berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Pernikahan, Harapan, dan Gelombang

Setiap penggalan peristiwa, selalu ada  dua sisi, suka…dan duka. Begitu pun dengan pernikahan. Ini catatan milad pernikahan yang ke-11, bertahun-tahun yang lalu.
——&&——

Hal yang sangat membuat saya bahagia tahun itu adalah lahirnya seorang bayi mungil, anak ke4, dede Hibban, si ganteng yang sudah cukup lama ditunggu, terutama oleh suami 🙂 . Meski tidak ada tuntutan untuk harus punya anak lelaki, tapi saya tahu keinginannya sangat besar untuk itu. Mungkin karena dia sangat suka main bola, jadi berharap ada yang mewarisi bakatnya ya?  Alhamdulilah, setelah yang ke 4, akhirnya nongol bayi laki2 juga 🙂

Sementara hal yang menyedihkan tahun itu… layaknya kehidupan rumah tangga, tak selamanya mulus. Kadang ada sedikit letupan. Dan letupan tahun itu saya rasakan cukup dahsyat, yang mampu membuat saya sedih berhari-hari saat mengingatnya. Syukurlah itu tak lama. Saya mampu untuk bangkit kembali, tentu dengan bantuan (baca: bujukan) beliau yang  saya cintai juga. Saya harus bangkit, sebab di luar sana, banyak perempuan yang mengalami lebih dahsyat dari ini. Apa yang  aya alami, ibarat cuma seujung kuku dibanding prahara yang mereka hadapi.Tapi mereka tetap kuat, tetap tabah, tetap bertahan.

Bicara tentang letupan dalam rumah tangga, mungkin ini lucu, tapi nyata adanya. Saya merasa, komunikasi dengan orang lain misalnya teman kerja, atasan, sobat dekat… kata-kata bernada tinggi atau ledekan yang kadang kelewat batas bisa dengan entengnya saya terima. Atau kalau sakit hati, ya paling cuma sebentar. Tapi .. kalau dengan pasangan, kenapa kata-kata/tindakan bernada tinggi (padahal juga gak tinggi-tinggi amat) bisa menjadikan hati begitu terluka ya? Kenapa jadi jauh lebih sensitif jika yang mengucapkan adalah suami sendiri? Bahkan kadang butuh waktu berhari-hari untuk recovery, itu pun sudah dengan berbagai bujukan dari pasangan, dari minta maaf, kasih hadiah, sampai bikin puisi 🙂

Ah, mungkin karena memang selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang sangat baik, pengertian, sabar… jadi saat tiba-tiba beliau bisa berkata/bersikap dengan nada tinggi, saya langsung shock terkapar, terkaget-kaget. Atau, mungkin karena saya terlanjur sayang, terlanjur cinta, jadi merasa sangat terpukul ketika itu dilakukan orang yang sangat disayangi? Semoga itulah alasan sebenarnya 🙂

Tahun itu, ada salah satu puisi yang beoiau tulis via sms berkaitan dengan letupan itu, tak lama setelah upaya recovery tampaknya mulai menemukan titik terang. Sms puisi yang membuat saya tersenyum simpul, karena malam sebelumnya puisi itu dia sodorkan tapi tetap belum mampu mencerahkan hati yang mendung. Begini bunyinya:

Wanita berhati mulia
Engkaulah dinda
Tulusmu tiada tara
membantu siapa saja
Semangatmu nan membara
Siap bakar malasnya jiwa
Kau bunga dalam keluarga
Kuyakin kau pun bunga syurga
Wanita berhati mulia
Engkaulah dinda

Sejujurnya, saya sempat merasa khawatir juga, jangan-jangan saya yang terlalu sensi, terlalu cepat tersinggung. Tapi saat  saya tanya pada beberapa teman perempuan yang berstatus istri,… ternyata sama juga kok. Ya begitulah perempuan, lebih banyak menggunakan rasa. Hhh, untunglah, artinya saya masih perempuan normal, he…… Semoga mereka semuanya juga karena terlanjur sayang 🙂

Memang, segala sesuatu akhirnya harus dikembalikan pada nawaitu-nya. Sejak awal telah saya niatkan pernikahan ini sebagai tonggak penguat dakwah, dan semoga saya (dan beliau) terus komitmen dengan niat itu.

Komitmen yang makin teruji saat anak-anak kini makin besar, dan kami sebagai orang tua dihadapkan dengan banyak tantangan dalam mendidiknya. Sering terselip rasa khawatir, akan jadi seperti apa mereka nanti?
Ya Rabb, lindungilah anak–anakku saat kami menjalankan amanahMu, jadikan mereka sebagai penyejuk hati kami dan pemimpin orang-orang yang bertaqwa. Kumpulkanlah kami sekeluarga dalam surgaMu. Aku yakin dengan janjiMu ya Rabb: siapa yang menolong agama Allah, maka Dia akan menolongnya…

Ah, saya jadi ingat selarik puisi, yang saya tulis tak lama setelah saya dipinangnya. Puisi yang saya tulis untuk memotivasi diri sendiri, menjelang memasuki gerbang pernikahan:

Pernikahan
adalah simbiosa mutualisma
dua insan yang berbeda
tuk merenda bahagia

Pernikahan
adalah sebuah bahtera
berlayar di samudera luas
menuju pulau cintaNya

Pernikahan
bukanlah impian bunga semusim
semata memuja romantisme
dan keindahan
melupakan perjuangan

Pernikahan
adalah sebuah terminal
melewati jalan panjang
menuju rumah keabadian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 17, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: