berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Jodoh Tak Kemana

Image

Di ruang tamu sederhana milik Ummi Jundi, Sari duduk dengan gelisah. Beberapa kali dia merubah posisi duduknya, tetap saja terasa tak nyaman. Ummi yang beberapa jam lalu berkirim sms meminta dia segera datang ke rumahnya, sedang berada di dapur. Tadi siang ia sempat menawar untuk datang besok pagi saja jika diperkenankan, tapi Ummi menegaskan sebaiknya segera, sore ini saja. Ummi sama sekali tak memberitahukan dalam rangka apa ia diminta buru-buru datang.

Tak berapa lama, Ummi menemuinya, setelah berbasa-basi sedikit, dia berkata, “Langsung saja ya dek. Udah sore soalnya. Gini lho. Ini ada seorang ikhwah yang sudah siap untuk menikah, dan Ummi rasa ikhwah tersebut cocok denganmu.”

Deg! Jantung Sari langsung berdegup kencang, perutnya mendadak mulas. Haduh, gimana nih? Dia terdiam cukup lama, tak tahu harus bicara apa.

“Gimana dek, sudah siap nikah kan?” desak Ummi. Sari hanya bisa tertunduk bingung campur malu.

Ummi masuk ke dalam, lalu keluar membawa sepucuk amplop putih, “Ummi tahu kamu sudah siap, Insya Allah. Ini biodata ikhwannya, silahkan dibuka sekarang aja yaaaa”

“Gak nanti aja Mi, saya buka di rumah? “ Sari masih menawar, merasa belum bisa menguasai diri karena masih terkejut.

“Gak apalah, sekarang saja. Mungkin ada yang bisa kita diskusikan dari biodata itu nanti” kata Ummi.

Dengan agak segan, Sari membuka amplop putih itu. Srett.. srett…. Lalu pelan-pelan dia tarik secarik kertas ukuran HVS. Tak sengaja sebuah foto warna ukuran 4×6 terjatuh dari amplop. Dia pungut foto itu, dan langsung terkesima saat sekilas melihat wajah yang ada di foto. Penasaran, dia buka kertas HVS, diejanya nama sang pemilik biodata: Sholehuddin.

Sejurus kemudian, Sari tertawa geli  “Yaaah, Mi. Ini mah teman sekolah saya, teman kuliah juga”

Ummi Jundi menjawab, “Iya betul, Kata murabbi ikhwannya, kalian memang  satu SMA dan pernah sekampus juga”.

Sari menggaruk-garuk jilbabnya, “Duuh, gimana ya? Masak nikah sama teman sekolah Mi? Mana pernah sekelas lagi. Gak kebayang….”

Ummi menukas “Memang apa masalahnya? Saya dan abinya dulu juga pernah sekelas kok waktu SMP ”

“O yaaa? Hihihi, ternyataaa! Tapi… entar dikira orang2, kami sudah pacaran lagi. Padahal, ketemuan aja gak pernah. Malah heran saya, selama kuliah belum pernah sekali pun ketemu kok. Dia gak pernah gabung dengan kegiatan ikhwah atau perkumpulan mahasiswa sedaerah, Mi. Nyelinap kemana ya orang itu? Hehe,” kata Sari sambil mengingat masa kuliah.

“Yang penting kan kita yang menjalani yakin, bahwa proses ini insya Allah bersih, gak pakai pacaran segala. Orang lain mau menilai bagaimana, itu hak mereka. Abaikan saja” jawab Ummi diplomatis.

“Tapi…. Gimana ya Mi? Duuuuh”,  Sari makin bingung dan masih mencoba mengelak.

“Kenapa lagi ukhti? Kalau tidak ada uzur syar’i yang sangat prinsip buat anti, sebaiknya diterima saja niat baik ikhwan ini. Dia sangat berharap niat baiknya tidak ditolak, kata murabbinya”

“Bukan gitu sih, Mi. Tapi,….saya gak enak aja, adik dia yang akhwat kan dekat dengan saya, saya sering banget menginap di kosannya. Malah pernah juga saya menginap di rumahnya di kampung, yang berarti rumah dia juga kan?”

 “Tapi anti gak nginap berdua bareng dia kan?” ledek si Ummi.

“Iiiih, Ummi…. ya enggak lah. Sama akhwat2 lain juga kok, kita nginep rame-rame, mabit ceritanya. Kayaknya waktu itu dia lagi gak ada di rumah deh. Hee…”

“Ooo gitu. Itu kan bukan uzur syar’i, ukhti” Ummi mencoba meluruskan.

“Iya sih. Tapi…… Mi, dia kan pernah mau berproses dengan akhwat sahabat saya terus gagal. Haduuuh saya gak enak dong, nanti sama sahabat saya itu. Mana waktu itu ikhwannya saya omel-omelin via telepon, habisnya kasihan sama akhwatnya. Terus akhwatnya kan sampai sekarang juga belum nikah Mi. Gak enak hati saya, ah” 

Muka Sari tampak bingung dan sedih ingat sahabatnya.

 “Ukhti, jodoh itu sudah diatur. Berarti ikhwan ini memang tidak berjodoh dengan akhwat sahabatmu. Mungkin jodohnya dengan anti. Gak usah merasa gak enak hati segala. Insya Allah, akhwat tersebut nanti juga akan mendapatkan jodohnya” Ummi menjelaskan dengan bijak.

“Hmmm, gitu ya?”, Sari mulai berpikir tapi masih saja terlihat bingung.

Hening beberapa lama, Ummi bicara lagi, “Gimana, kita coba aja ya? Sekarang bisa buat biodata gak untuk ikhwannya?”

“Hah? Biodataaa? Sekarang? Nanti saja ya Mi, saya buat di rumah aja. Pusing nih, jadi gak konsen” jawab Sari sambil memegangi dahinya.

“Gak usah buat di rumah lah, buat di sini aja, sekarang. Nih kertasnya” kata Ummi sambil mengangsurkan selembar kertas kosong.

Sari makin nervous. Waduuh, rada pemaksaan nih namanya. Tapi ya sudahlah, dia terima secarik kertas kosong itu dari tangan Ummi.

“Isinya apa aja ya Mi? Bingung…” tanya Sari sambil memainkan pulpen.

Ummi menjawab sekilas, “Ya terserah anti lah. Yang kira2 menurut anti penting untuk ditulis, ya ditulis aja “

“Hmm, kalo gitu, saya contek dari biodata ikhwanya aja ya Mi, urutan-urutannya. Lagi gak ada ide nih. Binguuuuung”

Ummi mengiyakan saja, lalu kembali masuk ke ruang tengah.

Sejurus kemudian, di petang hari menjelang maghrib itu, Sari menulis biodata dengan tangan agak gemetar, mencontek dari secarik kertas di hadapannya.

Setelah  selesai menulis biodata, baru dia teringat tentang pas foto. Kebetulan Ummi nongol lagi ke ruang tamu.

“Oh iya Mi, saya gak bawa foto nih. Padahal biasanya suka simpan di dompet foto standar 3×4 untuk urusan kampus. Tapi lagi gak ada, Gak usah pake foto ya Mi, boleh? Kan dia sebenarnya sudah tahu saya. Hihihi” agak nekat Sari usul pada si Ummi

“Ya sudahlah, gak papa. Soalnya ikhwannya pingin cepat katanya”

Mendadak jantung Sari seperti mau melorot ke dengkul, “Haduuuuuh! Mau cepat ???? Tapi… kalau saya sudah bikin biodata ini, gak berarti pasti jadi kan ya, Mi?” Sari jadi panik sendiri.

Ummi tersenyum bijak, “Ya enggaklah. Ini baru awal, ukhti. Masih panjang prosesnya. Masih ada untuk ta’aruf dengan ketemuan langsung, dan seterusnya. Setelah ta’aruf pun, bisa juga gak jadi kalau ternyata tidak saling cocok. Kenapa memangnya?”

“Gak papa Mi. Saya shock aja. Jadi pusing” Jawab Sari singkat.

 “Ya sudah, istikhoroh saja ya nanti. Minta diberikan petunjuk sama Allah. Kalau ikhwannya sih, kata murabbinya sudah mantap untuk proses ini”

“Begitu???” Sari terlonjak kaget lagi.

Sejenak kemudian, dia teliti lagi biodata ikhwan itu sebelum dia lipat dan pandangannya tertumbuk pada waktu penulisan biodata, Juni 2003.

“Lho, Mi, sekarang kan Desember 2003, kok ini di biodatanya Juni 2003 ya? Waaah, jangan2 bukan buat saya ini Mi, biodatanya, salah alamat. Atau, biodatanya dulu pernah buat akhwat lain kali ya? Terus ditarik, eh sekarang dioper kesini? Hihihi”, Pikiran iseng Sari mendadak muncul.

Ummi tak percaya begitu saja, “Ah masak. Coba sini lihat?”

Setelah dilihatnya, Ummi hanya tertawa dan berkata, “Hihi, gak prinsiplah itu. Yang penting sekarang biodatanya sudah di tangan anti. Silahkan dibawa pulang”.

“Iya deh Mi” Sari mengiyakan sambil memasukkan amplop berisi biodata ikhwan itu ke dalam tasnya.

Azan maghrib berkumandang. Sari menjadi makmum Ummi Jundi sholat berjamaah magrib, lalu segera berpamitan.

Di jalan, sambil menaiki bus kota yang membawanya pulang ke kosan, Sari tersenyum-senyum sendiri mengingat sepotong episode di sore hari tadi. Dia sibuk berdialog dengan dirinya sendiri.

“Hmm. Bukankah, aku sudah berjanji pada diri sendiri, siapa pun yang datang, jika itu melalui murabbi, tak akan kutolak? Bismillah, kalau memang ini jalanku, mudahkan ya Rabb… “

Batinnya berbisik, menanamkan tekad dan azzam yang selama ini dipupuknya.

Mendadak rasa pusingnya jadi jauh berkurang 🙂

Tiga hari kemudian, Sari dipertemukan dengan Solehuddin di ruang tamu yang sama.

(bersambung, kalau sempat tapi 😛 )

*just repost, dicopas sambil terus tersenyum geli sendiri 😀

Iklan

2 comments on “Jodoh Tak Kemana

  1. Ida Nur Laila
    Januari 1, 2014

    sukaaa ditunggu kelanjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 31, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: