berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Manusia Fajar, Engkaukah Rijaalul Fajri itu?

Pada bulan Ramadhan seperti ini, salah satu pantangan yang sangat menggoda untuk dilanggar adalah tidur setelah sahur/subuh, terutama bagi kita yang tidak diharuskan langsung pergi beraktivitas usai subuh. Kalau yang harus kerja pagi-pagi, dan ada supirnya, barangkali tertidur juga di perjalanan, ya? 😀

Image

Maka untuk bisa konsisten mata melek usai subuh, rasanya jadi seperti mengamalkan Ali imran 191, dzikir (baca: tilawah) dengan sebentar duduk sebentar berdiri, kadang malah sambil jalan-jalan. Tapi meski di ayat tersebut ada kondisi dzikir sambil berbaring, saya tak berani, karena tilawah sambil berbaring, mungkin baru dapat setengah halaman sudah bablas…. zzzz. Untuk sambil berbaring dzikirnya lebih banyak tasmi’ saja, barangkali, atau mengulang hafalan.

Waktu fajar, memang menjadi waktu yang sangat utama. Berikut ini adalah hasil kompilasi dari beberapa tulisan, salah satunya adalah tulisan saya sendiri tahun 2010 di eramuslim.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/mukti-amini-rijaalul-fajri-sudahkah-menjadi-bagian-dari-diri.htm#.UeHwVaw-mKo

Aku suka dengan istilah ini, RIJAALUL FAJRI, orang yang menghidupkan waktu pagi. Materi ini kudapat saat kuliah subuh dalam rangkaian 10 hari I’tikaf di Masjid Al-Hikmah, Jl. Bangka, Jakarta, tahun 1996 (sudah lama sekali ya). Materi yang disampaikan dalam kondisi jamaah i’tikaf banyak yang ‘tumbang bergelimpangan’ karena semalam sejak jam 01.30 sudah bangun, sementara tidur paling cepat dimulai jam 23.00. Terasa lah kalau materi yang disampaikan ust Abduil Muis, MA ini jadi ‘nonjok banget’.

Tradisi menghidupkan malam 10 terakhir Ramadhan di Al-hikmah adalah sholat tarawih dengan bacaan 1 juz Al-Quran (untuk 8 rakaat), disambung ceramah. Biasanya itu selesai pada jam 22.00. Terus disambung tilawah masing-masing, biasanya sampai jam 23.00 maka lampu masjid akan dimatikan. (Kalau tak dimatikan, mungkin beberapa orang akan tilawah terus sampai pagi). Jam 01.30 dini hari jamaah sudah dibangunkan lagi, bersiap untuk sholat tahajud dengan bacaan 3 juz tiap malamnya! Baru disambung sahur.

Maka, sewaktu akan menyimak kuliah subuh itu, tadinya aku tergoda untuk menyimak sambil rebahan, karena sudah beberapa malam jam tidur sangat kurang. Memang fisik terasa ‘lungkrah’. Tapi karena materinya tentang orang yang tidak bermalas-malas setelah subuh, jadi tersindir berat deh. Maka, aku segera duduk menyimak dan mencatat materi itu baik-baik.
Nah, dari catatan itulah, ditambah beberapa referensi lain, aku coba untuk menulis ulang kembali tentang keutamaan waktu fajar.

Waktu pagi, memang menyimpan banyak keutamaan dan rahasia. Salah satunya adalah keutamaan zikir pagi yang dianjurkan untuk memperoleh banyak rahmat Allah SWT. “Dan sebarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaan-Nya” (Al-Kahfi: 28).
Waktu pagi juga waktu pergantian tugas malaikat malam dan siang. Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya bahwa waktu shubuh adalah masa di mana para malaikat malam naik ke langit digantikan dengan malaikat siang. Sungguh terasa indah jika saat-saat pergantian malaikat itu, kita sedang berada dalam kondisi taat kepada Allah Swt.

Namun apa yang terjadi? Banyak orang memilih untuk bermalas-malasan. Menjalankan sholat shubuh dengan terkantuk-kantuk kemudian bermalas-malasan menunggu matahari muncul adalah hal yang tidak jarang kita lakukan. Bahkan, sholat shubuh tak jarang kita lakukan setelah matahari telah terbit. Astaghfirullah…

Maka, ada benarnya juga kalau wasiat jawa kuno mengatakan, ‘ora ilok’ kalau setelah sholat subuh terus tidur lagi. Hal ini pula yang ditanamkan kedua orang tuaku, sejak kami masih kecil. Begitu subuh, dibangunkan sholat, lalu bantu-bantu membereskan rumah sampai saatnya bersiap ke sekolah. Ada juga orang yang mengatakan, “Kalau habis subuh tidur lagi, nanti rejekimu ilang dipatuk ayam”. Hmm, ada benarnya juga 🙂

Beberapa hadist atau ucapan salafus solih yang sempat kucatat waktu itu antara lain begini (maaf kalau gak lengkap ucapan siapa, mohon dikoreksi juga kalau salah ya, lha wong waktu itu nyatetnya sambil rada ngantuk, he)

  • Waktu fajar merupakan lembar kelahiran semua bentuk kebaikan”. Maka, perang jaman Nabi pun sering dilakukan pada waktu fajar
  • Waktu fajar adalah lambang kemenangan” . Jika ingin sukses, bangunlah dui waktu fajar dan jangan tidur lagi.
  • Fajar adalah lambang kehidupan, lambang masa muda, tanda aktivitas, ciri kebenaran dan keadilan, dan waktu ini paling strategis karena hawa masih segar dan Allah membagi rizkiNya di waktu fajar”
  • Sholat subuh merupakan tanda iman seseorang dan bebas dari sifat nifaq, karena waktu ini berat bagi orang yang belum terbiasa” –> Rasul SAW melarang tidur usai sholat subuh. Rasul pernah melihat Fatimah tidur setelah sholat subuh lalu segera dibangunkan
  • Sesungguhnya sholat yang paling berat atas orang munafik adalah sholat Isya dan subuh” (HR Bukhari Muslim).

Waktu-waktu shubuh di pagi hari adalah waktu yang oleh para ulama dianggap sebagai waktu terbaik untuk mendalami suatu ilmu. Suasana pagi yang tenang membuat konsentrasi dan kemampuan memahami meningkat. Ibnu Jarir Ath Thabari, yang mampu menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun terakhir masa usianya, melakukan muraja’ah akan ilmu dan ide-ide yang akan dituangkan dalam tulisannya di awal-awal subuh.

Lukman Al-Hakim pun mengingatkan anaknya tentang kemuliaan pagi dan mudahnya akal menyerap ilmu dengan mengatakan, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.”

Lihatlah ke luar! Pagi tak pernah bosan menyapa kita kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain. Suasana pagi tetaplah penuh dengan kesegaran dan kesejukan. Suasana pagi selalu membawa harapan bagi diri.

SEMANGADD PAGI! Sunguh aku ingin selalu menyapa pagi dan menjadikannya momen yang baik untuk memperbaiki diri. Amien, semoga …
—–&&&&—–
ditulis dengan sejuta rindu untuk bisa i’tikaf full 10 hari lagi di Al-Hikmah Jl. Bangka seperti tahun-tahun dulu. Ya Rabb, mudahkanlah aku mengobati rinduku.

Dan, kutipan dari majalah tarbawi ini semoga makin memperkuat kita untuk tetap bisa berjaga di waktu pagi, ‘mbuh piye carane‘ 🙂

Ada orang-orang yang memulai hari dengan sebuah amal yang begitu mulia. Dengan langkah-langkah kaki menuju rumah Allah SWT sambil melantunkan doa: “Ya Allah, jadikan dalam hatiku cahaya, pada lisanku cahaya, pada pendengaranku cahaya, di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dan jadikanlah aku cahaya.”
Indah sekali jika kita bisa memaknai butir-butir doa itu. Memohon di awal hari, agar memperoleh cahaya dari seluruh mata angin. Dan memohon agar menjadi cahaya itu sendiri. Karena sejatinya kita hidup dalam gelap. Gelap karena kita melangkah di belantara hidup yang banyak menyimpan fitnah, ujian, dan cobaan. Lalu, cahaya itu artinya pedoman, petunjuk, arahan, penuntun. Siapakah yang berjalan di dalam gelap tapi tak memerlukan lentera cahaya petunjuk?

Saudaraku, merasakan hembusan angin di kala subuh. Menghirup napas dalam-dalam udara bersih saat-saat fajar. Menyenandungkan doa dalam langkah-langkah mennuju rumah Allah SWT. Meresapi gema azan yang sahut-menyahut di saat gelap masih menggantung di langit pagi. Menghadirkan hati, jiwa, pikiran, rasa yang begitu dekat kepada Allah SWT, Maha pencipta seluruh alam. Itulah sedikit kalimat para rijaalul fajri (manusia-manusia subuh). Mereka, sosok-sosok luar biasa dengan amal-amal luar biasa.

Dengarlah kedudukan dan pembicaraan tentang mereka melalui sabda Rasulullah SAW tentang hadits shahih, dari Abu Hurairah ra,”… Dan malaikat malam dan siang berkumpul saat shalat shubuh…” Dalam hadits shahih lainny, disebutkan Rasulullah SAW bersabda,”Saling bergantian datang kepada kalian Malaikat malam dan Malaikat siang . lalu mereka berkumpul di saat shalat shubuh dan shalat ashar. Malaikat yang tinggal bersama kalian pun naik ke langit dan ditanyaoleh Rabb mereka – Dan Allah Mahatahu dengan keadaan kalian -,”Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? ” mereka mengatakan, “Kami datangi mereka ketika mereka sedang shalat. Dan kami tinggalkan mereka saat mereka sedang shalat.

Betapa luar biasanya kedudukan orang-orang yang menunaikan shalat Subuh di awal waktu dengan berjamaah di masjid. Ada hadits lain yang lebih menunjukkan keluarbiasaan itu. “Takkan tersentuh api neraka, orang yang shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya,” demikian sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Atau juga hadits lainnya yang berbunyi, ”Barang siapa shalat Shubuh berjamaah, seolah ia melakukan shalat sepanjang malam.” (HR Imam Muslim dari Utsman bin Affan).

Saudaraku, di zaman ini banyak rijaalul fajri yang bisa kita ikuti kisah mereka. Salah satunya adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, seorang ulama dari Saudi. Salah seorang muridnya bercerita, bahwa pada saat mereka hendak menghadiri sebuah kajian ilmiah ba’da shubuh bersama sang Syaikh. Namun, saat itu, Syaikh tidak tampak di masjid, sehingga para murid berinisiatif datang untuk menjemput ke rumahnya. Penjaga rumah membukakan pintunya untuk mereka dan mereka bertanya tentang Syaikh. Menurutnya Syaikh sedang ada di dalam kamarnya dan kamimeminta izin untuk untuk masuk. Ketika masuk, Syaikh bertanya,”Jam berapa sekarang?”

“Sekarang jam setengah enam,” jawab para murid. Syaikh bertanya, “Kalian sudah shalat shubuh?” Kami katakan,”Ya.” Beliau terkejut dan menjawab, “Laa haula wa laa quwwata illa billah, ini pertama kalinya aku seumur hidup terlewat waktu shubuh..”

Saudaraku, ada sebuah kisah. Seorang da’i muda memiliki tetangga yang usianya di atas limapuluh tahun. Menurut da’i muda tersebut tetangganya terlihat rutin shalat shubuh di masjid dan selalu menghubungi sang da’i melalui telepon sekitar tigapuluh menit sebelum adzan shubuh berkumandang. Saat ditanya apa rahasianya selalu bangun sebelum shubuh, ia menjawab dengan memuji Allah SWT karena sudah sembilan tahun terakhir ia tidak pernah terlambat shalat jamaah shubuh di masjid. Katanya lagi, ”Aku memohon ampun kepada Allah, berwudhu sebelum tidur, dan membaca surat mu’awwizatain (al falaq dan annas) lalu tidur dengan miring ke kanan, dan membunyikan alarm yang berbunyu keras sehingga terbangun darri tidur. Satu lagi, aku tidak tidur kecuali setelah aku memaafkan kesalahan orang padaku,” jelasnya.

Rahasia orang-orang yang disebut rijaalul fajri, adalah konsistensi dan kontinyuitas mereka menyambung pagi demi pagi dengan shalat shubuh berjamaah di masjid. Tidak pernah terhambat dan selalu hadir di masjid pada waktu shubuh, selama bertahun-tahun. Ada banyak kisah yang bisa kita dapati tentang mereka, dan bagaimana mereka bisa menjalani waktu pagi dengan tanpa ada absen di masjid.

Salah seorang mereka bercerita, soal keberkahannya bisa bangun subuh dan pergi ke masjid selama tiga tahun berturut-turut. Ia mengatakan, bahwa pada awalnya ia berusaha mencari keberkahan dengan berusaha mengirim sms kepada 48 orang temannya yang sudah dikumpulkan nama dan nomornya di dalam telepon selulernya. “Aku berusaha membangunkan mereka dan merasa senang bila ikut memberi motivasi mereka agar sholat Shubuh berjamaah. Kemudian setelah itu aku selalu berdo’a, “Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku atas agama-Mu.” perbanyaklah do’a ini, karena aku tahu bahwa memperbanyak ketaatan itu termasuk sebab-sebab ketetapan hati di atas jalan-Nya.”

Ayo saudaraku, jangan rela menjadikan tawanan syaitan atau menjadi orang yang dikencingi syaitan.  Kita adalah umat yang memiliki banyak sekali karunia berupa energi dan semangat yang Allah SWT berikan di kala Shubuh. Semangat shubuh, adalah ruh yang akan menginspirasi perjalanan kita sepanjang hari. Melangkah kaki, satu persatu, diantara kesunyian pagi, sambil melepas butiran-butiran doa, saat berangkat dan pulang dari shalat shubuh, adalah momentum yang begitu dirindukan orang-orang shalih. Mereka adalah orang-orang yang dibicarakan dan dipuji di langit oleh para Malaikat.

Ya Allah jadikan kami bagian dari para rijaalul fajri, orang-oran yang konsisten bertahun-tahun hadir tanpa putus untuk shalat shubuh berjamaah di rumah-Mu dan berajaga di waktu utama setelahnya. Aamiin.

Terakhir, kebetulan dari segi kesehatan menemukan artikel yang pas sekali tentang bahaya tidur setelah sahur/subuh. salah satunya adalah ancaman penyakit stroke. Itu dapat dibaca di http://id.berita.yahoo.com/ini-bahayanya-tidur-setelah-sahur-014416492.html.

Tidur setelah sahur memang tidak haram. Namun, dari sisi ilmu gizi dan kesehatan tidur setelah makan sangat tidak dianjurkan bahkan dalam kategori dilarang karena dampak buruknya sangat banyak.

Pramono, ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin dalam tulisannya kepada Tribunnews.com mengatakan dampaknya antara lain perut akan jadi buncit karena saat tidur tubuh jadi hemat energi dan secara otomatis lemak akan mudah tertimbun di perut kita. Juga akan terjadi refluks, karena makanan belum dicerna maka bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan (atau biasa disebut refluks) karena pengaruh gravitasi akibat kita tidur.

“Jika terjadi refluks maka asam lambung akan naik dan melukai kerongkongan. Karena mengalami luka, kerongkongan akan terasa panas seperti terbakar, dan mulut pun terasa pahit,” tulis Pramono.

Normalnya isi lambung/maag akan kosong kembali sekitar dua jam setelah kita makan, tapi kalau posisi tubuh kita berada pada posisi baring, maka proses pengosongan lambung/maag akan terhambat/terlambat. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya gangguan pencernaan seperti mencret atau sembelit tergantung bahan makanan yang kita makan.

Meningkatnya resiko terkena stroke juga bisa saja terjadi kalau kita tidur setelah sahur. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah untuk mengalami stroke.
Jika seandainya kita masih ingin tidur setelah makan sahur atur saja minimal 2 jam setelah makan sahur baru tidur.

Tak heran jika  banyak ulama berpendapat bahwa tidur setelah makan sahur sebaiknya tidak di lakukan . Nabi Muhammad SAW pun telah memberikan tuntunan bahwa makan sahur jangan ditinggalkan dan dianjurkan untuk diakhirkan waktunya jadi sampai menjelang subuh atau waktu imsyak sehingga secara logika maka setelah sahur maka langsung dilanjutkan ibadah Sholat Subuh dan jika setelah sholat subuh dilanjutkan dengan wirid yang cukup panjang maka matahari telah terbit dan sudah waktunya untuk bekerja.

Rasulullah SAW tidak langsung tidur setelah makan. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna.

Caranya bisa juga dengan shalat. Rasulullah SAW bersabda, “Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah SWT dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras.“(HR Abu Nu’aim dari Aisyah r.a.).

Nah, masih nekad tidur setelah sahur?

*ditulis untuk ‘menabok’ diri sendiri. bangun hoiii bangun, habis subuh kagak boleh tiduuur! 🙂

Iklan

One comment on “Manusia Fajar, Engkaukah Rijaalul Fajri itu?

  1. nisa
    Juli 15, 2013

    sering diulang2 tapi sering dilalaikan lagi..mhn doa saya jg tmsuk nisaaa’ul fajri. hhe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 14, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: