berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

berbincang tentang #sakinah, #mawaddah, wa #rahmah

rekam data dari status fesbuk dua hari ini, dengan sedikit tambahan. semoga bermanfaat.

Image

1. seorang suami, berapapun usianya, lebih muda atau lebih tua dari istrinya…. sering mendambakan peran istri seperti ‘ibu’. tempat ternyaman untuk mengadu, tempat bermanja-manja, tempat meminta ini dan itu, setelah seharian di luar dia harus tampil sebagai ‘lelaki perkasa’.
bukan sebaliknya, istri yang terus bermanja-manja, meski itu ada juga saatnya, namun kebutuhan itu tak sebanyak kebutuhan suami akan sosok ‘pelindung dan penenang hati’.ย  suami, sering lebih ingin diperlakukan sebagai ‘bocah’ oleh istrinya, setelah di sebagian besar waktunya dia harus berperan sebagai lelaki dewasa yang harus (tampak) tegar sebagai tulang punggung keluarga. namun, di dalam rumahnya, dia ingin tetap menjadi ‘bayi besar’, yang aman dalam pelukan ‘seperti ibu’ nya ๐Ÿ™‚

maka seorang istri yang bijak, perlu paham akan kebutuhan ini, jika ingin terus dicintai.
seperti bunda Hadijah, yang sigap dan lembut memberikan kenyamanan dan ketenangan, saat Rasul datang dengan wajah ketakutan dan berkata, “zammilooni… zammilooni”

*sambil mendengarkan nasyid zammilooni, yang menginspirasi.
http://www.youtube.com/watch?v=UH3Uhw34L28

2. salah satu peran istri sebagai ‘laksana ibu’ bagi suami yang seharian sibuk beraktivitas di luar adalah: jadi ‘kuping’ yang nyaman. pulang untuk didengarkan, ditenangkan, dibesarkan hatinya. apalagi jika di luar sana ada masalah2 ‘khas laki-laki’ yang menguras effort tenaga dan pikirannya. dia butuh kuping, butuh rilis di tempat yang menurutnya paling nyaman.

jadi bukan pulang untuk mendengarkan cerocosan istri yang panjang kayak kereta api. bukan juga untuk disambut rajukan manja yang minta ini dan itu, atau minta antar kesana dan kesini, mumpung suami pulang. itu, nanti saja. tahaan, akan ada saatnya. lelaki yang pulang ke rumah, membutuhkan dua telinga yang terbuka, bukan mulut yang berbusa.

3. sakinah, adalah kenyamanan, yang datang tak tiba-tiba, tapi harus diciptakan. bukan semata berbekal cinta. itu sama sekali tak cukup, tak memadai. tapi harus ada usaha, ke dalam maupun ke luar.

ke dalam, setelah menikah, (seharusnya) makin cantik akhlaknya, pun makin kuat ibadahnya. sholat tak ketinggalan jamaahnya, tilawah tak berkurang halamannya, makin tertata ucap lakunya, makin matang sikapnya seiring usia.

ke luar, (seharusnya) makin nyaman jadi tempat bercerita dan bercengkarama pasangan jiwa, kompak dengan keluarga orang tua-mertua, sinergi dengan tetangga. makin semangat memikul beban dakwah di pundaknya.

tentu, berlaku bagi keduanya, bukan hanya salah satu pihak saja. jika sudah begini, maka tentu akan makin cinta ๐Ÿ™‚
sakinah ada, bukan karena diberi dari langit, tapi diupayakan. mari

4. mawaddah, adalah cinta yang disertai dengan nafsu biologis. urutannya sakinah dulu, baru mawaddah. jadi biar muka kinclong badan ramping tapi perilaku nyebelin, ya gak jadi sakinah, juga mawaddah. yang ada paling sekedar nafsu.

interest of sex memang perlu, karena tujuan pernikahan antara lain memperbanyak keturunan. maka kata ustadzah, jadi istri jangan pagi-pagi keluar kinclong semerbak wangiseperti ratu, tapi pulang-pulang capek kucel malas mandi seperti hantu ๐Ÿ˜€

5. oleh karena #mawaddah terkait dengan tampilan raga agar tetap menarik secara sex bagi pasangannya, maka memang lalu menjaga kebugaran, kecantikan, kesehatan menjadi sangat urgent. juga tentunya berusaha memunculkan inner beauty, tak cuma tampilan luar. itu demi menjaga mawaddah itu sendiri, dan sifatnya resiprokal, kedua pihak. bukan karena untuk gaya-gayaan, atau justru untuk orang lain.

namun, usia yang makin beranjak tua memang tak bisa menipu. akan ada masanya fisik tak lagi ayu, tapi mulai melayu. kulit yang dulu tampak lembut, kini mulai keriput. secara ‘kesing’ jelas raga sudah tak menarik lagi. apalagi kemampuan secara fungsional, jauh menurun. dulu bisa berlari, sekarang jalan pun terhuyung. apakah karena demikan, lalu tercampakkan?
fa aina rahmah, dimanakah #rahmah?

maka, saat fisik sudah tak menarik lagi, atas dasar rahmah, pasangan yang sudah setia mendampingi tak akan pernah tersia-siakan, namun terus saling memuliakan, mengasihi, hingga ajal memisahkan. surat at-taghabun telah mengajarkan hal yang fenomenal,ย  bahwa mawaddah, tanpa diriingi rahmah, bisa menjadi bencana dalam rumah tangga.

demikian sekilas tentang #sakinah, #mawaddah, wa #rahmah
-end.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 27, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: