berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

PENGANTEN KOBOI

Image

Ada kejadian yang lucu saat aku nikah dulu. Saking cueknya, bahkan aku tak berpikir nanti aqad dan walimah pakai baju apa. Saat itu Wedding Organizer Muslim belum marak seperti sekarang, sehingga beberapa teman yang menikah memilih membuat baju walimah sendiri, modifikasi budaya barat yang dipadukan dengan jilbab (rata-rata gamis dengan dihias payet ala kadarnya). Tapi karena kecuekanku, aku tak terpikir sama sekali untuk membuat baju seperti itu. Kupikir, halah cuma dipakai sekali ini, cuma sebentar lagi, ngapain repot-repot bikin? Yang terpikirkan waktu itu hanya mau sewa salah satu baju saja ke Rina, salah satu teman sekelas yang mencoba bisnis kecil-kecilan dengan menyewakan baju walimah khusus untuk akhwat. Kulihat bajunya simpel-simpel, gak terlalu heboh dengan payet. Dan aku suka itu, cocok lah sama karakterku yang gak mau ribet 🙂 .

Tapi ternyata salah satu sepupu yang belum lama menikah, mbak Diah, dan dia termasuk akhwat yang all out untuk pernikahannya sampai khusus buat 3 baju (1 untuk aqad & 2 untuk walimah), dirayakan di gedung yang cukup megah pula; memaksaku untuk membawa baju-bajunya itu agar kupakai saat aku nikah. Sebenarnya aku gak PD, karena merasa baju-baju itu terlalu ‘meriah’ tidak sesuai dengan styleku yang simpel. Tapi ya sudahlah, dia bermaksud baik membantuku.

Akhirnya kubawa 3 baju itu pulang kampung, dan aku hanya pilih 2 di antara 3 baju itu, 1 untuk aqad & 1 untuk walimah.

Sebenarnya, seperti yang kulihat waktu aku hadir di pernikahan sepupuku itu, baju-baju itu hanya ‘bahan baku’. Artinya, masih harus disiapkan berbagai assesoris untuk memperindah baju itu seperti roncean melati dan bros. Tapi dasar aku cuek beibeh, gak kepikiran sama sekali tuh! Bahkan aku tak menyewa perias mana pun untuk mendandaniku. Kalau ini bukan masalah cuek saja sebetulnya, tapi karena aku meyakini bahwa tabarruj (berhias, dalam arti rias muka lengkap) di depan umum sebisa mungkin dihindari. Alhamdulillah, ibuku sangat pengertian, beliau tidak protes saat aku tidak mau disewakan perias. Cuma akhirnya, adik perempuanku yang kuliahnya jurusan Tata Busana gemesss, dan jadilah aku ‘kelinci percobaan’ dia dan teman-teman kuliahnya yang memang datang ke acara nikahku, memolesku dengan ini dan itu meskipun aku banyak protesnya, kuatir terlalu menor. Hehehe, jadi para perias nikahku itu adik-adik kecil yang usianya 5-7 tahun di bawahku 🙂 Alhasil, kalau perempuan lain pas jadi penganten bener2 cantik manglingi, aku.. manglingi juga sih, tapi manglingi mirip nyi blorong maksudnya. Kata adekku, malah kayak habis diantemi orang sekampung. Huahaha

Nah, karena fungsionalis itu pula, aku tak mengenal ‘dipingit’ menjelang pernikahan. Malam hari sebelum aqad, sampai jam 23.00 aku masih berada di gedung, ikut angkat-angkat pot bunga dan memasang berbagai setting hijab lainnya, bersama adik perempuan, teman-teman panitia akhwat, dan kakak iparku. Dari pihak (calon) suami juga hadir dia dan teman-teman kantornya dari Jakarta, membereskan setting gedung. Soalnya, memang aku gak menyewa organizer dekor nikah.. Jadi gak ada deh itu yang namanya gebyog, janur, dsb. Yang ada cuma back drop kaligrafi, hijab, kursi penganten pinjaman, dipermanis bunga-bunga di pot saja. Hijab kain berwarna peach dan back drop kaligrafi khusus untuk menikah itu juga kuangkut sendiri dari Jakarta, pinjam dari salah seorang teman yang belum lama menikah. Hihihi…..

Lucunya, teman-teman panitia itu (dari kedua pihak) tak ada yang tahu kalau sebenarnya kedua calon penganten malam itu ada di gedung yang sama dan ikut bekerja. Dikiranya kami panitia juga kali, hehe. Orang yang kemudian ’ngeh’ kalau aku ada di situ adalah salah satu sobatnya, Ernawan, gara-gara waktu itu aku memangggil sepupuku (yang sekaligus teman kantor suami dan malam itu juga hadir bantu-bantu), dengan langsung sebut nama (gak pakai ‘akhi’ atau ‘mas’) dan aku kelihatan akrab. Baru dia nyadar, ”O.. lha itu si calon penganten perempuan ternyata ada di sini juga”. Hehe, maklum mereka kan belum kenal wajahku.

Payahnya lagi, aku juga gak menyewa seorang  fotografer yang biasa digunakan untuk pernikahan. Terus gak ada foto? Ada sih, tapi yang motret ya kakak sendiri dan ‘adikku’ di rawamangun, Mulia, dengan kamera seadanya dan keahlian sangat seadanya. Haha. Hasilnya? Yo babak belur, untung2an. Ada yang bagus, banyak yang ngasal 😀 *jangan marah ya muliiii 😛

TERNYATA, SESAMA KOBOI 🙂

Sekarang, tentang jodoh yang sama2 sama2 fungsionalis. Salah satu bukti fungsionalisnya dia adalah saat dia akan menikahiku. Beberapa pekan sebelum menikah, dia menawarkan, “Nanti maharnya cincin saja cukup kan, gak usah yang lain-lain?” . Sebagai wanita solehah (maunya, gitu loh!) aku mengiyakan saja. Padahal dalam lubuk hatiku, waktu itu aku pingin banget dia kasih mahar aku kitab tafsir Ibnu Katsir lengkap juz 1-30. Tapi karena aku sudah survey duluan ke berbagai toko buku ternyata tafsir itu sedang habis dimana-mana dan belum akan cetak ulang, aku kasihan nanti dia pusing cari-cari, jadi aku tak sampaikan keinginanku itu. Padahal mahar itu hak perempuan yang mau dinikahi ya, sebetulnya. Hihihihi.

Nah, cueknya dia, cincin untuk mahar itu dibelinya beberapa hari sebelum menikah setelah dia pulang kampung (kami menikah di kampung, karena orang tua masih lengkap ada di sana). Dia sama sekali tak menanyakan ukuran jari manisku untuk standar lingkar cincin itu. Lalu pakai ukuran siapa? Ternyata dia menggunakan standar ukuran jari salah satu pelayan toko emas itu yang dia perkirakan perawakannya tak jauh berbeda denganku. Katanya, dia bikin perjanjian dengan toko kalau nanti ukurannya kurang pas boleh ditukar, dan cincin itu sengaja belum digrafir nama karena takut kalau gak pas. Huahahahaha …..

Ternyata, memang cincin itu kekecilan, sehingga beberapa hari kemudian, setelah menikah, kami berdua ke toko cincin itu untuk menukar dan menggrafirnya. Waktu itu dia menunjuk ke salah satu pelayan, “Tuh kemaren pakai ukuran jari si embak yang itu”. Hehe, bisa-bisanya…

Karena cincin cuma beli sebelah, gak sepasang, akhirnya mas Anto memutuskan yang tergrafir bukan nama dia saja, tapi juga namaku. Jadi yang tertulis di cincin itu ‘zuba & mining’. Jangan-jangan, di seluruh dunia ini cuma ada 1 cincin kawin yang grafirnya aneh begitu, nama 2 orang sekaligus! Hihihi……

Nah, yang lebih konyol lagi, benar-benar dia tak menyiapkan apapun selain cincin untuk seserahan. Kalau tidak karena teguran (calon) ibu mertua beberapa hari setelah dia pulang kampung (sudah H-3 loh!), mungkin benar-benar cuma itu benda yang dia serahkan untuk aqad. Ceritanya (katanya) waktu pulang dia ditanya ibu sudah menyiapkan apa saja untuk seserahan. Saat suami bilang cincin saja, langsung ibu kaget, “Hah, masak cuma itu, ya gak pantes! Udah sini ibu cariin”. Akhirnya ibu lah yang dengan sigap hunting beberapa item seserahan yaitu mukena dan kue-kue. Jangan bayangkan seserahan yang lengkap sampai sepatu, tas, baju, kosmetik, dll. Boro-boro dah! Lha wong Qur’an & sajadah saja dia lupa menyiapkan, sudah terlanjur pulang kampung, terus minta tolong temannya yang masih di Jakarta (tapi mau datang ke walimah kami) untuk hunting 2 item itu ke Al-Fath Rawamangun dekat kantornya. Cuek banget ya….

Saat nikah, dia juga hanya pakai stelan jas, yang terus dia pakai sampai walimah selesai, gak ganti lagi-lagi. Gak ada baju khusus walimah buat dia. Gak ada juga kalung bunga melati, yang ada cuma korsase kecil di dada kanan (kalau ini sih imbas kecuekanku yang gak mikir sampai sono, hihihi). Dan, yang lebih parah lagi, jas itu pun juga baru jadi sehari sebelumnya, yang dia jahitkan cukup mendadak di kampung. Jadi, lengkap sudah deh kalau kami waktu itu dijuluki penganten koboy bin nekat 🙂

Maka, saat kami bantu-bantu menyiapkan pernikahan adik ipar, dan suami membaca email tentang daftar seserahan adik yang akan dibeli, dia (yang memang bakat lupanya luarrrr biasa 🙂 ) iseng bertanya padaku, “Dulu mamas kayak gitu gak Jeng, seserahannya. Apa aja ya?“

Dengan geli kujawab, “Iddih, boro-boro mas…” kataku terbahak, dan kuingatkan tentang berbagai ‘kasus’ di atas. Dia jawab, “Aduh… jadi malu nih. Saking mikir cuma praktisnya aja, gak ngerti harus gimana. Terus gak ada orang yang ngarahin juga sih. Gak kayak Wawan (adiknya-red) sekarang..”

Hehehe, gak papa kok mas, wong aku juga happy-happy aja waktu itu 🙂 .

Iklan

One comment on “PENGANTEN KOBOI

  1. sari
    Mei 31, 2013

    sama, bun. TP kebalikannya. Aq minta tafsir fii dzilalil qur’an, udah gitu beli sendiri (suami kirim uang sj) trus nggak ada cincin2an deh.hehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 31, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: