berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Merawat Samarada, Upaya Sepanjang Usia

Repost, eh migrasi dari note fesbuk. tapi rasanya masih relevan, buat pengingat diri, juga yang lain 🙂

Image

Saat mendampingi jadi ‘navigator’ di samping suami yang nyetir mobil dengan kecepatan tinggi (sampe termos2 pada pecah dan si bulik yuyun bahunya biru2 kebentur kaca mobil, hihi), aku memutar sebuah lagu nasyid tentang cinta sepasang suami istri. Nasyidnya mellow pwol, bikin hati terhanyut2 ikutan mellow. Tapi ada satu hal yang menggelitik di benakku, dan spontan kutanyakan pada dia, suamiku.

“Mas, kenapa ya? Kalau denger lagu2 yang kayak gini, kita terbawa emosi. Syair & melodinya ho-oh banget bikin kita terhanyut. Atau kalau baca2  buku novel tentang keluarga samara, juga kita jadi termotivasi gitu. Tapi ternyata, kadang2 si penyanyi atau penulis buku itu, kehidupan aslinya kita tahu, tak seindah lagu yang dibawakan atau buku yang ditulisnya? Ada yang malah sebenarnya udah cerai dengan istrinya. Ada juga yang gak harmonis hubungannya dengan anak2 dan istrinya ? “

Suamiku menjawab sambil senyum, “Yaa. untuk mencipta dan menyanyikan lagu, atau menulis buku, kan butuh beberapa waktu. Dia bisa bener2 fokus disitu untuk saat itu, beberapa saat, sehingga lagu atau bukunya bagus dan dihargai orang, Tapi, kalau membina keluarga, kan tidak hanya sesaat seperti itu, tapi bersaat-saat…”

“Hihi, iya ya. Butuh waktu sepanjang usia ya mas? Berat ya jadi suami kalo gitu?”

“Iya jeng, Makanya bantu mamas ya, Jamilaaah” (jamilah = cantik -red)

Hah? Jamilah? Jamilah mah nama sekretaris Dekan di FKIP kantorku mas. Hahaha” jawabku asal, membuatnya tersenyum geli.

Hmmm, jadi ingat waktu aku membuat kado pernikahan 10 tahun untuknya, tahun 2008, berupa ‘buku’ tentang kilas balik perjalanan pernikahan kami. Usai membaca buku itu, waktu itu dia bertanya,

“Jeng, memang bener perasaan ajeng begitu, seperti yang ditulis di buku itu? Bukannya cuma untuk nyenengin hati mamas aja?”

Kujawab sambil senyum, “Ya bener lah maas. Kan ajeng yang ngerasain langsung. Betapa indahnya jadi istri mamas selama 10 tahun kemaren (sekarang tahun ke 13-red). Mosok cuma buat nyenengin. Itu kan kayak otobiografi aja”

Mendengar jawabanku, mamas tersenyum manis dan mendekapkan buku itu ke dadanya 🙂

Ya Rabb, mudahkan kami untuk dapat membawa biduk rumah tangga ini sampai ke ujungnya

bersama seluruh ‘anak buah kapal’ yang kini hadir satu-persatu mewarnai hidup kami

menuju tempat terakhir di pulau cinta-Mu

Rabbana hablana min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 17, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: