berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

1001 cara berbagi

ini beberapa kumpulan status tentang #1001 cara berbagi yang semoga menjadi pengingat buat diri saya terutama, juga mungkin buat anda 🙂

Image

1. suatu hari. saya balas sms dari salah seorang ukhti. lalu masuk balasan lagi ke hape saya, “nah begitu dong bu, sms saya dibalas. kan saya jadi senang. balas smsnya juga dapat pahala”
deg! apa selama ini ada sms-nya yg belum saya balas? setelah ditelusur, oh ternyata ada, tertunda balas, lalu lupa. astaghfirullah…

begitulah. kadang nilai ukhuwah semacam ini tampak ‘kecil’ tapi meninggalkan kesan mendalam, terutama bagi yang berkepentingan. sama halnya saat banyak email masuk, mengirim postingan tertentu, yang juga kita baca. semoga lalu jari kita dimudahkan untuk segera mengetik, minimal, “emailnya sudah saya baca, terima kasih”

fast response, bagian dari merawat ukhuwah, bagian dari sur’atul istijabah. bukan masalah sempat tak sempat, tapi kemauan. semoga kita tak terserang penyakit ‘tarsok-tarsok’ dan akhirnya lupa, seperti yang pernah saya alami itu. yang tak sengaja, lalu menyisakan luka pada saudara.

mohon maaf yaa, jika ada inbox/sms/tanya yang belum sempat terjawab semua, cukup banyak soalnya. saya juga sedang belajar, supaya selalu bisa ‘fast response’

~dan hati-hati manusia akan mendekat, pada siapa yang bergiat melayani, memberi, mengarahkan, membalas sapa tanya saudaranya.

2. ramadhan kali ini, tumben tivi di rumah kami tidak mati. biasanya entah gimana, tiap ramadhan tivinya pettt, gak bisa disetel blas begitu ramadhan. tahu2 pas habis mudik lebaran tar nyala sendiri. TV shalih 🙂

tapi, memang kita perlu tetap membiasakan untuk tak menyalakan tivi saat sahur dan berbuka, dan mengurangi dengan drastis jadwal nyetelnya. dua waktu itu, sungguh waktu yang mustajab untuk berdoa, yang insya Allah akan langsung dikabulkan. tivi, dengan acara ramadhan yang dikemas sedemikian rupa, justru kadang sukses membuat kita lupa berdoa. tak bermaksud ngerusuhi para pengusaha pertelevisian ya, tapi ini tentang pilihan sikap. rasanya lebih enak memotivasi anak2 dengan, “ayo silahkan sekarang mau doa apa, pengin apa, mumpung ini waktu istimewa untuk berdoa”, daripada membiarkan tivi menyala.

3. dulu ustzh yoyoh yusroh almrh mengajari saya, kalau mau ke tanah suci, bawa minyak kayu putih banyak2. tawarkan pada para jamaah dari negara lain, biasanya mereka takjub dan suka. saya praktekkan, subhanallah betul juga.

di bulan ramadhan ini, juga bulan yang paling tepat untuk berbagi. dengan beragam cara: nyumbang sarung/mukena baru di musholla publik yg sarung/mukenanya sudah kumel, nyumbang mushaf qur’an di masjid komplek, membuat makanan untuk ifthor lalu dibagi ke tetangga, mengundang irang utk berbuka di rumah, membuat paket sembako untuk para tukang ojeg terdekat, termasuk sengaja menyiapkan beberapa kue/minuman kotak utk persiapan ifthor di jalan (dan membagihya ke penumpang lain).

tak punya banyak uang? ada cara yang murah. tulis doa atau hadist tentang keutamaan puasa di kertas kecil, fotokopi banyak2, tiap kartu jepretin dengan permen 1, bagikan untuk penumpang saat ifthor.
ada cara lain lagi? silahkan

4. berapa baju baru yang biasanya dibelikan untuk anak2 kita saat lebaran? satu, atau dua, tiga, empat? bagaimana kalau tahun ini kita beli jumlah yang sama (seperti sebelumnya, dan sesuai kondisi keuangan, tentunya), tapi dengan perjanjian: satu baju baru untuk disumbangkan anak tak mampu?

atau, barangkali akan lebih berbekas jika begini: bisa nggak ‘hadiah puasa/lebaran’ (salam tempel, dll) yang mereka dapat, paling tidak separonya kita minta sisihkan, untuk dibelikan ATK/mukena/baju baru untuk anak2 di sekitar yang kurang mampu? dan biarlah dia yang memilih sendiri anak yang perlu disantuni itu. dan anak semoga akan sangat senang saat diberitahu bahwa separo ‘harta karun’nya yang dia sumbangkan itu justru yang abadi jadi pundi2 pahala, tiketnya suatu saat untuk masuk surga
mari kita coba yuk
#1001 cara berbagi

5. mungkin, kecenderungan kami (saya dan suami) untuk satu hal ini agak aneh: senang sekali jika ada teman/anak maya/kerabat datang menginap ke rumah. apakah lalu privacy kami tidak terganggu? kalau ‘agak berubah dari biasanya’ ya tentu, tapi itu tak sebanding dengan manisnya bonding dan ikatan hati yang kami dapatkan, selama dan setelahnya.
pada teman2 dekat, apalagi saudara, sering kami tekankan: (kecuali dengan alasan tugas), haram hukumnya ke jakarta tapi menginap di hotel
toh, pengalaman kami selama ini, juga gak ribet2 amat kok tiap ada ‘tamu’ menginap. nothing spesial, yang ada sama dimakan, yang tidak ada sama2 ditahan

nah, karena seringnya menyediakan rumah kami jadi ‘temporary home stay’ untuk handai taulan (termasuk ut kenalan yg awalnya dr fesbuk) yg ke jakarta, tercetus ide: ada bagusnya kali yaa, kalau kita punya ‘komunitas home stay cuma2’ di kota2 lain. kan enak juga, bisa menghemat, & menyambung silaturahim. bayangkan jika di tiap kota ada member dari komunitas ini, yang bisa dihubungi saat kita berkunjung ke kota tersebut. apalagi di momen liburan, he.
*eh tapi semoga pemikiran ini tak lantas dicemberuti para pengusaha perhotelan, yaa. rezeki sudah diatur lah.

anda berminat gabung di grupnya? ada di https://www.facebook.com/groups/479551555455943/. atau punya ide lain?
#1001 cara berbagi

6. ramadhan barakah. dikabari dari kakak ada transfer uang bagi hasil proyek bisnisnya. jumlahnya? sangat lumayanlah buat bekal mudik. ya, dari pada pinjam ke bank, kami bersaudara memang sepakat untuk patungan dana buat segala macam keperluan: beli rumah, bikin bisnis, dll… kecuali jika sudah patungan tapi itu pun jumlahnya tak cukup. ya terpaksa dah.

jadi mikir, jika dalam skala supermikro begini saja terasa kok banyak jalur administrasi yang bisa dipangkas dan jadi sangat efisien, jika dalam skala besar tentu ini jadi ancama bankir2 kawakan. jadi ingat ust YM. banyak yang lalu mengusili. di satu sisi, betul ada aturan hukum positif yang memang kudu dipatuhi, tapi hukumnya kan juga kita2 yang bikin, yang sebenarnya bisa dibuat agar lebih berpihak pada hati nurani, tidak melulu berpihak pada konglomerat berdasi.
kalau kata kohlberg, tingkat moral yang tertinggi itu adalah patuh pada hati nurani, sedang patuh pada hukum secara konvensi itu masih tingkat moral jauuuh di bawahnya.

7. beberapa kali berkesempatan ‘saling menitip’ untuk antar jemput anak ke boardingnya dengan sesama orang tua, suami kepikiran juga: kalau ini bisa lebih terkoordinir dan ada komunitasnya kan enak yaa. tiap mobil yang lewat isinya gak cuma 1-2 orang tapi secukupnya. bisa ngikut mobil orang atau dititipin anak orang. nanti tinggal laporan di milis bersama atau grup, “tanggal sekian jam sekian mau ke semarang, sudah ada 2 orang. siapa mau ikut?”

karena ternyata, banyak juga kok teman2 yang dalam perjalanan sebenarnya pengin nyari teman, sendirian nyetir sampai ke jawa gak ada teman ngobrol, iseng banget rasanya

apalagi momen menjelang liburan atau lebaran, pasti komunitas semacam ini jadi powerfull. perlu bikin grup baru lagi apa ya? setelah kemarin bikin grup ‘komunitas home stay cuma2’ sekarang apa perlu grup ‘komunitas transportasi cuma2’ ?
#1001 cara berbagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 26, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: