mbak siti πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 27, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: