berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

(bukan) berkompetisi, tapi berkolaborasi

Image

Karyawan yang bekerja di warung kelontong Bu Badru bersungut-sungut, “Buu, itu Bu Doni masak buka warung juga sekarang di rumahnya. Mana dagangannya persis kayak kita. Matiin pasaran orang aja”

Bu Badru menjawab kalem, “Yaa, biarin aja. Namanya juga orang usaha. Itu dimana-mana indomaret juga hadap-hadapan sama Alfamart, tapi masing-masing ada rizkinya”.

Hari yang lain, karyawan itu bersungut-sungut lagi, “Ih, masak Bu Doni bilang ke banyak orang, barang2 di warung kita sudah expired. ‘Jangan beli disitu, beli di saya aja’, gitu bu. Ini kan fitnah namanya”

Bu Badru masih kalem lagi, “Yaa, biarin aja. Urusan lisan kan urusan pribadi dia. Sudah ada itungannya sama Allah”

“Ibu kok aneh sih? Orang mestinya sebel punya warung yang laku terus disaingi. Ibu mah biarin biarin aja”

“Begini lho mbak. Bu Doni itu kan janda, tak punya pekerjaan, tak ada penghasilan. Tinggalnya depan rumah kita, artinya saya dan ayahnya punya tanggung jawab terhadap kehidupan Bu Doni dan keluarga. Nah, kalau dia mulai mandiri dengan buka warung kelontong seperti itu, ya bagus. Semoga itu bisa menjadi mata pencaharian yang dapat diandalkan untuk nafkah keluarga”

“Tapi kan sikapnya begitu, nyebelin. Terang-terangan ngerebut pelanggan lagi. Tiap ada yang mau kesini masak dipanggil, eh beli di sini ajaa. Kan nggak sopan bu. Tetangga-tetangga yang jadi langganan kita kan juga nggak enak hati kalau sudah dipanggil begitu”

“Nah, kalau itu hal yang lain lagi. Itu masalah sikap dia, yang sudah ada itung-itungannya sama Allah”

Suatu sore menjelang senja, Pak dan Bu Badru duduk minum teh di teras. Memandangi warung sederhana di samping rumahnya, Pak Badru berkata, “Kita jual apa ya sekarang, yang bukan kelontong lagi. Baju, buku, atau beras, atau apa ya enaknya?”

“Kenapa, Mas?”

“Itu warung kelontongnya Bu Doni kayaknya sudah mulai maju. Kita perlu cari alternatif jualan yang lain, biar warungnya Bu Doni tetap laris. Kalau jenis jualannya sama, kasihan juga”.

“Iya ya Mas.  Aku juga senang kok pas tahu dia buka warung. Jadi ada penghasilan tetap buat dia. Kalau warung kita jadi tersaingi, lha kita kan masih ada pekerjaan lain. Sedang dia, kan janda. Kalau sampai keluarganya terlantar, kita juga yang kena dosa sebagai tetangga terdekatnya”

Pak Badru manggut-manggut, “Iya, itu juga yang Mas pikirkan”

Lalu Pak Badru dan Bu Badru sibuk dengan pikiran masing-masing. Mencari ide baru agar warung sederhana mereka yang dikelola dengan prinsip profit sharing itu tetap punya arti dan menghasilkan, terutama bagi 2 karyawan yang tentu sangat berharap mendapat tambahan penghasilan dari sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 2, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: