berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

RIZKI dari BOCAH PENJUAL BAJU SEKEN

Image

Sore kemarin, sepulang kantor. Berjalan kaki agak cepat ditingkahi rinai gerimis, aku merasa ada yang membuntuti langkahku. Siapa ya? Baru mau nengok ke belakang untuk memastikan, ada suara yang memanggil dari belakang agak pelan, “Bu.. .bu…”.

Langkahku terhenti. Kutengok ke belakang, tampak seorang ABG cowok, sekira kelas 2 SMP.  Pakaiannya tidak necis, tapi juga tidak kusut masai seperti gank underground.

“Bu…emm,… mau gak beli dagangan saya?” katanya agak terpatah-patah. Tampak ragu-ragu dan menahan rasa malu. Dagangan? Aku makin bingung, karena kulihat dia tak membawa apa-apa kecuali tas ransel ukuran sedang di punggungnya.

“Dagang apa, dek?” tanyaku bingung.

“Pakaian saya bu.… seken sih..”, jawabnya masih ragu-ragu. Tapi melihat aku tampaknya mulai tertarik, dia menurunkan tas ransel dari punggungnya.

“Ini isinya pakaian saya bu. Murah aja bu, lima belas ribu. Saya jual buat bayar utang ibu saya”, ucapnya lirih sambil mermbuka resleting tas. Kalimatnya yang terakhir, meskipun lirih, membuatku terkesima. Bayar utang ibu?  Maksudnya?

“Sebenarnya saya malu, tapi ibu harus bayar utang yang mau ditagih entar malam. Jadi ibu nyuruh saya jual pakaian ini, siapa tahu laku, ”katanya lagi, sambil mengeluarkan salah satu baju dari ranselnya. Baju kotak-kotak kuning-hijau yang tampak tidak lusuh, tapi juga tidak baru.

Seketika aku disergap rasa haru. Naluri keibuanku terusik. Terbayang kesulitan ibu itu dan kebingungannya agar dapat segera mengumpulkan uang demi membayar  hutang. Kulihat ada sekitar 6-6 baju dalam tasnya.

“Ini baju-baju kamu?”

“Yang celana jins ini punya adik saya bu. Yang ini sepuluh ribu saja, sambil menunjuk sehelai celana jin anak-anak yang tampak sudah cukup lama dan pudar warnanya.

Menghela nafas, kuberanikan bertanya, “Ibu memang utang buat apa dek? Berapa jumlahnya?”

“Utang sembako bu, buat makan. Delapan puluh ribu dan harus dikembalikan malam ini”

Innalilahi, hutang sembako? Hutang supaya bisa makan, dan tak ada bayangan untuk mengembalikan uang meski seharga delapan puluh ribu? Langsung terbayang betapa sulitnya kehidupan mereka, sampai anaknya harus jualan bajunya sendiri.

“Rumahmu dimana?”

“Dekat pasar Parung, Bu”

Kuambil salah satu baju dalam tasnya. Kulihat-lihat sebentar. Kubuka dompetku, kuangsurkan uang duapuluh ribuan.

“Ini, untuk ibumu. Tapi bajunya saya masukkan lagi ya. Dijual lagi aja”.

Dia melongo, ”Terima kasih bu. Semoga ibu dan keluarga selalu dilapangkan rizkinya”, jawabnya spontan.

“Amiin, semoga hutang ibu segera lunas yaa”, balasku, hampir menitikkan air mata.

Dia mengangguk senang, lalu berjalan lagi, menjauh. Aku meneruskan berjalan kaki ke rumah, diiringi mata yang mulai membasah. Ya Rabb, kubayangkan betapa sulit hidup mereka, ibu dan anak-beranak itu. Entah di mana bapaknya.

Meskipun di jaman ini banyak penipuan berkedok macam-macam, tapi aku haqqul yakin anak itu tidak bohong. Ucapannya yang malu-malu, sangat ragu, tak percaya diri, dan doa tulusnya…, rasanya tak mungkin dia penipu.

Ah, andaipun dia penipu, bukankah itu menjadi tangungannya? Sementara pahala insya Allah tak tertukar. Aku mendapatkan  apa yang kuusahakan, dan dia juga mendapat yang dia usahakan. Tapi sungguh, dalam hal ini, dengan mata hatiku, aku yakin dia tidak menipu.

Peristiwa sore itu begitu membekas dalam hatiku. Kupikir dan kupikir hingga malam. Lalu tiba pada penyesalan, kenapa tak kuberikan saja uang delapan puluh ribu untuk membayar seluruh utang ibunya?  Bukankah bagiku uang segitu untuk makan sekeluarga sekali makan saja juga habis, bahkan kadang kurang? Bukankah uang dalam dompetku waktu itu ada seratus ribuan? Kenapa aku hanya memilih yang lembar duapuluh ribuan?

Sore ini, sebelum pulang kantor, sungguh aku berharap dapat bertemu anak itu lagi. Entah di mana, aku tak tahu. Ingin kutanyakan apakah hutangnya sudah lunas. Ingin kutanyakan apakah dia, ibu dan adik-adiknya sudah makan dengan kenyang hari ini. Sungguh aku ingin bertemu. Tersebab dari doa-doa seperti dialah, aku dan keluarga Alhamdulillah selalu dilapangkan rizki-Nya.

Duhai bocah, engkau harus kucari kemana?

Iklan

3 comments on “RIZKI dari BOCAH PENJUAL BAJU SEKEN

  1. mutsaqqif
    Januari 18, 2013

    😥

  2. indra kurniawan
    April 5, 2013

    aku trenyuh.membaca kejujuran dari 2 org diatas………

    • muktiberbagi
      April 5, 2013

      dan yang kayak gitu banyak ya par, di sekitar kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 18, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: