berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

PERSEPSI dan PENGGIRINGAN OPINI

Sebutlah A, punya teman2 dekat di kantornya yaitu B, C, D, E, F, G. Kemarin, A baru saja general check up dan hasilnya ternyata semua bagian tubuhnya baik2 saja. Pagi itu dia datang ke kantor dengan wajah sumringah. Tapi baru sampai parkiran, B menegurnya, “kok tumben kamu tampak pucat pagi ini?”.
A tertawa lebar, “ah becanda kamu. kemarin juga baru chek up dan semua baik2 aja”
ketemu C di pintu masuk, C bilang kok raut muka A lebih pucat dari biasa, “kamu lagi sakit ya?”
A tergelak lagi, menganggap C terlalu mengada-ada.

Lalu A ketemu D, E, F dan G.. ternyata masing-masing sahabatnya itu mengatakan hal yang serupa, bahwa wajahnya pucat seperti orang sakit. G malah menyarankan supaya dia tak masuk kantor saja hari ini, pulang lebih awal untuk rehat. A menjadi ragu. Mungkin benar juga dia sakit, bukankah check up nya kemarin, bukan hari ini. Dia ke toilet, lalu melihat wajahnya di cermin yang ada di sana. Ternyata, memang pucat. Dia sangat kaget, karena tadi pagi wajahnya masih segar bugar ia lihat di kaca. Mendadak kepalanya juga pening, hingga A merasa, “Mungkin aku memang sakit. Perlu rehat hari ini. Sebaiknya aku ijin kantor, pulang awal.”

Saat dia balik ke meja kerjanya, dia mengatakan ke sahabat-sahabatnya, bahwa benar dia memang sakit, dan perlu rehat. Anehnya, teman-temannya itu langsung tergelak semua. Mereka mengaku kalau pagi itu memang bersepakat mau ‘ngerjain’ A, karena A mendapatkan promosi, mendahului mereka semua. Seketika, muka A cerah kembali, dan tertawa sambil meninju para sahabatnya.

Hikmahnya apa? Hati-hati dengan PERSEPSI, dan PENGGIRINGAN OPINI. Mungkin jika satu-dua orang bicara hal yang sama, kita tak terlalu peduli. Tapi saat beberapa, apalagi banyak orang mulai bicara yang sama, opini mulai terbentuk. Apalagi kalau informasi itu terus dan terus diulang, tak peduli apakah informasi itu berbasis kenyataan atau ngibul doang, atau justru mau ngerjain seperti teman-teman A tadi.
Hati-hati bermain dengan persepsi dan opini, karena jika itu sudah menguasai diri, kadang logika menjadi tak mampu bekerja dengan normal lagi. Tak tahu lagi mana benar mana salah, tak tahu mana fakta atau nonfakta.

IMHO. Ini baru dari sisi ilmu komunikasi. Belum dibahas dari sisi Islami.
Nanti ya, dilanjut lagi, nek sempet 😀

 

Image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 24, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: