berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Izinkan Aku Bicara Tentang #LingkaranCinta

Image

Suatu senja, sepulang acara training kemuslimahan, berbisik-bisik seorang teman saya di telinga, “Bu, saya mau menyampaikan sesuatu. Saya dengar ibu Reni (sebut saja begitu-red) kesulitan sekali, karena acara 2 hari ini dipungut biaya yang cukup mahal. Tapi dia maksain pengin ikut. Dari tetangganya, saya baru tahu kalau bu Reni beberapa hari yang lalu menjual beberapa perabot dapurnya, biar bisa ikut acara ini”.

Jantung saya mendadak bergemuruh. Saya tahu bu Reni yang dia ceritakan memang tak kaya. Tapi saya tak menyangka, kondisinya separah ini. Dan saya juga paham, kenapa bu Reni tak pernah bercerita. ‘Iffah, menjaga diri dari mengeluh kepada teman-temannya. Berusaha menjadi salah satu orang yang berkontribusi dan memiliki solusi, bukan malah membebani dakwah dengan permasalahan pribadi. Saya yakin, prinsip itulah yang dia pegang.
Tentu saya tak mungkin tinggal diam. Setiap orang selayakya memang ‘iffah, tetapi saudara-saudaranya seiman juga punya kewajiban untuk peka pada permasalahan orang  lain.

Kali yang lain. Seorang ibu yang sedang mengikuti kajian di lingkaran cinta, selalu mengumpulkan makanan yang masih banyak tersisa, usai melingkar. Saat ditawarkan beberapa makanan mentah (siap masak/goreng), dia menolak dengan halus. Saat didesak-desak, dengan berat dia berkata, “Kalau makanan mentah, saya agak kesulitan bu. Saya,…. sudah lama gak ada kompor. Kompor yang lama rusak, belum mampu beli lagi”

Berita yang membuat terperangah. Kompor, salah satu benda vital bagi seorang IRT, tidak ada? Lalu bagaimana dia harus menyiapkan untuk makan anak-anak sekeluarga? “Kalau rice cooker yang lama masih ada bu. Cuma lauknya paling beli. Terpaksa bu. Nunggu Abi punya duit buat beli kompor lagi.”

Rasanya ingin menangis mendengar ceritanya. Permasalahan yang baru terkuak setelah sekian lama, juga semata karena iffah. Padahal sudah nggak ada kompor dua bulan lamanya. Allahu. kami harus segera melakukan sesuatu. Sedang dalam kekurangannya semacam itu, dia tetap tak lupa dengan kewajiban dakwahnya, minimal hadir sepekan sekali dalam lingkaran cinta. Ah, lalu bagaimana dengan kita yang kondisinya baik-baik saja? Apakah masih rajin dan sangat mengusahakan untuk selalu datang di lingkaran cinta? Atau mudah meminta ijin ini itu untuk tak hadir dan mengharap permakluman saudara-saudaranya?

Kali yang lain, seorang sahabat muslimah, yang bahkan belum pernah bertemu, mengirimkan sms pilu. Dia bercerita akan diusir dari rumah kontrakan oleh sang pemilik, karena dia sudah menunggak bayar kontrakannya 3 bulan lamanya. Mungkin, yang seperti ini juga banyak, tapi dialah yang saya tahu. Sangat masygul hati saya ketika dia ber-sms malu-malu, “Kalau bunda ada baju-baju bekas yang gak dipakai lagi, saya mau bunda. Saya kurang baju sekarang. Sudah usang-usang,”
Sungguh tak dapat saya bayangkan seperti apa kondisi rumah kontrakannya yang ia huni bersama suaminya dan kedua orang tuanya. Juga seperti apa isi lemari pakaiannya. Atau, mungkin lemari saja tak punya?

Semua cerita itu, ada dalam #LingkaranCinta. Lingkaran yang mengajarkan untuk bersegera saat ada panggilan dakwah tiba, juga bersegera menolong sesama. Niat tulus yang (mestinya) terbangun sejak lama, karena hati yang dipertautkan dalam doa ma’tsurat tiap pagi dan petang, khususnya doa rabithah, doa penguat ikatan ukhuwah. Doa ampuh yang menyebabkan hati serasa bertaut dengan muslim dan muslimah di berbagai belahan dunia, meskipun belum pernah bertemu muka.

Lalu, apakah mereka yang ada di lingkaran cinta, shalih/shalihah adanya? Tak adakah pelanggaran perilaku di #LingkaranCinta? Sebagai manusia biasa, tentu saja ada. Justru untuk itulah #LingkaranCinta itu ada. Lingkaran yang tiap pekan mengevaluasi bagaimana ibadah keseharian dalam sepekan. Lingkaran yang memberikan kesempatan pada anggotanya untuk menyampaikan permasalahan atau pun kabar gembira. Lingkaran yang dibangun dengan budaya saling mengingatkan saat ada teman tergelincir, dengan kesabaran, dengan kasih sayang.

Lalu kini, saat ada serangan bertubi. Jika lalu ada yang lugas dan terkesan kasar berkata saat mengungkapkan emosinya. Jika lalu ada yang tak pandai memilih kata, dan tampak emosional sedemikian rupa saat hatinya terluka, itu bagian dari proses pembelajaran panjang. Tahap belajarnya masih berada pada titik tersebut. Tapi bisa jadi akan sangat berbeda dalam 2, 3, 4 atau 5 tahun lagi. Bersama banyak orang, memang yang dibutuhkan adalah kesabaran. Sebaliknya, cobaan bagi orang-orang (yang merasa) pintar, biasanya tak sabar dengan cara berpikir orang lain yang dirasanya lamban.

Dengan apa yang telah saudara-saudaraku lakukan untuk dakwah ini, saya sebagai bagian kecil dari lingkaran itu pun terluka hatinya. Saat ada kata yang tak pantas, saat ada kata-kata tajam penghinaan, memang menyakitkan dan menyulut emosi. Tapi beginilah sunnah ilahiah. Cobaan akan selalu ada, setiap kita melangkah. Saya memahami sepenuh luka saudara-saudara saya. Sebagian kata-kata tajam itu tak perlu ditanggapi, sebagian lagi perlu dicerna untuk memperbaiki diri. Karena bagaimanapun, orang lain kadang mampu dengan tepat menggambarkan kelemahan diri ini. Satu hal yang sulit kita temukan sendiri.

Semoga setelahnya, dengan adanya angin kencang ini, yang mungkin saja berlanjut dengan badai dan gelombang, #Lingkaran Cinta ini takkan berguguran. Justru makin kokoh saling menggandeng tangan, sembari membersihkan daki-daki yang mengotorinya. Menggosoknya perlahan, jangan sampai saling menyakiti. Arang, jika dia dipanaskan dengan benar, akan menjelma menjadi intan.

Lalu mata rantai #LingkaranCinta  itu akan makin kokoh bergandengan, membentuk mata rantai yang kuat, melantunkan doa rabithah bersama, dan saling mengucapkan, “Aku mencintaimu sadaraku, semata karena Allah”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 20, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: