berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

masa Kecil, dan Cinta

Image

aku ingin berlarian
di taman bunga depan rumah
memanjat pohon kamboja dan memungut bunganya
atau memetik mawar putih yang wangi
menyematkannya di rambutku
lalu siap menari riang sambil tertawa
… dan tak ada air mata di sana

aku ingin mandi di kali
sambil temani ibu mencuci baju
menghampiri segarnya pancuran alami
membasahi tubuh dengan air murni
kadang saling mencipratkan air
sambil tergelak bersama
… dan tak ada air mata di sana

aku ingin menyusuri pematang
dengan kaki telanjang
sambil menyanyi dan berjoget riang
asyik bercanda saling injak & dorong
hingga kaki pun terperosok ke lumpur
kadang pula berteriak ketakutan
saat bertemu ular besar
atau lari terbirit-birit
saat mendengar suara pak tani menggelegar
“hey anak-anak nakal, kalian merusak sawahku!”
… tapi tak ada air mata di sana

aku ingin naik pegunungan itu
bersama mas-mas dan sepupu
berjalan dengan tongkat dahan kayu
berlomba lari mendaki dengan nafas menderu
melepas lelah dengan gula merah dan kelapa muda
meneruskan perjalanan hingga ke puncaknya
memandang lepas kotaku dari ketinggian
menemukan kubah masjid agung
tampak begitu kecil di pelupuk mata
… dan tak ada air mata di sana

aku ingin bermain masak-masakan
mengambil daun genjer dari sawah belakang
memasaknya di tungku darurat dari batu
lalu berlagak menjadi pemilik resto
menempatkan sayur di pincuk daun
entah apa rasanya
kadang keasinan kadang kemanisan
… tapi tak ada air mata di sana

aku ingin berjalan-jalan di hutan jati
memungut daunnya yang jatuh meranggas
meremas dan mengoleskannya di bibir
bak gincu bermerk ternama
mengenakan kain sampur di bahu
dan aku siap menari gambyong
diiringi suara musik dahan dan batu
diakhiri sorak dan tepuk tangan
… jelas tak ada air mata di sana

aku ingin menemani senja
dengan bersiap mengenakan mukena
bersama menyenandungkan tembang bocah
‘lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
tak ijo royo royo,tak sengguh penganten anyar…’
dan saat adzan menggema, serentak sholat magrib bersama
lalu mengaji Turutan dan Al-Qur’an di musholla
bersiap mendapat pukulan kecil
dari tuding gading pak kyai
saat terlalu asyik bersendau
pulang beriringan selepas isya
kadang berlari ketakutan di kegelapan
saat mas-masku iseng bertutur cerita seram
.. tapi tetap tak ada air mata di sana

lalu mengapa
kini begitu dewasa
sering kali harus ada air mata?

lalu mengapa,
cinta kadang sulit dimaknai
sebagai masa kanak yang ceria?

Iklan

2 comments on “masa Kecil, dan Cinta

  1. Muhammad Joe Sekigawa
    Juli 23, 2013

    Like this.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 22, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: