berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

Serpihan Lisan, Jadilah Intan

Salah seorang tetanggaku yang sore lalu bertandang ke rumah, tiba-tiba nyeletuk, “Bu, waktu adek meninggal itu, yang melayat banyak banget lho. Bisnya sampai berderet-deret. Waah ibu kaya selebritis aja.”
Tersenyum kecut, aku menyahut, “Kurang tahu ya. Saya kan di dalam rumah aja. Mungkin teman-teman ayahnya.”

“Tapi kalau ingat adek itu, ya…Kelengahan sesaat ternyata bisa fatal akibatnya”, sambungnya.
Deg. Tiba-tiba aku ingin menangis, tapi kutahan. Paling tidak sampai ibu itu pulang. Ya. Memoriku berputar ke masa itu. Aku tahu selentingan suara tetangga pada saat kejadian. Kenapa begini, kenapa begitu.

Sungguh, kehilangan dia, putriku yang sedang lucu-lucunya dengan cara mendadak seperti itu, bagiku sudah sangat menyakitkan. Apalagi ditambah ucapan-ucapan yang seolah ‘menyalahkan’ aku, ibunya.

Sama seperti saat beberapa orang melayat dek Fahrin, dulu. Awalnya, aku bisa menjawab dengan lancar berbagai pertanyaan para pelayat, tetapi saat pertanyaan makin menukik:
“Ayolah mbak, ceritakan lengkapnya bagaimana?  Kan bisa jadi pembelajaran buat kami.”
“Tersedak?? Kenapa ibu tak segera tepuk-tepuk punggungnya waktu itu?”
“Yaah, kok ke rumah sakit kecil sih, harusnya kan ke rumah sakit besar yang lengkap peralatannya”
“Kenapa jalan-jalan ke Jogja, kan sehari sebelumnya hujan abu? Anak itu mungkin keracunan abu vulkanik.”

Subhanallah. Sudahlah, sudahlah. Bukankah andai dua hari dua malam aku bercerita pun, dia yang telah pergi takkan pernah kembali? Sedang aku sendiri hingga kini tak pernah tahu apa jawabannya:  “mengapa dia mendadak tiada?” Lalu bagaimana aku harus menjelaskan satu-persatu pada yang menanyaiku?

Bahkan ada yang di malam musibah itu, seorang kerabat menelponku. Dia mungkin belum pernah ke rumahku, dan mungkin nyasar. “Telponnya kok dari tadi tidak diangkat sih? Aku dah telpon bolak-balik. Ini terus kemana ya, kayaknya nyasar.”
Kaget rasanya. Apakah aku harus sesiaga itu menerima dan mengangkat tiap dering telpon yang masuk? Bahkan saat hatiku sendiri serasa belum percaya, benarkah Fahrin telah tiada? Bahkan aku baru saja menunaikan shalat Isya, sepulang membawa jenazah dari rumah sakit. Dengan cepat hape tersebut kuoper ke orang di sebelah, supaya menjelaskan rutenya. Karena lidahku kelu rasanya untuk menjelaskan.

Maka, kadang rasa simpati, namun bercampur rasa ingin tahu yang sangat, tanpa sadar justru dapat menoreh luka bagi orang lain. Ada saatnya kita memang benar-benar lebih baik diam, atau lebih utama tentunya mendoakan. Bisa dibarengi dengan ungkapan empati memeluk, menggenggam tangannya, itu cukup. Sungguh ini pembelajaran berharga buatku sendiri, terutama dalam menyikapi kedukaan orang lain.

Image

Iklan

3 comments on “Serpihan Lisan, Jadilah Intan

  1. Ping-balik: Diam, Seringkali Lebih Menenteramkan | berbagi cinta & makna

  2. tatiek kusumo
    Februari 20, 2014

    Bagus, dan sgt bermanfaat.

    • muktiberbagi
      Februari 21, 2014

      makasih mba tatiek. kita biasanya lebih banyak paham setelah ngalami sendiri 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 11, 2013 by in agama, inspirasi and tagged , , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.597 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: