berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Bukan Karena tak Sayang

Image

*sumber image: http://ervakurniawan.wordpress.com/2011/06/04/doa-untuk-kedua-orangtua-kita/

Arum, gadis yang belum sepekan menikah dan masih masa ‘bulan madu’ di kampung halamannya, duduk berdampingan dengan suaminya, Arif, di meja makan. Kegiatan makan telah usai, tapi mereka masih ingin bercengkerama. Lalu Pak Adil, bapak Arum, mendekat, duduk berhadapan di seberang meja. Arum tahu diri, ada sesuatu yang akan dibicarakan, mestinya.
Nduk, bapak mau bicara sebentar denganmu dan Arif. Bisa?”
Monggo, Pak”, jawab Arum dan Arif serempak.
“Bapak mau kasih nasehat sedikit saja. Kalian sekarang telah jadi suami istri. Memiliki keluarga sendiri. Jadi, apapun suka duka yang kalian temui nanti, hadapi bersama, berdua. Itulah gunanya menikah. Nduk cah ayu, Arum anakku, yang selama ini sering glenak-glenik ke ibu dan bapak tiap ada masalah, sekarang ada tempat yang lebih berhak untuk mendengarkannya: suamimu. Tidak perlu lagi menceritakan pada Bapak dan Ibu, kecuali kalau masalahnya memang sangat-sangat serius, yang memerlukan Bapak dan Ibu turut campur membantu. Bukan kami tak sayang padamu, nduk, tapi nak Arif ini, kini jadi walimu”, ucap Pak Adil, dengan terbata-bata.

Mendadak wajah Arum pias, matanya berkaca. Terharu, sedih, juga bahagia menjadi satu, “Inggih, Pak. Insya Allah”, sambil memegang telapak tangan bapaknya di atas meja, seolah mengharapkan kekuatan dari sana.
“Wis, Bapak cuma mau bilang begitu. Monggo diteruske ngobrolnya, ”lalu Pak Adil beringsut pergi.

Tinggal mereka berdua . Arum memandang Arif, masih dengan mata berkaca. Arif perlahan mengusap pundak Arum, “Mas akan berusaha jadi wali yang baik untukmu. Kita sepakati ya dek, hanya cerita yang baik-baik saja yang akan kita sampaikan pada Bapak Ibu kita nanti. Mereka semua, orang tua kita, sudah tua. Kasihan kalau masih harus memikirkan kita, padahal kita sudah berikrar untuk hidup mandiri. Nanti seluruh masalah, akan kita selesaikan sendiri, berdua, adek dan Mas. Bantu mas, ya dek…”, kata Arif sambil menggenggam erat tangan Arum, yang disambut dengan senyum dan anggukan kecil dari istrinya.

Suatu senja, sebelum mereka beranjak ke ibukota, sayup terdengar bapak ibu Arum berbincang di ruang tengah.
“Besok anak-anak akan berangkat Jakarta, Pak. Sepi lagi rumah ini” ucap bu Adil lirih mengambang.
“Iya bu. Tapi kini Arum sudah punya suami. Sudah punya wali sendiri. Ibaratnya, biar kita ini sedih sampai nangis darah, jangan tampakkan di depan anak-anak, Bu. Beri kesempatan mereka untuk belajar hidup. Biarkan mereka mandiri” jawab pak Adil, tegas tapi lembut.
Mendengarkan sepotong percakapan itu tanpa sengaja, refleks Arum dan Arif saling berpandangan, dan mata mereka berkaca-kaca.

Maka, sejak datang ke ibukota sebagai pasangan baru hingga berbelas tahun kemudian, sesuai janji yang telah diikrarkan, sebisanya mereka simpan rapat semua cerita duka. Setiap kali orang tua menelpon atau mereka yang menelpon, patokannya: hanya berita yang baik-baik saja yang layak didengar bapak dan ibu.

Lalu begitulah. Keempat orang tua mereka tak pernah tahu jika begitu kembali ke ibu kota mereka masih hidup terpisah 2 pekan lamanya, karena rumah kontrakan belum punya. Mereka terpaksa kembali ke kost masing-masing. Juga tak tahu saat masa-masa tertentu Arum dan Arif pusing tujuh keliling karena tak memiliki uang yang cukup untuk meneruskan hidup. Pun saat Alia, anak pertama mereka diopname masuk rumah sakit karena demam tinggi, Arum tetap menahan diri, tidak mengabari orang tua maupun mertuanya. Namun saat hari berikutnya ternyata Arif juga menyusul opname di rumah sakit karena indikasi DBD, sehingga praktis ada 2 anggota keluarga yang menginap di Rumah Sakit sedang mereka juga tidak memiliki pembantu dan Arum harus mengurusnya sendirian, dia panik. Meskipun yang dia telpon pertama adalah sahabatnya, juga sahabat suaminya yang tinggalnya tak jauh dari rumah kontrakan mereka, yang diharapkan langsung bisa membantu. Setelahnya, baru Arum telpon ke mertuanya, sambil tak lupa memberikan kabar baik bahwa, “Tidak usah panik, Bu. Sudah ada teman-teman yang akan menjagai mas Arif, sedang Alia saya yang jaga” .

Juga saat Arum menjalani persalinan anak-anaknya, kecuali anak pertama yang kebetulan waktu itu justru dilahirkan di kampung halaman atas permintaan orang tua, dan kebetulan Arum tinggal menyelesaikan tesisnya jadi tak terlalu diburu waktu. Tapi anak ke dua dan seterusnya, hanya mereka berdua yang mengurusnya. Bukan berarti tak minta doa restu pada keempat orang tua, itu tentu sudah dilakukan sejak tahu ada janin dalam rahim. Tapi, detik-detik menjelang persalinan malah selalu sengaja tak mengabari. Berita itu akan sampai pada telinga orang tua sebagai berita bahagia saja, “Pak, Bu, alhamdulilah cucunya sudah lahir, Nambah cucu lagi nih”.
Arum dan Arif tak ingin membuat jantung keempat orang tua mereka ikut tegang menunggu detik-detik kelahiran cucunya. Biasanya, begitu dikabari sudah nambah cucu baru, kakek nenek langsung segera meluncur ke ibukota, ingin melihat cucu barunya.

Lalu, saat beberapa kali anak-anak mereka bergantian masuk opname di rumah sakit, juga tak pernah ada cerita. Kecuali jika anak-anak itu sudah pulang dari rumah sakit, dan mulai tampak sehat, baru Arum atau Arif berani mengabari, “Ahla kemarin opname 3 hari, tapi sekarang sudah sehat, Alhamdulillah”
“Alia sempat muntah-muntah melulu, akhirnya masuk UGD dan diopname  4 hari, tapi sekarang juga sudah sehat, Alhamdulillah”.

Pun saat beberapa kecelakaan kecil menimpa Arif: terjatuh dari motor sehingga harus rontgen karena ada indikasi retak tulang, terserempet bis hingga luka-luka cukup banyak…, hanya Arumlah yang tahu. Juga saat rumah mereka kebanjiran, berita itu baru terkuak saat ibu mereka menelpon dan bertanya, “Di tivi kok daerah Utan Kayu banjir. Kalian kebanjiran nggak?”
“Nggak sih. Eh…, ada ding, tapi cuma sedikiiiiit, sekarang juga sudah kering dan rapi lagi kok”.
Ini tentang janji, ini tentang pilihan sikap: orang tua di kampung harus dibuat senang, dibuat tenang. Bukan justru dibuat panik dan bingung dengan rentetan masalah anak-anaknya.

Tujuannya cuma satu. Selain menjalankan amanah Bapak tentunya, juga tak ingin membebani pikiran orang tua dengan berbagai hiruk pikuk romantika perjalanan hidup anak menantunya. Bahkan untuk sekedar jadwal pulang kampung pun, Arum dan Arif bersepakat tak akan memberikan tanggal pasti, apalagi jam berangkat, apalagi minta dijemput di terminal/stasiun. Pokoknya langsung datang tiba-tiba nongol di rumah, biar menjadi kejutan yang membahagiakan. Mengapa tak berani memberitahu jadwal keberangkatan? Semata kuatir orang tua mereka akan tidak bisa tidur menunggu kedatangan anak cucu, menghitung jam demi jam yang terlewati. Sementara kondisi dalam perjalanan tak bisa diprediksi, kadang macet berjam-jam, kadang ada pasar tumpah atau kecelakaan.

Kini, anak- anak Arum dan Arif telah beranjak remaja. Membayangkan suatu saat akan melepaskan anak-anak untuk hidup mandiri bersama pasangan hidup pilihannya, sempat terbersit tanya, “Mampukah aku seperti bapak dan ibu dulu? Rela melepaskan anakku, legawa melihatnya pergi, agar mereka mandiri, meski sebenarnya hatiku pilu?”
Bismillah, bersama Arif, Arum yakin, ia akan mampu melalui ini, satu hari nanti 🙂

Iklan

3 comments on “Bukan Karena tak Sayang

  1. dewi sugih
    Juli 26, 2013

    Subhanalaah…

  2. sditalam
    September 14, 2014

    Mohon maaf. Foto ilustrasi di atas adalah karya saya. Mohon dicantumkam sumbernya. Ariefuddin

    • muktiberbagi
      September 14, 2014

      oh ya mohon maaf saya terlupa. sudah saya search google for this image tapi malah nggak menemukan nama bapak juga. dimuat dimana pertama kalinya? sementara saya muat yang saya temukan di searching awalnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 18, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: