berbagi cinta & makna

berbagi, berlari, hingga ajal menjemput diri

SAAT KEJUJURAN MENJADI BARANG LANGKA

Namanya Pak Ayub, seorang abdi negara di sebuah instansi yang masyarakat umum menjulukinya sebagai kantor yang ’basah’. Instansinya adalah sebuah departemen yang mengurusi bea masuk dan bea keluar dari arus impor dan ekspor di negeri ini. Dia bekerja di kantor tersebut sudah hampir dua puluh tahun, sejak dia lulus dari sebuah sekolah tinggi kedinanasan yang mengharuskannya untuk mengabdi di kantor tersebut selepas kuliah.

Berbeda dengan bayangan banyak orang, gaya hidup pak Ayub justru sangat sederhana. Meskipun memang ada beberapa teman seangkatannya yang begitu bekerja langsung mulai menumpuk kekayaan, membeli rumah dan mobil. Tapi tidak dengan pak Ayub. Hingga delapan tahun bekerja, dia masih menjadi ’kontraktor’ beserta istri dan anaknya. Pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain di daerah sekitar kantor untuk menghemat biaya perjalanan.

Pak Ayub tak mau menyalahgunakan kedudukan dan tugasnya untuk ’menyabet’ uang ke sana ke mari, meskipun kesempatan untuk itu terbuka lebar. Bahkan sering dia harus agak ngotot menolak ’amplop’ dari berbagai perusahaan yang datang ke kantornya untuk konsultasi tentang permasalahan impor atau ekspor.
“Pak, ini sudah menjadi tugas saya sebagai pegawai di sini. Saya akan membantu Bapak semampu saya bisa. Tapi ini amplopnya saya kembalikan lagi dan tolong sampaikan pada atasan Bapak, terima kasih. Saya sudah mendapat gaji dari kantor,” kalimat itu yang sering diucapkan Pak Ayub saat ada orang yang menyodorkan amplop.
Biasanya, utusan dari perusahaan itu akan malu hati dan meminta maaf lalu mengambil amplopnya lagi. Duh, apakah ini sudah menjadi tradisi, sehingga setiap bantuan jasa pelayanan pada publik harus mendapatkan imbalan tersendiri?

Ada juga kejadian lain. Suatu hari, ada seorang bapak kolega dari direktorat lain tapi masih dalam satu departemen, datang pada Pak Ayub meminta bantuan masalah program komputer. Si bapak yang jabatannya sudah lumayan tinggi itu terkesan memburu-buru Pak Ayub untuk menyelesaikan pekerjaannya, hingga Pak Ayub merasa kurang nyaman, karena sebenarnya pekerjaan yang lain masih banyak. Tapi si bapak tetap menunggui di dekatnya hingga sore hari, bahkan berencana akan datang lagi esok hari. Saat sore itu Pak Ayub mengantarkan si bapak ke pintu keluar ruangan, si bapak pejabat berkata, ”Maaf Pak Ayub, saya memang perlu cepat data-data ini. Semoga besok bisa selesai semuanya. Tapi jangan kuatir Pak, nanti ada kok bagian untuk Pak Ayub, lumayanlah besarnya”.

Dengan gayanya yang tenang, pak Ayub menjawab, ”Pak, kalau memang bisa saya selesaikan hari ini, akan saya kerjakan. Tapi bukan karena imbalan yang Bapak tawarkan, melainkan karena ini memang pekerjaan saya. Kalau Bapak berniat memberikan imbalan seperti itu, maaf, justru besok saya gak akan bantu Bapak lagi”.
Si bapak pejabat kaget, dan buru-buru meminta maaf. Jelas saja dia tak enak hati sekaligus khawatir, karena pekerjaanya terancam berantakan jika pak Ayub terlanjur tersinggung.

Setelah delapan tahun bekerja di instansi tersebut, Pak Ayub baru mampu membeli rumah. Hanya sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar, di pinggir gang sempit dan tidak dapat dilalui mobil. Itu pun pelunasan rumahnya masih harus meminjam dari bank. Terbiasa dengan kontrakan yang mungil, rumah sedehana itu jadi terasa sangat lapang. Maklum, perlengkapan rumah tangga yang dimilikinya sangat sedikit. Ruang tamu hanya berisi satu set kursi tamu tua dan lemari buku. Kursi tamu itu pun adalah kursi tamu rotan warisan dari nenek yang dibawa dari kampung. Di ruang tengah, terdapat sebuah meja makan yang terlihat jelas buatan tukang kayu amatiran, dengan dikelilingi kursi-kursi plastik yang sering terdapat di warung bakso. Di ujung ruangan tampak sebuah lemari jati pendek yang sudah tua dan di atasnya ada televisi layar cembung berwarna tujuh belas inchi. Tidak ada perlengkapan lagi di ruang tengah itu. Benar-benar terkesan lengang, melompong.

Pernah, salah seorang pasangan suami istri tetangga baru yang jauh lebih muda, datang berkunjung ingin berkenalan. Sebut saja namanya Doni dan Lia. Doni tampak terheran-heran dengan kondisi rumah Pak Ayub, karena dari Lia, dia sudah mendapatkan informasi bahwa Pak Ayub bekerja di B**c**a* yang menurut orang lumayan basah. Tapi keheranan itu hanya disimpannya dalam hati, hingga sesampai di rumahnya, dia mengungkapkannya pada Lia, ”Dik, kok rumah Pak Ayub sederhana banget ya? Hampir-hampir agak ada isinya, kosong aja”.
”Memangnya kenapa, Mas?” tanya Lia, masih tak paham arah pembicaraan suaminya.
”Ya kan dia kerja di B**c**a*, sudah sarjana pula. Kok beda banget dengan Mas Banu sepupu kita itu yang kerja di sana juga, seusia Pak Ayub juga tapi Mas Banu kan cuma lulusan SMA. Tapi rumahnya… dik Lia kan tahu sendiri kayak mana mewahnya rumah Mas Banu.”
”Iya ya Mas? Berarti itu karena Pak Ayub sangat jujur Insya Allah. Makanya gak salah kalau Mas Doni berteman dengan Pak Ayub,” jawab Lia diplomatis.

Obrolan antara Lia dan suaminya ini sampai juga ke telinga Bu Ayub, yang lalu oleh Bu Ayub diteruskan ke Pak Ayub. Dengan geli, Pak Ayub menjawab, ”Justru karena Ayah kerja di sana, makanya kehidupan kita sederhana begini. Kan Ayah pegawai negeri, bukan pengusaha”.
Bu Ayub hanya manggut-manggut. Pak Ayub melanjutan bicara lagi sambil bergurau, ”Tapi memang di kantor Ayah sih ada dua bagian, Dik. Pertama bagian mata air, kedua bagian air mata. Nah, Ayah memilih yang bagian air mata. Resikonya hidup pas-pasan, tapi hati tenang.”
Halah, ada-ada saja bikin istilah 😀

Begitulah. Bekerja di instansi yanng satu itu memang membutuhkan ketahanan mental dan kekuatan iman tersendiri. Jika mau, uang beratus juta bisa datang sendiri dari para klien berbagai perusahaan. Mereka juga merasa memberikan ’tips’ (tapi nilainya bisa ratusan ribu atau jutaan) adalah hal yang biasa. Tapi, apakah ini tidak melanggar aturan? Jelas, ini pelanggaran, dari segi hukum positif, apalagi agama.

Ada lagi peristiwa yang biasa terjadi menjelang lebaran. Banyak perusahaan yang menanyakan alamat rumah pada Pak Ayub. Untuk apa? Tentu saja untuk mengirim parsel lebaran. Pak Ayub tak pernah berani memberikan alamat rumahnya, karena dia sudah tahu tujuannya untuk apa. Tapi, ada juga perusahaan yang gigih, mungkin bertanya pada staf atau temannya. Tahu-tahu, pernah di rumah Pak Ayub terdapat kiriman parsel. Isinya sambal dan udang, bukan sesuatu yang istimewa sebetulnya. Dalam parsel tersebut jelas tertera siapa pengirimnya. Sebut saja Bu Lita, salah seorang direktur IT pada perusahan ternama. Segera Pak Ayub berkirim sms pada Bu Lita, ”Bu, terima kasih untuk kiriman parselnya. Tapi mohon, lain kali tidak usah ya Bu. Membantu perusahaan ibu untuk kelancaran ekspor sudah menjadi tugas saya. Tolong bantu saya Bu, agar saya juga merasa nyaman bekerja.”
Syukurlah, Bu Lita tidak marah. Dia membalas sms Pak Ayub itu, ”Kembali, Pak. Maaf jika kiriman saya itu merepotkan. Saya sangat tahu prinsip dan dedikasi bapak, dan I’m very appreciate for that”.

Tetapi, kadang tak semulus itu untuk menegakkan prinsip. Ada juga yang ketika Pak Ayub mengemukakakan prinsipnya, utusan dari perusahaan tersebut justru ketakutan, dan meminta dengan sangat supaya paket diterima karena dia akan dimarahi atasannya jika gagal memberikan. Untuk yang seperti ini, terpaksa akhirnya paket diterima, dan isi paket dibuka ramai-ramai di kantor untuk anak buah Pak Ayub.

Mungkin memang kesan orang terhadap instansi tempat pak Ayub bekerja sudah terlanjur ’kotor’. Pernah suatu hari, ada salah seorang utusan dari lembaga swadaya masyarakat yang sedang mengurus impor kornet. Tanpaknya ada masalah sehingga kornet berton-ton itu tidak dapat dikeluarkan dari pelabuhan. Saat menghadap Pak Ayub, orang tersebut ditelpon, mungkin oleh atasannya dan Pak Ayub jelas-jelas mendengar ucapan di ujung telepon, ”Sudah, kasih aja uang berapa ratus ribu gitu ke petugasnya, biar kornet kita segera lolos dari pelabuhan. Biasalah itu ditunda-tunda karena minta uang”.

Kontan Pak Ayub terkejut, dan tentu agak tersinggung sebenarnya. Tapi dengan menahan perasaan, dia mencoba menjelaskan, ”Pak, mungkin sewaktu belum ada pembenahan dulu, memberi uang seperti itu agar barang impor cepat keluar bisa Bapak lakukan. Tapi sekarang instansi kami sudah melakukan pembenahan besar-besaran Pak, dan saya juga akan taat pada aturan. Dokumen dari lembaga Bapak memang ada yang belum lengkap, itu yang menyebabkan kornet tidak dapat segera dikeluarkan. Saya akan bantu Bapak untuk mengecek dokumen mana saja yang perlu dilengkapi. Sampaikan salam saya untuk atasan Bapak itu ya”.
Kontan orang tersebut wajahnya merah padam, dan buru-buru meminta maaf.

Apakah orang-orang seperti Pak Ayub banyak jumlahnya? Banyak! Mereka tetap teguh dalam prinsip, tak bergeming dengan harta yang ada di depan mata, meskipun secara umum kesan orang luar adalah instansi tersebut kental dengan penyuapan. Banyak cerita yang lebih dahsyat tentang upaya penegakan kejujuran di kantor tersebut. Sayang kisah nyata itu kadang langsung tertiup angin begitu saja, apalagi jika lalu ditemukan ada salah seorang di antara mereka melakukan pelanggaran dan masuk berita nasional. Kasus Gayus misalnya, sungguh telah meluluhlantakkan apa yang telah dirintis oleh Pak Ayub dan teman-temannya.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang seperti Gayus masih ada. Tapi orang-orang seperti Pak Ayub juga banyak. Sayangnya, hal yang busuk memang lebih cepat tercium dan umumnya langsung dilakukan generalisasi bahwa instansi tersebut busuk. Menyedihkan.

Untuk sedikit menyemangati Pak Ayub dan anak buahnya, Bu Ayub yang suka menulis puisi pernah membuatkan sedikit tulisan di bawah foto Pak Ayub dan stafnya. Tulisan tersebut lalu dipajang di pintu depan ruangan kerja mereka. Begini isi tulisan tersebut.

Aku mengagumi kalian
para pejuang per b**c**a*an
meski kadang hujatan datang
Tetaplah berjalan tegap
dengan kejujuran dan keikhlasan

Biarkan saja
Jika ada orang berkata, “Kerja di b**c**a*? Waa, basah doong…”
(Ya iyalah basah, wong kerjanya dekat pelabuhan tanjung priok. Banyak air laut. Week)

Sungguh, tak semua orang tahu
kalian kerja berlelah-lelah
tidak (melulu) berharap pada segepok kertas merah
atau kiriman mobil mewah
Bahkan acapkali menginap di kantor
atau rela ditelpon tengah malam
lalu segera berangkat ke lapangan
seperti polisi jaga 24 jam

Sungguh, mereka tak tahu
banyak diantara kalian
dengan berpuluh tahun masa pengabdian
yang masih tinggal di kontrakan
rumah tak terbeli dari gaji bulanan

mungkin
ada juga kawan yang terpeleset
tapi bukan berarti semua terpeleset
dan pada dia yang memanfaatkan wewenang
mari sama kita ingatkan 🙂

Hmm, jadi ingat
saking orang terlalu ‘husnuzon’ dengan instansi kalian
(kerja di sana pasti kaya, pasti basah)
Ada yang sangat tak suka kalau ditanya: di mana kerja?
Jawabnya pasti muter-muter: di Priok, di Jakarta Utara,. dll
pakai seragam pun akan ditutupi jaket
“takut dikira orang b**c**a*, ” katanya
(lho? kan memang orang b**c**a*, Mas? He)
Yuk ah, semangadd bekerja !
uang terbakar

Iklan

5 comments on “SAAT KEJUJURAN MENJADI BARANG LANGKA

  1. namidamara
    Desember 20, 2012

    Salam kenal bu

  2. edwinhayadi
    Desember 20, 2012

    seringnya emang begitu bu,
    kita ngasih pelayanan prima, eh dikira kita melakukan itu karena mau minta tambahan
    pas nolak, eh dikira kita minta nambah
    aneh kadang2 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 20, 2012 by in Curahan Hati.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 5.623 pengikut lainnya

My Posts

%d blogger menyukai ini: