berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Nggak Sekedar #Pinjam Meminjam

Ini ringkasan oret-oretan tentang #pinjam ya, yang sudah saya telurkan satu-persatu di facebook.

Image

1. sore2 sambil nyruput teh panas, enaknya ngomongin apa? kita bahas soal #pinjam yuk.

pinjaman itu bisa barang, bisa uang. kalau uang, kita sebut hutang kan ya? saya juga punya hutang he, kefefet, buat beli gerobag kaki 4, pas si bibir merah harus dikembalikan ke kandangnya. gakpapa berhutang, kalau memang darurat. tapi lebih bagus sih gak ngutang. aman damai terasa πŸ™‚

punya hutang gak? bagus deh kalau gak πŸ™‚

2. satu2 ya. sekarang tentang #pinjam barang dulu, sebelum #pinjam uang. kalau pinjam gak pakai bilang, gak kulonuwun dulu, itu namanya ghasab, semacam mencuri kecil-kecilan. nah lo!
padahal mungkin karena alasan tertentu, kita suka pinjam ini itu punya teman, atau kerabat, tapi gak pakai bilang karena orangnya lagi pas gak ada. terus piye?

ada 2 solusi mungkin. pertama, bilangnya belakangan, begitu ketemu orangnya. kedua, bikin agreement (hayah. janjian, ngunu) sama teman2 terdekat, bilang pinjam satu kali untuk selamanya. maksudnya pinjam ATK, atau apalah pernak-pernik kecil dengan teman kerja. kan suka begitu tuh. ati2 kena ayat gara2 gak bilang.

3. waktu mau beli rumah setelah sekian lama ngontrak pasca menikah, terpaksa kami #pinjam uang ke sanak saudara. sengaja menghindari bank. tapi begitu dapat pinjaman, saya sakit. badan saya panas dingin gak keruan selama beberapa hari, juga sulit tidur. dengan jumlah utang yg mencapai 2/3 harga rumah, kebayang kalau mati terus belum lunas bagaimana?

memang tidak nyaman punya utang 😦

4. ngomong tentang #pinjam lagi ya. tiap kali saya melahirkan, saya list (atau ngomonglisan) barang2 pinjaman yg ada di rumah. kalau bisa dikembalikan secepatnya. kalau gak sempat, ya bikin list, atau diletakkan dalam satu tempat.

yang paling dramatis waktu mau melahirkan anak pertama. lha namanya mahasiswa, pinjamannya buku2 thok berkardus2, ke banyak orang. jadilah saya bikin list: judul buku, pemilik, nomor telpon. saya serahkan ke suami. eh siapa tahu… gak selamet. terus mau syahid gak jadi gara2 kesangkut barang pinjaman. rugi banget dah!

ternyata, alhamdulillah, sampai melahirkan anak ke-4 masih syeger πŸ˜€

5. sekarang tentang #pinjam uang. dari dulu hukumnya gak berubah, riba ya riba. dosanya juga teteup. ngeri bin syereem kalau ingat ancamannya di qur’an.
yg jadi pertimbangan mungkin darurat atau tidak. tapi hari gini masak masih mau dibilang darurat sih? bank syariah buanyak, terlepas dari kontroversi murni syariah atau ndompleng nama doang karena lagi ‘naik daun’ (kok jadi kayak ulat bulu, hii).jadi kalau mau ngutang, yuk pilih yg syariah. kalau ke bank ribawi, sedih bener yak. udah punya utang, dapet dosa lagi…

saya ingat secuil kisah dari mbah kakung (bapaknya ibu). sebagai seorang pengusaha batik yang cukup dikenal, dulu beliau pengurus GKBI. tahu2 keluar, bukan hanya dari pengurus, tapi juga anggota GKBI. kata ibu, karena GKBI menerima pinjaman dari bank. dan mbah gak bisa mentolerir hal tersebut. (nah itu jaman tahun jebot, padahal).
sekali lagi, ini tentang kehati2an terhadap rizki yg dimakan sekeluarga. persis seperti status saya kemarin, bapak saya yg ngasih ultimatum calon mantunya, “masih tetep pengin jadi mantu, atau pilih kerja di bank itu?”

6. riba itu ibarat pohon kaktus beracun. meski menyakitkan, selalu dikemas dengan menarik, iklannya bombastis, suku bunganya bikin hati meleleh. dalam hal ini, bank syariah ya memang masih kalah. tapi apa iya, karena alasan seperti itu, terus milih yang nonsyariah aja?

terus piye kalau terlanjur #pinjam ke bank ribawi? doa sesering mungkin, agar pinjaman segera terlunasi. mohon pada-Nya (dan berusaha lebih giat, tentunya) agar ada rizki lebih, sehingga pelunasan dapat dipercepat. selama masih pinjam ke bank ribawi, hakikatnya kaki kita masih terbelenggu. nggak berkah. serem ah.

7. sekarang tentang #pinjam pada orang terdekat: suami/istri. meski sangat dekat, tak berarti campur baur soal harta. kewajiban menafkahi tetap pada suami. maka bagi istri ada istilah candaan: hartamu hartaku, hartaku bukan hartamu πŸ˜€

tapi justru yg harta suami itulah, istri gak bisa seenak udel makai. kudu ijin dulu. gak ijin jatuhnya kena ayat euy. tiati πŸ™‚

8. sedang harta istri, tetap miliknya pribadi. tapi boleh utk bantu2 keluarga, jatuhnya pahala, suami tentu suka. tapi gak dipaksa lho ya, atas dasar rela πŸ™‚

suami saya biasa bilang “jeng, pinjam ya” kalau kepepet gak ada cash on hand. rekening pun harus terpisah, gak campur baur.
etapi saya bisa pegang atm-nya, sedang dia gak mau pegang atm saya. ehehe. ini sekedar menerapkan soal #pinjam di skup keluarga

9. maaf jika status bout #pinjam ini kurang nyaman buat teman2 yg kerja di bank nonsyariah. tulus saya doakan semoga ada solusi terbaik untuk masa depan. one day, mungkin bisa nempel ke unit syariahnya, atau mungkin bisa bisnis sendiri & jadi konglomerat? why not?

tak ada yg tak mungkin selama kita berprasangka baik & selalu berupaya, juga menggedor pintuNya dgn doa menghiba πŸ™‚
saya nulis, justru karena sayang πŸ™‚

10. kaitan sama urusan #pinjam, benak saya selalu tergiang2 seorang yang gugur saat perang di jaman nabi, tapi urung mendapatkan pahala syahid hanya gara2 ngumpetin pampasan perang sebuah mantel tua. hanya mantel tua! bukan mantel baru, tapi sudah mampu menyeret seseorang yang gagah berani dan seharusnya syahid, ke panasnya neraka.
sejak pertama cerita itu tercerna, tiap naik kendaraan umum yang supirnya srogal-srogol, hati saya kebat-kebit. bukan ingat tentang suami dan anak2. tapi terus terang lebih mikirin nasib saya sendiri. egois ya?
saya takut kalau tiba2 saya mati kecelakaan terus masih punya utang atau barang #pinjaman, sementara keluarga tak tahu. jadilah saya tersandera hutang. na’udzbillah.

11.Β waktu saya menyodorkan daftar buku pinjaman pada teman yang akan meminjam buku, atau meminta teman membuat surat perjanjian utang saat dia akan meminjam uang, ada sahabat yg komentar, “kamu kok nyaman aja sih Ning, meminta surat pinjam ke teman2 kita? lah kan teman sendiri. temen deket lagi. masak iya mau menyalahi janji?”

lho, ini bukan masalah nyaman gak nyaman buat saya. jelas lah ada rasa gak nyaman, seolah2 gak percaya pada teman. tapi, saya sekedar melaksanakan ayat quran jeh, bahwa hutang piutang harus dituliskan. itu ayatnya aja ampe panjang betul, satu halaman persis di quran. gak ada ayat lain yang lebih panjang dari itu. tengok deh, di albaqarah 282. jelas, rinci, tinggal dijalanin πŸ™‚

ini masalah lain dalam urusan #pinjam, kadang kita suka meremehkan soal bukti hitam di atas putih. yang akibatnya terasa kemudian, jadi ada apologetik saat tak kunjung dibayarkan, ‘manajemen afwan’.

12. sebaliknya, setelah kasih #pinjam, kadang yang dipinjami tak kunjung mengembalikan. jika memang dia tetap beriktikad baik namun sangat berkesulitan, alangkah mulia jika dibebaskan saja.
tapi, sebagaimana awalnya hutang ada aqad, maka pemutihan pun harus ada aqad yang jelas. gak cuma dalam hati, yang siapa tahu bisa berubah2 sesuai fluktuasi iman.
kalau belum bisa membebaskan hutang? ya beriΒ waktu tenggang πŸ™‚
sering, ada pihak terutang yang keburu meninggal saat utangnya belum lunas. jika kita menjadi pihak yang ngutangin, dan ingin menagihnya, tentu bisa lewat ahli warisnya. tapi biasanya gak tega ya? orangnya juga udah meninggal, mau dibilang apa? “ya sudahlah ikhlaskan saja, kasihan dia” begitu biasanya.

tapi, bener nih ikhlas dan kasihan? bukan karena kepepet keadaan?
jika memang kasihan, sebaiknya datang ke ahli warisnya, jelaskan secara lisan, bahwa almarhum punya utang, tapi sudah diputihkan. itu baru clear πŸ™‚
aqad pemutihan perlu, sebab kita juga gak bisa menjamin, bagaimana hati kita diuji, bagaimana bolak-baliknya hati ini.

13. masih tentang #pinjam uang. kalau menilik ayat2 tentang riba (al-baqarah 275-279),
setidaknya ada 5 ancaman bagi yg nekat. ke-1, kerasukan setan (hiy). ke-2, kemusnahan/kebangkrutan. ke-3, diperangi Allah (emang siapa kita berani2nya ngajak Allah perang?). ke-4, kafir. ke-5, kekal di neraka.

sanksinya superlengkap, sejak di di dunia sampai akhirat tuh. mau? saya nggak ah, ngeriii. ya Rabb, jauhkan, jauhkaaan…

14. lanjut tentang #pinjam yuk. sekarang tentang keutamaan yang memberikan hutang. dia mendapatkan banyak pahala, dari awal saat memberikan hutang, sampai masa pembayaran terlunaskan. dalam hadits, pahalanya lebih banyak dari memberikan sedeqah. nah, kalau dibebaskan, pahalanya lebih banyak lagi. tentu kita lihat dulu, apakah si penghutang layak dibebaskan, atau tidak.

salah satu kriteria yang biasa saya pakai adalah; orangnya jujur, punya komitmen, tapi benar2 sedang kesulitan. tak harus hutang untuk memenuhi kebutuhan primer. karena ada juga orang mau pinjam untuk usaha, ndilalah apes, gak ada untung malah buntung. bagi yang seperti ini, perlu dilihat lagi iktikadnya membayar hutang. test case, bayar sebagian, sisanya bebaskan. jadi pertimbangannya memang harus matang, bukan karena cuma belas kasihan. apalagi karenna dikemplang yang ngutang. woo, jangan πŸ™‚

15. membebaskan hutang pada orang yang #pinjam, memang awalnya rada2 gimana ya, apalagi kalau nilainya tembus 8 hingga 9 digit. berasa beraaat. jadi maju mundur sendiri, persis kayak si whoopy waktu diminta nyumbang untuk amal di film ghost itu, hihi.
tapi begitu aqad pemutihan terucapkan, percaya deh.. rasanya plong bener. apalagi yang dibebaskan, tentu lebih plong ngoplong ngoplonf lagi, seperti terbebas dari jeratan tali di leher.

nah, apalagi kalau ingat, pasca membebaskan hutang itu, ada nilai sekian kali lipat yang langsung tergantikan, tunai. bukan hanya pahala lho. tapi real duit. duit mas bro mbak sis! gak percaya? silahkan buktikan πŸ™‚

16. ada juga nih. orang yang #pinjam uang gak bayar-bayar. bisa jadi karena memang gak mampu bayar. terus yang ngasih hutang bilang, “ya udah, aku bebaskan aja. itu zakatku ke kamu ya”

yang kayak gini, tentu gak bisa, aqadnya sudah beda dari awal. apalagi dianggap zakat, dari awal ya zakat, wajib. penerimanya juga harus jelas 8 ashnaf itu. kalau ngutangin, kan gak wajib, keutamaan aja. jadinya ya gak bisalah, awalnya aqad utang, di tengah perjalanan ganti kopling dipindah aqad zakat πŸ™‚

17. sudah dulu ah tentang #pinjam.
eh ini bukan cacatan serius ya, lebih pada sharing pribadi, hal2 yang saya alami sendiri. kalau mau serius belajar tentang ini, ya buka fiqh sunnah, atau tanya sama ustaz/uztazah berbekgron syari’ah. kalau saya mah, cuma oret2an ra genah πŸ˜€

dibikin berseri gini, sebenarnya mau bikin note, tapi malesnya lagi kumat. nanti diresume aja di blog, kalau sempat πŸ™‚

*besok lagi bahas apa ya, enaknya?

Iklan

One comment on “Nggak Sekedar #Pinjam Meminjam

  1. risyacempaka
    Mei 2, 2013

    Subhanallah,Mbak, makasih ilmunya,tolong doakan saya sekeluarga bisa terhindar dari riba ya πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 12, 2013 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.617 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: