berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Konspirasi, dan Kegalauan

Seorang pemuda muslim nan taat itu tercenung. Wajahnya murung. Nampak jelas ada permasalahan berat yang menggelayuti hatinya. Seperti  buah simalakama, dan sungguh tak ia kira sebelumnya. Ayah yang dicintainya sepenuh hati, ternyata mengambil sikap kurang terpuji. Dia menelikung kaum muslimin dengan fitnahan yang keji. Akibatnya, terdengar kabar santer bahwa ayahnya akan dibunuh, sebagai hukuman atas perbuatannya. Sebagai anak, alangkah sedih hatinya. Tak dapat ia bayangkan jika ayahnya dibunuh. Namun sebagai muslim yang taat, dia juga sangat malu dengan perbuatan ayahnya. Ini benar-benar simalakama! Persoalan pelik ini membuat dia galau luar biasa.

Image

Lama ia berpikir dan merenung. Kegalauannya yang sangat membuat ia memutuskan untuk segera menghadap pada sang pemimpin tertinggi, rasulullah saw. Di hadapan rasul, dengan mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya, dia lirih berkata, “Wahai Rasulullah. Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa Anda ingin membunuh ayahku karena konspirasi yang Anda dengar darinya. Demi Allah, kaumku mengetahui bahwa mereka tidak memiliki orang yang lebih berbakti kepada orang tuanya, selain aku. Sesungguhnya aku takut, bila Anda menyuruh orang lain untuk membunuh ayahku, maka jiwaku akan tidak kuat melihatnya berjalan bebas di tengah kaum muslimin, hingga aku membunuhnya untuk balas dendam. Jika demikian ya Rasul, aku akan menjadi pembunuh seorang mukmin karena dia membunuh seorang kafir, dan akhirnya aku masuk neraka”

Terdiam sejenak, lalu setelah menghela nafas panjang, dia menguatkan diri untuk berkata, “Oleh karena itu, ya Rasulullah…Bila Anda, mau tidak mau harus mengambil kebijakan itu, maka perintahkanlah tugas itu kepadaku. Pasti aku akan membawa kepalanya kepadamu”

Kini, sebongkah beban berat di hatinya seperti terangkat sudah. Tak tahu lagi dia harus bersikap bagaimana, selain mengadu tentang kegalauan hatinya, kepada pemimpin yang ia anggap akan bijak menyikapi permasalahannya.

Mendengar penuturan si pemuda, dengan lembut Rasul berkata, “tidak, nak. Bahkan kami akan bersikap lembut kepadanya, dan berlaku baik kepadanya dalam bergaul, selama dia masih hidup berdampingan dengan kita”.

Mendengar jawaban Rasulullah, meneteslah air mata si pemuda. Ayahnya selamat, tidak akan dibunuh. Meskipun ia sangat malu dengan tindakan ayahnya, dia masih ingin ayahnya hidup bersamanya. Dia masih ingin berbakti padanya, dan siapa tahu seiring waktu ayahnya akan bertaubat, mengakui kekeliruannya.

Ini pelajaran pertama. Pemuda itu, meskipun namanya tak begitu dikenal dalam sejarah, sesungguhnya telah memberikan pelajaran sangat berharga pada kita semua. Tentang mengatasi rasa galau, yang sering kali menghinggapi jiwa para pemuda. Kegalauan yang sifatnya sangat manusiawi, namun karena cahaya Islam telah menyelimuti hatinya, maka dia berani mengambil keputusan yang luar biasa: menawarkan diri sebagai algojo pembunuh ayahnya! Ketaatannya pada Islam mampu membuat dia berpikir jernih, di tengah gejolak hati yang hebat berkecamuk. Wahai, apakah kita para pemuda di jaman ini, sanggup memiliki sifat ksatria seperti ini?

Tak berhenti di sini.  Saat hampir memasuki Madinah, si pemuda berjaga di depan gerbang. Dia siaga menghunus pedangnya, meneliti satu-persatu orang yang yang akan masuk Madinah. Ketika dia temukan wajah ayahnya, yang sangat ia cintai, ada diantara rombongan, tegas ia berkata sambil menghunuskan pedangnya, “Kembalilah ayah ke belakang!”
Ayahnya, tentu terlonjak kaget. Tak menyangka anaknya berani melakukan perlawanan. Lebih membela Rasul daripada ayahnya. Spontan Ayahnya berkata, “Memang siapa kamu kok melarang ayahmu masuk? Kasihan sekali ya kamu itu”
Sang anak dengan tegas menjawab, “Demi Allah, Ayah tidak boleh melewati tempat ini, hingga Rasulullah mengijinkanmu masuk. Karena sesungguhnya, beliaulah yang lebih kuat dan perkasa sedangkan engkau adalah orang yang lebih lemah dan lebih hina”

Ucapan nan sederhana, namun telak. Membalikkan fitnahan yang terlontar keji dari mulut sang ayah, yang jauh hari sebelumnya dengan pongah berkata, “Apakah mereka (kaum muhajirin) telah berlepas dari diri kita dan merasa lebih banyak dari kita, di negeri kita sendiri? Demi Allah, kita tidak membekali diri kita dan kantong2 orang Quraisy melainkan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang terdahulu, “gemukkanlah anjingmu, maka ia pasti memakanmu’. Oleh karena itu, demi Allah, bila kita telah kembali pulang ke Madinah, maka benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”.

Ucapan yang membuat panas telinga kaum muslimin. Ucapan yang membuat Umar yang duduk di samping Rasul saat ada aduan tentang ucapan tersebut, segera bereaksi, “Ya Rasul. Perintahkan Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya”. Namun dijawab Rasul dengan lembut, “Lalu bagaimana wahai Umar, bila orang-orang lalu berkata bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya?”

Duhai siapa dia, sang pemuda yang begitu mengagumkan dalam mengatasi kegalauannya? Dialah Abdullah, anak dari Abdullah bin Ubay, seorang tokoh Madinah yang disegani. Tokoh yang hampir saja mendapatkan mahkota penguasa, andai Rasul tidak hijrah ke Madinah. Tokoh yang membuat sebab turunnya ayat-ayat yang terbungkus dalam satu surat, dengan nama yang membuat tubuh bergidik: Surat Al-Munafiqun. Ya, surat yang khusus ditujukan pada Abdullah bin Ubay dan komplotannya, tapi tentu bukan untuk anaknya yang sangat taat.

Pelajaran kedua. Mari lihatlah ucapan pongahnya. Ucapan yang menjadi sebab turun ayat. Ucapan yang membuat geram kaum muslimin dan berhak membunuhnya, andai mau. Lalu mari bandingkan ucapan itu dengan ucapan-ucapan jaman kini. Terlihat, ucapan Abdullah bin Ubay terlihat masih ‘mendingan’. Tapi itu pun telah berefek luar biasa. Lalu bagaimana dengan ucapan-ucapan kita sendiri? Merasa muslim, lalu seenaknya memaki, merasa sebagai orang yang paling baik? Sungguh jerat-jerat kemunafikan bersiap menghadang, jika kita tak hati-hati. Berangkat dari hati yang sakit, lalu lisan menjadi pembantu setia untuk mengeluarkan kata-kata keji. Sementara, ayat Quran tentu takkan pernah turun lagi, untuk menjelaskan siapa saja yang munafik.  Maka, pantaslah Allah mengancam sifat kemunafikan dengan siksaan abadi di keraknya neraka. Karena perilaku munafik yang menelikung, seolah-olah ada dalam barisan tapi menggunting dalam lipatan. Sulit sekali dicari celah salahnya, karena terbungkus dalam kata-kata dan perilaku licin berbisa. Mari, bersama kita hati-hati menyikapi. Juga dengan sepenuh doa, agar kita terhindar dari sifat munafik. Juga doa sepenuh pasrah, saat ada badai kemunafikan memutarbalikkan fakta sedemikian rupa. Karena doa, bagi orang-orang yang teraniaya, tidak ada lagi pembatas antara dirinya dengan Rabb-nya.

*Allahumma arinal haqqo haqqon, war zuqnat tibaa’ah. wa arinal bathila bathilan, warzuqnaj tinaabah.

#Pamulang, 16 Mei 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 16, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: