berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Surat untuk Ananda

Image

Tangerang, 12 januari 2013

Hurin yang ibu sayangi dan cintai sepenuh hati
Maaf jika ibu lama membalas suratmu, karena memang ibu berencana akan mengirimkan surat ini saat kau balik ke asrama.

Ibu sangat sayang padamu kak, dan bangga denganmu karena kamu telah mencoba berbuat yang terbaik. Bagi ibu, yang penting kamu berbahagia, dan ayah ibu hanya bisa membantu mengupayakan jalan menuju bahagia itu, yang semoga juga engkau sukai dan akan membuatmu terus berbahagia.
Salah satu jalan itu adalah dengan mengajakmu masuk belajar di as-syifa ini. Meskipun ayah ibu tahu ini pilihan berat bagi kami, tapi semoga ini salah satu jalan terbaik untuk mencapai bahagiamu.

Maka ayah ibu senang melihatmu bisa tetap tersenyum, meski harus antre mandi jam 3 tiap hari, atau makan dengan lauk seadanya. TetapIah tersenyum, nduk. Ibarat pepatah, ini ‘berakit-rakit ke hulu’ dulu. Semoga suatu saat nanti kau akan merasakan manisnya nduk, setelah dari muda mengalami sendiri beratnya perjuangan hidup 🙂

Ibu tak berharap kau harus ranking satu, tapi ibu hanya berharap kau senantiasa menjadi muslimah shalihah yang menjaga akhlaq, tak lupa sholat lima waktu, menjaga adab pergaulan dengan orang lain, rajin belajar, dan makin mandiri saat jauh dari orang tua. Mengapa? Karena dari anak-anak yang sholeh-sholehahlah, ayah ibu berharap akan terus mendapatkan doa, terutama saat nanti ayah ibu tiada.
Dan ibu percaya, hurin chan-ku ini insya Allah bisa! 🙂

Jika ada kekuarangan disana-sini selama di as-syifa, percayalah suatu saat itu kelelahanmu, perjuanganmu menghafal Quran, dsb akan menjadi kenangan terindah dalam hidupmu.

Ini saja surat dari ibu. Tetap semangat ya kak. Ibu sayang kamu selalu, dan mendoakan yang terbaik untukmu. Selalu.

with love, ibu

Iklan

6 comments on “Surat untuk Ananda

  1. mutsaqqif
    Januari 14, 2013

    aku mau dibikinin surat kayak gini dheeeee….. 😀

  2. Lin
    Januari 14, 2013

    Ibuku memang tidak sekreatif ibunya Hurin-chan… tapi dulu saat di pesantren, surat-surat dari ibu yang ditulis manual pakai “pilot”, selalu menjadi penyemangat…. Semangat Kak Hurin…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 14, 2013 by in Neguneg.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: